Rusia Siap Pasok Minyak ke Indonesia

oleh
banner 468x60

Jakarta, Pelita Baru

Ditengah ketidakpastiaan global, Rusia secara terbuka menyatakan kesiapan memasok minyak ke Indonesia, termasuk ke Pertamina. Menariknya, tawaran ini datang, usai Kremlin menolak mekanisme batas harga yang diterapkan G7, Uni Eropa, dan Australia.

banner 336x280

Dimana dalam skema itu, perusahaan diperbolehkan mengangkut atau mengasuransikan minyak Rusia jika dijual di bawah 60 dolar AS per barel. Bagi negara ‘Beruang Biru’, hal ini dianggap sebagai tindakan “anti-pasar” yang merusak rantai pasok global.

Karena itu, negara yang dikomandoi Vladimir Putin ini memilih mengalihkan pasar mereka ke Asia, termasuk Indonesia yang kini juga mengalami ancaman pasokan energi seiring dengan memanasnya konflik Amerika Serikat dan Israel dengan Iran yang berdampak pada ancaman penutupan Selat Hormuz, jalur vital bagi kapal tanker minyak dunia.

“Jadi, silakan hubungi kami, sampaikan kebutuhan Anda, dan kita akan diskusikan bagaimana hal itu dapat diwujudkan,” kata Duta Besar Rusia untuk Indonesia, Sergei Tolchenov, saat berkunjung ke di kawasan Pelabuhan Tanjung Priok pada 31 Maret 2026 lalu.

Dubes Rusia juga menegaskan bahwa penawaran ini tidak hanya berlaku untuk negara sahabat. Rusia juga bersedia memasok minyak dan gas kepada negara-negara yang secara politik dianggap ‘tidak bersahabat’, seperti negara di Eropa Barat, asalkan mereka memiliki minat dan siap bekerja sama berdasarkan kontrak jangka panjang.

“Jika mereka memiliki minat dan siap bekerja sama berdasarkan kontrak jangka panjang, kami juga bersedia memasok dan menjual minyak dan gas kepada mereka. Ini pada dasarnya adalah persoalan kebutuhan dan keinginan untuk bekerja sama dengan Rusia. Kami tidak pernah menolak siapa pun,” jelasnya.

Sementara itu, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyebut cadangan minyak Indonesia dalam taraf minimal standar nasional di tengah gejolak geopolitik global saat ini.

“Cadangan minyak kita, storage (penyimpanan)-nya itu kan minimal 21 sampai 24 hari. Tetapi itu kan dia datang dan berganti terus. Jadi hari ini ada yang keluar, 3 hari nanti ada yang masuk lagi,” ucapnya belum lama ini.

Terkait pasokan energi, Bahlil menyatakan pemerintah memastikan akan berupaya menjaga ketersediaan energi nasional. Bahlil juga memastikan ketersediaan energi nasional terpenuhi dengan baik meski di kondisi global saat ini bergejolak di tengah konflik antara Iran dengan Amerika Serikat (AS)-Israel.

“Insyaallah pemerintah akan menjaga tentang pasokan energi, kemudian cadangan energi kita, dan harga,” ujarnya.

Telepas dari itu, yang pasti, bagi Indonesia sendiri, tawaran Rusia ini bisa menjadi opsi alternatif ditengah kebutuhan akan sumber pasokan alternatif yang semakin mendesak. Terlebih, dalam sebulan terakhir, harga minyak global dilaporkan melonjak tajam, bahkan menembus kenaikan lebih dari 50 persen akibat konflik dan gangguan pasokan.

Karenanya, dengan mempertimbangkan berbagai aspek, baik dari sisi keamanan pasokan maupun pertimbangan geopolitik dan ekonomi, tawaran dari Rusia membawa implikasi signifikan bagi strategi energi Indonesia.

Dari sisi ekonomi, Indonesia perlu mengevaluasi harga, skema pembayaran, dan potensi kontrak jangka panjang yang ditawarkan Rusia. Kontrak jangka panjang dapat memberikan stabilitas harga yang dibutuhkan.

Sementara itu, dari sisi geopolitik, langkah ini perlu dipertimbangkan dalam konteks hubungan internasional Indonesia. Keseimbangan dalam diplomasi energi menjadi kunci untuk menjaga kepentingan nasional.

Untuk menindaklanjuti tawaran ini, Indonesia tentunya perlu melakukan serangkaian langkah strategis. Proses ini harus melibatkan berbagai pihak terkait. Tujuannya adalah untuk mencapai keputusan yang paling menguntungkan bagi kepentingan bangsa. (fuz/*)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *