Kesederhanaan

oleh
banner 468x60

Di kompleks perumahan pejabat tinggi, malam itu suasananya sepi, sunyi.

Di pos-pos penjagaan, tampak sekuriti siap siaga menjaga perumahan dinas tersebut.

banner 336x280

Di 1/3 akhir malam, papi dan maminya Sahlan mendirikan sholat tahajud. Selesai sholat, berdoa, berdzikir, dan mengaji, membaca kitab suci Al Qur’an.

“Assalamualaikum,” papinya Sahlan menelpon setelah selesai beribadah.

“Waalaikumussalam,” jawab Sahlan di rumah pribadi papinya di kawasan Jagakarsa, Jakarta Selatan.

Sahlan, meski anak tunggal, tidak ikut orang tuanya (ortunya) tinggal di perumahan dinas pejabat tinggi. Ia hanya sesekali datang jika ada keperluan penting.

Bahkan, ortunya melarang Sahlan untuk menggunakan fasilitas negara, yang diperoleh papinya sebagai pejabat publik.

“Ada apa, Pi. Sehat-sehat kan, mami juga, ya,” lanjut Sahlan.

“Alhamdulillah, sehat. Kamu juga, ya, Nak.”

“Alhamdulillah, aku sehat, Pi.”

“Kamu tetap istiqomah, ya. Hidup sederhana, menjaga hati agar selalu bersih dari maksiat, dan bergaul dengan orang-orang yang saleh,” nasihat papinya.

Ia menambahkan, “O iya, sampaikan salam papi buat sahabat kamu, si King. Bilang kapan kita mancing lagi di empangnya pak haji Rusli, di Pandeglang. Kalo papi ga lagi sibuk, ya,” ujar papinya Sahlan.

“Sama ini, lho. Kamu jangan terpancing emosi kalo demo. Bilang sama kawan-kawan kamu, jangan sampai terprovokasi. Apalagi yang papi dengar, infonya besok masih ada demo lanjutan. Pemerintah selalu terbuka menerima kritikan dari mahasiswa dan masyarakat,” kata papinya.

“Siap, Pi. Salam buat mami. Kita juga udah lama, nih, ga diskusi sambil makan malam,” kata Sahlan.

“Iya. Kalo ada waktulah kita kumpul. Hari ini aja papi harus kunjungan kerja ke Papua. Mami kamu juga mau ke Dubai membuka kantor cabangnya,” ungkap papinya Sahlan.

“Papi ingatkan lagi ya, jaga hati kamu. Selalu mengingat Allah SWT dan hiduplah dengan sederhana,” tambah papinya.

“Insya Allah. Siap, Pi!” ujar Sahlan.

Azan Subuh mengumandang dari masjid-masjid dan mushola. Mereka menutup pembicaraan untuk bergegas ke masjid.

Papinya, mendidik Sahlan sejak kecil hingga dewasa dengan pola hidup yang penuh kesederhanaan.

Sampai saat ini, kawan-kawan Sahlan di kampus, belum ada yang mengetahui bahwa papinya seorang pejabat tinggi dan maminya pebisnis yang berhasil di kancah internasional dan masuk di jajaran konglomerat.

Hanya King, sohibnya, yang mengetahui jati diri Sahlan sebenarnya. Selain itu, hanya pihak kampus, terutama Rektor, mengetahui Sahlan adalah anak seorang pejabat tinggi.

Sahlan juga tidak memanfaatkan nama besar papi dan maminya, baik di kampus maupun aktivitas sosialnya.

Bahkan, dalam mengelola bisnis KingSlan Entertainment (antara lain sebagai influencer) bersama King selama ini, Sahlan tidak memamerkan posisi keluarganya yang tajir melintir.

Di tengah kehidupan ingar- bingar ini – dimana ada orang mengedepankan gaya hidup hedonisme – tetapi keluarga Sahlan justru menjalaninya dengan kesederhanaan.

Bagi orang berkecukupan, gaya hidup Sahlan dan orang tuanya yang sederhana, sepertinya menjadi sesuatu hal yang langka dan mahal sekali, saat ini. Jarang dijumpai.

Papinya Sahlan selalu berorientasi dan berupaya mencontoh ketauladanan Nabi Muhammad SAW yang hidup dalam kesederhanaan.

Papinya Sahlan mendidik anaknya hidup dalam kesederhanaan.

Sahlan diharapkan menjadi orang yang berguna bagi dirinya dan bermanfaat untuk orang banyak.

Mengendalikan Ego

Kesederhanaan hidup adalah seni merasa cukup, yakni menjalani keseharian tanpa berlebihan dan fokus pada hal-hal yang benar-benar penting.

Ini bukan tentang hidup dalam kekurangan, melainkan tentang mengendalikan ego dan keinginan agar kita bisa lebih menghargai apa yang sudah dimiliki.

Kesederhanaan sering disebut sebagai kunci utama untuk mencapai kebahagiaan sejati dan terhindar dari stres.

Sementara itu, mengenai menjaga hati, Sahlan ingat tausiah ustadz kondang yang mengatakan jagalah hati agar tidak mati rasa, selalu merasakan kesedihan atas dosa dan penyesalan atas kesalahan.

Berupaya menjaga hati agar tetap bersih dari penyakit batiniah melalui ibadah, dzikir, membaca Al-Qur’an, berdoa, bersyukur, dan menjauhi maksiat.

Kebersihan hati merupakan fondasi penting untuk menjalani kehidupan yang bermakna.

Hal ini penting untuk kebahagiaan dan ketenangan dunia serta akhirat.

Semoga saja, semakin banyak pemimpin di negeri ini yang menjalani hidup sederhana sehari-harinya.

Hiduplah apa adanya. Tanpa topeng dan gincu kepalsuan.
Dan, contohlah ilmu padi semakin berisi, semakin merunduk… *(bang iz)*

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *