Purbaya Optimis Ekonomi Indonesia Membaik

oleh
Purbaya Yudhi Sadewa
banner 468x60

Jakarta, Pelita Baru

Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan keyakinannya terhadap prospek perekonomian Indonesia di tengah ketidakpastian global yang masih membayangi.
Menkeu, menilai volatilitas global saat ini relatif rendah, meski ruang peningkatan pertumbuhan ekonomi dunia masih terbatas.

banner 336x280

Untuk itu, Menkeu Purbaya menekankan bahwa faktor global bukan penentu utama kinerja ekonomi nasional. Sekitar 90 persen pertumbuhan ekonomi Indonesia ditopang oleh permintaan domestik, sementara kontribusi faktor global hanya berada di kisaran 10 hingga 20 persen. Dengan struktur tersebut, perlambatan ekonomi dunia seharusnya tidak menjadi alasan melemahnya kinerja ekonomi dalam negeri. “Kalau kita 90 persen domestic demand, global hanya sekitar 10 persen atau maksimal 15–20 persen. Selama permintaan domestik kuat, seharusnya tidak ada masalah,” ujar Menkeu dikutip Kamis (29/1/2026).

Dari sisi domestik, kondisi perekonomian Indonesia dinilai cukup solid. Inflasi tercatat rendah di kisaran 2,9 persen, dengan inflasi inti sekitar 2,3 persen. Bahkan, apabila komponen harga emas dikeluarkan, inflasi diperkirakan hanya sekitar 1,5 persen. Hal ini menunjukkan tekanan permintaan masih terkendali dan belum memicu risiko overheating ekonomi. “Artinya, permintaan masih relatif rendah dan belum terlihat tekanan inflasi inti. Dengan kondisi ini, saya melihat ruang untuk mendorong ekonomi tumbuh lebih cepat tanpa khawatir akan kenaikan suku bunga yang signifikan dari bank sentral,” jelas Menkeu.

Pertumbuhan ekonomi nasional juga menunjukkan tren positif. Dalam beberapa triwulan terakhir, pertumbuhan ekonomi berada di kisaran 5,0 hingga 5,4 persen. Menkeu menilai masih terdapat ruang untuk meningkatkan laju pertumbuhan tanpa menimbulkan tekanan inflasi maupun lonjakan suku bunga.

Untuk mendorong aktivitas ekonomi dan investasi, pemerintah mengandalkan strategi debottlenecking guna memperbaiki iklim usaha. Melalui forum rutin lintas kementerian, berbagai hambatan yang dihadapi pelaku usaha diharapkan dapat diselesaikan secara cepat dan terukur.

Seiring dengan perbaikan kinerja fiskal, optimalisasi penerimaan pajak dan bea cukai, serta pengendalian defisit anggaran, pemerintah optimistis perekonomian Indonesia dapat tumbuh secara berkelanjutan ke depan. “Saya optimistis terhadap prospek ekonomi dan pasar saham tahun ini. Jangan menunggu terlalu lama untuk berinvestasi atau memperluas ekspansi bisnis,” pungkas Menkeu Purbaya.

Sebelumnya, Purbaya menegaskan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap kuat dan mampu menjaga momentum positif ke depan, meskipun dihadapkan pada tekanan global dan moderasi harga komoditas.

Ia menyampaikan bahwa pertumbuhan ekonomi pada triwulan IV 2025 diprakirakan lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya. Peningkatan tersebut terutama ditopang oleh kenaikan permintaan domestik seiring membaiknya keyakinan pelaku ekonomi yang didukung stimulus kebijakan fiskal dan moneter.

“Pada triwulan IV 2025, sejumlah indikator ekonomi menunjukkan kinerja yang solid. Purchasing Manager’s Index (PMI) manufaktur berada di zona ekspansi berdasarkan survei S&P Global, penjualan ritel tumbuh positif, dan neraca perdagangan kembali mencatatkan surplus,” ujar Menkeu Purbaya.

Selain itu, penempatan kas negara di perbankan turut memperkuat likuiditas sistem keuangan. Kondisi tersebut tercermin dari pertumbuhan uang primer (M0) yang mencapai 11,4 persen secara tahunan (year on year/yoy) pada Desember 2025, sekaligus menekan biaya dana perbankan.

Pertumbuhan M0 yang tinggi tersebut, menurut Menkeu, dipengaruhi oleh koordinasi kebijakan fiskal dan moneter yang sejalan dengan ekspansi likuiditas bank sentral serta stimulus fiskal pemerintah pada akhir tahun.

Sementara itu, pertumbuhan uang beredar dalam arti luas (M2) pada Desember 2025 tercatat sebesar 9,6 persen yoy, yang antara lain dipengaruhi oleh perkembangan penyaluran kredit.

Dengan berbagai perkembangan tersebut, Purbaya memprakirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia secara keseluruhan pada 2025 berada di kisaran 5,2 persen. Adapun pada 2026, pertumbuhan ekonomi diproyeksikan meningkat menjadi 5,4 persen, sejalan dengan penguatan permintaan domestik serta sinergi kebijakan antara pemerintah dan lembaga anggota Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK).

Ke depan, pemerintah akan terus memperkuat investasi, antara lain melalui peran Danantara sebagai pengungkit investasi swasta, termasuk di sektor hilirisasi sumber daya alam (SDA). Selain itu, pemerintah juga mendorong penciptaan iklim investasi yang lebih kompetitif melalui pembentukan Satuan Tugas Percepatan Program Strategis Pemerintah (Satgas P2SP).

Di sisi pasar keuangan, kinerja pasar Surat Berharga Negara (SBN) menunjukkan perbaikan berkelanjutan pada triwulan IV 2025. Yield SBN tenor 10 tahun tercatat menurun menjadi 6,01 persen, dari posisi akhir 2024 yang masih berada di atas 7 persen. Penurunan tersebut mencerminkan meningkatnya kepercayaan investor terhadap instrumen pemerintah yang ditopang oleh pengelolaan fiskal yang prudent.

Di tengah tekanan global, Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tetap menjalankan peran strategis dalam meredam guncangan ekonomi melalui belanja negara yang efektif.

Dukungan APBN juga diperkuat melalui sinergi kebijakan bersama Bank Indonesia (BI), Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS).

Hingga akhir triwulan IV 2025, realisasi belanja negara mencapai Rp3.451,4 triliun atau 95,3 persen dari pagu APBN. Sementara itu, pendapatan negara tercatat sebesar Rp2.756,3 triliun atau 91,7 persen dari target APBN.

Dengan capaian tersebut, APBN mencatatkan defisit sebesar Rp695,1 triliun atau 2,92 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), dengan keseimbangan primer tercatat negatif sebesar Rp180,7 triliun. (din)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *