Jakarta, Pelita Baru
Kementerian Luar Negeri mengatakan telah menerima temuan awal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) terkait penyebab gugurnya tiga personel Indonesia yang tergabung dalam misi United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL). Sebagai respons, pemerintah mendesak PBB untuk segera menuntaskan investigasi secara menyeluruh.
Plt Direktur Keamanan dan Perdamaian Internasional Kementerian Luar Negeri Veronika Vika Rompis mengatakan bahwa pemerintah menerima temuan awal tersebut pada Senin (6/4) dari United Nations Department of Peace Operations (UNDPO). Dalam laporan tersebut, UNDPO memberikan penjelasan awal mengenai insiden yang menyebabkan gugurnya tiga personel Indonesia di Lebanon pada 29 dan 30 Maret 2026.
“Pemerintah Indonesia telah mencatat hasil investigasi tersebut dan meminta agar PBB dapat menuntaskan investigasi secara menyeluruh,” ujar Vika, dilansir Kamis (9/4/2026).
Sebelumnya, pada Selasa (7/4), Juru Bicara PBB Stephane Dujarric mengumumkan temuan awal terkait gugurnya tiga personel Indonesia, yakni Praka Farizal Rhomadon, Sertu Muhammad Nur Ichwan, dan Kapten Inf Zulfi Aditya Iskandar, dalam dua serangan terpisah.
Ia menyebutkan bahwa berdasarkan analisis dan bukti awal PBB, serangan 29 Maret yang menyebabkan gugurnya Praka Farizal diduga berasal dari proyektil yang merupakan amunisi utama tank Merkava milik Angkatan Pertahanan Israel (IDF).
Sementara itu, berdasarkan analisis awal lokasi ledakan, bukti awal, dan kendaraan yang terdampak, serangan 30 Maret yang menewaskan Sertu Ichwan dan Kapten Inf Zulfi diduga disebabkan oleh alat peledak improvisasi (IED) yang kemungkinan besar dipasang oleh Hizbullah.
Menanggapi temuan awal ini, Vika mengatakan bahwa pemerintah terus mendesak semua pihak terkait untuk menyelidiki dan mengadili para pelaku, serta memastikan akuntabilitas atas kejahatan terhadap personel pemelihara perdamaian.
“Dan kita juga mendukung agar UNIFIL dapat menyampaikan protes secara resmi kepada para pihak yang terkait,” tegasnya.
Lebih lanjut, Vika mengatakan bahwa jika temuan awal ini nantinya sudah terkonfirmasi, maka Indonesia akan mengutuk keras Israel atas tindakan yang telah menggugurkan dan melukai personel TNI yang bertugas di Lebanon.
Dalam hal ini, Indonesia berpandangan bahwa serangan Israel di Lebanon selatan dianggap telah melemahkan pelaksanaan mandat UNIFIL, sebagaimana diatur dalam Resolusi Dewan Keamanan 1701 terkait terkait gencatan senjata antara Israel dan Hizbullah.
“Semua tindakan yang membahayakan para personel pemelihara perdamaian ini merupakan pelanggaran yang serius terhadap hukum internasional dan tidak boleh dibiarkan terus-menerus,” pungkasnya.
Sementara itu, pengamat militer dan intelijen Susaningtyas Nefo Handayani Kertopati menuturkan, serangan Israel terhadap pasukan UNIFIL di Lebanon Selatan melanggar hukum humaniter internasional, Resolusi Dewan Keamanan PBB 1701 (2006), dan prinsip perlindungan personel PBB.
Selain itu, ia menjelaskan, dalam hukum humaniter internasional, serangan terhadap personel penjaga perdamaian PBB yang tidak terlibat konflk merupakan pelanggaran serius, seperti ditegaskan oleh Sekjen PBB.
Perempuan yang akrab disapa Nuning ini menyebut serangan langsung maupun tidak langsung yang merusak fasilitas PBB dan melukai personel termasuk Kontingen Garuda TNI merupakan pelanggaran terhadap keselamatan pasukan penjaga perdamaian. “Pihak TNI harus meminta perlindungan lebih jauh terhadap pasukan TNI UNIFIL agar tak terjadi pelanggaran dari pihak manapun terhadap segala ketentuan yang telah disepakati bersama PBB,” ucapnya.
Untuk itu, ia mendesak agar dilakukan investigasi secara transpasan sehingga tidak merugikan pihak Indonesia.
Senada, pengamat terorisme dan Timur Tengah Islah Bahrawi melontarkan kritik terhadap pemerintah Indonesia. Ia menyebut posisi diplomasi pemerintah Indonesia di tengah konflik Israel, Lebanon, dan Iran masih abu-abu atau tidak jelas. Islah menilai, jatuhnya korban dari personel TNI menunjukkan adanya kelemahan dalam proses analisis dan pemetaan konflik oleh pemerintah.
“Ini terjadi karena begitu lemahnya analisis dari bangsa kita, pemerintahan kita, terhadap pemetaan, mapping, profiling, daneliciting processdari apa yang terjadi di Lebanon,” kata Islah.
Saat ini, menurut Islah, Indonesia tidak berada dalam posisi tegak dalam konflik Timur Tengah. Sehingga hal ini berdampak pada keselamatan prajurit di lapangan dan wibawa Indonesia di mata internasional.
“Pemerintah kita hari inistanding position-nya nggak jelas. Eitherdia menolak perang atau dia mendukung perang kannggakjelas. Sejak awal Iran diserang Amerika, kita tidak memberikan kutukan, tidak bereaksi sama sekali,” tegasnya.
Ia juga menyayangkan sikap pemerintah yang cenderung hanya mengutuk serangan secara retoris tanpa berani menunjuk pihak yang bertanggung jawab secara langsung.
“Seharusnya langsungdirectsaja ke Israel. Mengutuk Israel atas serangan terhadap posko pasukan perdamaian kita yang ada di Lebanon. Jangan terlalu bermain retorika seolah-olah mengutuk serangannya saja, tapi langsungwell-definedkepada Israel,” imbuhnya.
Insiden serangan terhadap UNIFIL juga mendapat sorotan dari pengamat hubungan internasional dari Universitas Padjadjaran Teuku Rezasyah. Menurutnya, pemerintah Indonesia harus melakukan evaluasi serius, khususnya terkait kebijakan pengiriman pasukan perdamaian ke luar negeri, menyusul gugurnya prajurit TNI.
“Wafatnya anggota TNI dalam aksi biadab Israel ini hendaknya menyadarkan pemerintah dan rakyat Indonesia, untuk secara sunghuh-sungguh mengkaji ulang pengiriman pasukan perdamaian dalam kerangka International Stabilization Force (ISF),” tambah Reza.
Kondisi psikologis pasukan Israel yang terlibat konflik berkepanjangan juga tak luput dari sorotan. Reza menduga hal ini dapat memengaruhi tindakan di lapangan. Semakin lama konflik berlangsung, menurut Reza, risiko tekanan psikologis di kalangan militer Israel akan meningkat.
“Dengan demikian, potensi penyimpangan prosedur di lapangan sangat mungkin terulang kembali,” ucap Reza.
“Semakin lama perang dengan Iran berlangsung, akan semakin banyak terjadi masalah psikologis di kalangan tantara Israel di semua tingkatan,” tandasnya. (fex/*)












