Jakarta, Pelita Baru
Presiden Prabowo Subianto dijadwalkan akan bertemu Presiden Rusia Vladimir Putin, pekan ini. Pertemuan ini dikabarkan Menteri Luar Negeri (Menlu) RI, Sugiono di Jakarta, pada Sabtu (11/4/2026).
Namun, Sugiono tidak merinci secara spesifik apa saja yang akan dibahas dua kepala negara itu. Yang pasti, Sugiono mengabarkan, Prabowo dan Putin membahas sejumlah hal di tengah dinamika global. Salah satunya, geopolitik dunia dan situasi energi.
“Berangkat (ke Rusia) minggu ini, dalam minggu ini. Salah satu yang beliau bicarakan juga itu karena ini merupakan sesuatu yang sifatnya strategis bagi bangsa Indonesia,” kata Sugiono.
Menariknya, pertemuan ini dikuatkan dengan tawaran Duta Besar Rusia untuk Indonesia, Sergei Tolchenov, soal kesediaan negaranya mengimpor minyak. Saat berkunjung ke di kawasan Pelabuhan Tanjung Priok pada 31 Maret 2026 lalu, Tolchenov menegaskan bahwa penawaran ini tidak hanya berlaku untuk negara sahabat.
Rusia juga bersedia memasok minyak dan gas kepada negara-negara yang secara politik dianggap ‘tidak bersahabat’, seperti negara di Eropa Barat, asalkan mereka memiliki minat dan siap bekerja sama berdasarkan kontrak jangka panjang.
Terlepas dari itu, Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya membenarkan jika Presiden Prabowo akan melakukan kunjungan kerja ke Rusia dalam waktu dekat. “Ya ada rencana demikian (ke Rusia), tapi untuk pastinya nanti Kementerian Luar Negeri akan menyampaikan,” kata Teddy.
Menurut dia, ada beberapa negara yang sudah menjalin kerja sama dengan Indonesia. Teddy mencotohkan kunjungan Prabowo ke Jepang yang menghasilkan kesepakatan terkait minyak.
“Ada beberapa negara yang tentunya sudah kerja sama. Contoh kemarin Bapak Presiden baru kembali dari Jepang dan mungkin Pak Menteri ESDM sudah menyampaikan juga ya, ada kesepakatan terkait minyak dengan Jepang ya,” jelasnya.
Sebelumnya, Indonesia dan Rusia sendiri telah sepakat untuk memperkuat hubungan strategis di bidang infrastruktur dan konektivitas kemaritiman melalui penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) yang digelar di Jakarta, Kamis (6/11/2025). Kesepakatan ini ditandatangani oleh Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), bersama Ketua Dewan Maritim Federasi Rusia yang juga Penasehat Presiden Federasi Rusia, Nikolai Patrushev.
Menko Infra, AHY menyebut penandatanganan ini menandai babak baru hubungan kedua negara yang telah terjalin selama 75 tahun.
“Hari ini kita membuka babak baru dalam hubungan antara Indonesia dan Rusia. Persahabatan ini menjadi fondasi kokoh yang akan membawa kedua negara berlayar bersama menuju kemakmuran dan perdamaian dunia,” ujar Menko AHY.
Ia menegaskan, kerja sama ini sejalan dengan visi besar Presiden Prabowo Subianto menuju Indonesia Maju 2045, di mana penguatan sektor maritim menjadi salah satu pilar pembangunan ekonomi nasional.
“Presiden Prabowo menekankan pentingnya pengembangan sektor maritim sebagai tulang punggung logistik nasional, termasuk memperkuat jaringan tol laut dan meningkatkan kapasitas pelabuhan utama,” kata Menko AHY.
Menko AHY juga menyoroti pentingnya transformasi menuju pelabuhan hijau dan ramah lingkungan sebagai arah baru pembangunan maritim Indonesia.
“Transformasi menuju pelabuhan hijau bukan hanya meningkatkan efisiensi logistik, melainkan juga memperkuat konektivitas dari Aceh hingga Papua. Inisiatif ini akan menjadi motor penggerak pertumbuhan ekonomi berkelanjutan,” ucapnya.
Ketua Dewan Maritim Federasi Rusia yang juga Penasehat Presiden Federasi Rusia, Nikolai Patrushev, menjelaskan bahwa pertemuan bilateral ini membahas sejumlah agenda penting di bidang kemaritiman, mulai dari pengembangan perkapalan, pelabuhan, hingga peningkatan kapasitas sumber daya manusia maritim sipil.
“Hari ini kami menjalankan konsultasi internasional yang berkaitan dengan pengembangan kerja sama dua negara di bidang kemaritiman. Agenda kami mencakup isu-isu pengembangan bersama di bidang perkapalan, infrastruktur pelabuhan, pelayaran dagang, dan penguatan SDM maritim,” ujar Nikolai Patrushev.
Ia menambahkan bahwa Rusia memiliki pengalaman panjang dalam industri kelautan, teknologi maritim, dan logistik yang siap dibagikan kepada Indonesia.
“Rusia memiliki pengalaman besar di bidang industri, ilmu pengetahuan, dan teknologi kelautan. Kami siap berbagi pengalaman dan bekerja sama untuk memperkuat ekonomi maritim yang kompetitif di tingkat regional maupun global,” katanya.
Patrushev juga menyampaikan bahwa Dewan Maritim Federasi Rusia dibentuk berdasarkan keputusan Presiden Vladimir Putin dan memiliki mandat strategis untuk mengoordinasikan kebijakan nasional di sektor kemaritiman.
“Salah satu tugas utama Dewan Maritim Federasi Rusia adalah pengembangan industri perkapalan, penelitian dan inovasi teknologi laut, serta infrastruktur pelabuhan,” ujarnya. (fuz/*)












