Prabowo ‘Emoh’ Indonesia Banyak Hutang

oleh
banner 468x60

Jakarta, Pelita Baru

Presiden Prabowo Subianto tak mau Indonesia menjadi negara penghutang. Hal itu ditegaskannya saat penutupan Muktamar ke – 35 Nahdlatul Ulama, di Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, Senin (31/8/2026).

banner 336x280

Karena itu pula, Prabowo mengaku menolak pinjaman yang ditawarkan lembaga keuangan dunia, International Monetary Fund (IMF). “Saya kira kemarin berapa bulan yang lalu kaget menteri keuangan kita di Washington DC ditawarin apa, pinjaman dari IMF kita tolak. Terima kasih, Indonesia masih bisa tanpa pinjaman dari IMF,” tuturnya.

Prabowo menegaskan bahwa pemerintahannya telah melakukan penghematan di berbagai bidang dengan nilai kurang lebih Rp 200 – 300 triliun tiap tahun. Uang ini nantinya akan digelontorkan sebesar-besarnya kepada program yang langsung menjangkau masyarakat.

“Ini yang kita pakai saudara-saudara. Dan kita sekarang berusaha tidak mau terlalu banyak pinjaman uang dari mana-mana,” kata Prabowo.

Bahkan jika memang dibutuhkan, Prabowo hanya mau melakukan pinjaman uang jika mendapat tawaran dengan bunga yang rendah. “Ajak investasi boleh, saudara-saudara. Kalau pinjam uang kita mau pinjam uang yang bunganya sekecil mungkin,” kata tutur Prabowo.

Pada kesempatan ini, Prabowo juga menegaskan bahwa strategi transformasi bangsa yang tengah dijalankan pemerintah berfokus pada upaya mengangkat sebanyak-banyaknya rakyat Indonesia keluar dari kemiskinan.

Kepala Negara mengatakan, pesan yang disampaikan Rais Aam terpilih dalam Muktamar ke-35 NU sejalan dengan arah perjuangan pemerintah dalam menjalankan strategi transformasi bangsa.

Menurut Presiden Prabowo, keberpihakan terhadap rakyat dan upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat merupakan kewajiban bersama. “Jadi inilah saya kira kewajiban kita bersama bahwa fokus, perhatian, tujuan dari strategi transformasi bangsa kita yang saya sekarang pimpin dan kendalikan adalah bagaimana mengangkat sebanyak-banyaknya rakyat Indonesia keluar dari kemiskinan,” ujar Presiden Prabowo.

Selain itu, Kepala Negara menegaskan bahwa pemerintah memiliki keyakinan untuk mewujudkan target tersebut melalui perencanaan yang telah dihitung secara cermat. Presiden Prabowo menyebut pemerintah telah membuktikan sejumlah capaian dalam dua tahun pertama kepemimpinannya dan optimistis dapat terus mengangkat jutaan rakyat Indonesia keluar dari kemiskinan.

“Kita harus berani, dan saya sudah hitung dengan cermat sampai ke rupiah-rupiahnya. Saya sudah hitung dan saya yakin dan percaya kita akan berhasil. Kita akan mengangkat jutaan rakyat kita keluar dari kemiskinan dan kita sudah buktikan dalam dua tahun pertama kita,” imbuh Kepala Negara.

Dalam kesempatan tersebut, Presiden Prabowo juga menjelaskan langkah pemerintah melakukan transformasi dan efisiensi terhadap badan usaha milik negara (BUMN) sebagai salah satu strategi transformasi bangsa. Presiden Prabowo menyampaikan bahwa hingga 31 Desember 2026, pemerintah menargetkan kembali menutup sedikitnya 700 BUMN sehingga jumlahnya menjadi sekitar 200 hingga 250 BUMN.

Langkah tersebut, menurut Presiden, merupakan bagian dari upaya pemerintah meningkatkan efisiensi pengelolaan negara sekaligus memastikan sumber daya yang dimiliki dapat memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi masyarakat.

“Dan pemerintah yang saya pimpin, Desember 31, 2026 kami akan menutup lagi, paling sedikit 700 lagi yang kami akan tutup. Jadi nanti hanya tinggal mungkin 250 BUMN. Tinggal 200, 250. Berarti harapan saya kita bisa menghemat 100 triliun (rupiah). Dari overhead, dari biaya rutin, gaji direksi, gaji komisaris, dan penghematan kita di berbagai bidang sudah mendekati setiap tahun lebih dari 200 triliun, mendekati 300 triliun setiap tahun. Uang inilah yang kita alihkan, yang kita gelontorkan sebesar-besarnya langsung ke rakyat. Ini yang kita pakai,” ujar Presiden Prabowo.

Sebelumnya Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa juga sempat bercerita mendapatkan tawaran pinjaman dari World Bank dan IMF senilai US$25 miliar – US$30 miliar untuk mengamankan fiskal Indonesia di tengah ketidakpastian ekonomi akibat perang yang terjadi. Tawaran itu muncul di sela Spring Meeting IMF-World Bank di Washington DC, 13-18 April 2026.

“Saya bilang sama dia sekarang saya belum butuh karena saya sendiri punya persediaan hampir US$ 25 miliar untuk negara kita sendiri, jadi aman,” kata Purbaya di Gedung Juanda I Kementerian Keuangan, Jakarta, Selasa (21/4/2026).

Purbaya bahkan bercerita, wajah pimpinan World Bank dan IMF langsung masam merespons penolakan itu. Karena Respons itu dianggap mereka kehilangan potensi pendapatan dari bunga utang.

“Wah mukanya (World Bank & IMF) asem, karena dia gak bisa minjemin duit, gak bisa dapet bunga tuh mereka tuh. Tapi itu dalam keadaan apapun kondisi yang kita punyai harus kita jadikan senjata yang paling optimal,” ungkap Purbaya.

“Kalau lebih kita pakai, kalau kurang juga kita pakai, pokoknya kita enggak pernah rugi. Jadi kita desain kebijakan dengan baik, kita hitung dampaknya bukan kira-kira,” tegasnya. (fuz/*)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *