OPINI

oleh
banner 468x60

Hedonisme

King dan Sahlan serius dengan pembuatan proposal yang akan membangun pesantren gratis di pedesaan.

banner 336x280

Masalah pendanaan bagi mereka tidak menjadi halangan. Tabungan di rekening KingSlan Entertainment — yang mereka miliki dari usahanya — siap untuk digelontorkan.

Mereka berharap pembangunan gedung berlantai dua segera terwujud. Di desa yang tidak jauh dari Jakarta, lahan seluas satu hektar, sudah mereka beli cash. Lunas!

“Pak haji Samsul sudah dihubungi lagi, King?” tanya Sahlan.

“Udah. Pak haji bilang semua izin kelar. Jadi tinggal ngebangun aja,” jawab Sahlan.

Rencananya di areal tanah tersebut akan dibangun pesantren. Nantinya ada ruang belajar, ruang pengajar, dapur umum, masjid, klinik kesehatan, asrama yang bakal menampung santriwan-santriwati, dan fasilitas lainnya seperti sarana olahraga. Proyek ini nantinya dilaksanakan oleh kontraktor profesional yang memiliki sertifikasi.

King dan Sahlan bertekad menjalani kehidupan masa muda dengan konsep menjadi pribadi yang lebih baik dan bermanfaat bagi orang lain. Sederhana sekali.

Namun, masih ada masyarakat yang bergaya hidup secara berlebihan. Mereka mengarungi masa mudanya dengan gaya hidup hedonisme.

Hura-hura, foya-foya, dan selalu flexing di medsos untuk mendapatkan perhatian, pengakuan atau menimbulkan rasa iri pada orang lain.

Pesta pora pun hampir tiap malam dengan menghambur-hamburkan duit banyak.

Mereka tidak sensitif dengan kehidupan kaum marjinal yang hidup serba kekurangan.

King dan Sahlan pernah membaca mengenai
perilaku hedonisme yang ditandai dengan menghabiskan uang dan waktu untuk kesenangan semata demi gaya atau gengsi, seperti foya-foya dan berbelanja tanpa tujuan, yang berujung pada pengabaian tanggung jawab.

Hanya demi gaya atau gengsi,
tindakan dilakukan bukan karena kebutuhan, melainkan untuk pamer dan menunjukkan status sosial atau kemewahan di mata orang lain.

Selain itu, menghabiskan uang dalam jumlah besar untuk hiburan, mengunjungi restoran mahal, dan sering berbelanja barang-barang mewah tanpa memiliki tujuan yang jelas atau kebutuhan mendesak.

Menghabiskan waktu dan uang untuk kesenangan pribadi, sehingga mengabaikan kewajiban penting lainnya seperti pekerjaan, belajar, atau kewajiban finansial lainnya.

KKN

Perilaku hedonisme ini bisa dipengaruhi oleh faktor internal, seperti keinginan pribadi untuk menikmati kemewahan, dan faktor eksternal, seperti pengaruh lingkungan atau budaya yang mendorong konsumerisme.

Demi memenuhi kesenangan, seseorang bisa saja nekat berutang, pinjaman online atau bahkan melakukan tindakan ilegal seperti KKN (Korupsi, Kolusi, Nepotisme/KKN).

Orang hedonis seringkali hanya memikirkan kepuasan diri sendiri, sehingga cenderung egois dan individualistis.

Hedonisme dapat membuat seseorang kurang peduli dengan tanggung jawab sosial, keadilan, dan kepentingan gotong-royong dalam masyarakat.

Ketergantungan pada kesenangan materi dan sifat individualis, bisa menjauhkan seseorang dari teman dan keluarga, karena dianggap memberikan dampak negatif.

Namun menariknya, dalam beberapa tahun terakhir, konsep hedonisme dalam psikologi organisasi tidak selalu dipandang negatif.

Dalam kadar yang seimbang, hedonisme dapat membantu menjaga antusiasme, keterlibatan, dan semangat dalam bekerja.

Artinya, kesenangan bukanlah musuh. Manusia membutuhkan momen untuk menikmati hidup, tertawa, berlibur, atau sekadar berbincang santai dalam bingkai yang seimbang dan positif. (bang iz)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *