Di kawasan kuliner malam, di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, memiliki ragam kuliner yang hits bagi kalangan pecinta kuliner.
King dan Sahlan menikmati makanan di salah satu tempat kuliner yang viral tersebut.
“Di sini kamu bisa menikmati bubur hingga sate lezat.
Surganya kuliner malam di Jakarta Selatan terdapat di Kebayoran Baru. Lokasinya meliputi Blok M, Panglima Polim hingga Barito,” kata King yang lagi ngonten kuliner untuk ditayangkan di medsosnya.
Tim KingSlan Entertainment; kameramen, sutradara, dan kru lainnya terus merekam King dan Sahlan yang merekomendasi kelezatan aneka kuliner.
“Di kawasan tersebut kamu bisa mencari beragam kuliner malam yang menjadi hits. Pilihan makananya juga banyak. Kamu bisa menikmati semangkuk bubur, gule sapi, nasi goreng, makanan Jepang, hingga sate ayam yang lezat,” tambah Sahlan.
“Di Jakarta Pusat juga kuliner malamnya ajib, bro. Ada di jalan Pecenongan, di Kebon Sirih dengan nasi gorengnya yang legendaris, di jalan Sabang, Kemayoran, dan lainnya. Juga ada di kawasan lain di Jakarta Timur, Jakarta Utara dan Jakarta Barat,” tambah King semangat.
Setiap malam banyak dari kalangan anak muda (terutama dari milenial dan gen z) menikmati kuliner malam yang menjadi nge- trend saat ini.
“Inilah yang namanya doom spending, yang dilakukan anak muda. Mereka ngilangin kepenatan dan perasaan cemas melihat sikon ekonomi saat ini. Karena hal ini terdampak terhadap masa depan mereka,” tutur King dan Sahlan sambil menikmati enaknya gulai sapi.
Guys, ketika harga rumah terus melambung, biaya hidup meningkat, dan masa depan terasa semakin sulit diprediksi, sebagian anak muda, milenial dan gen z, mulai mengubah cara memandang uang.
Alih-alih mengejar tujuan finansial jangka panjang yang terasa semakin jauh, mereka memilih menikmati apa yang bisa dijangkau hari ini.
Secangkir kopi, tiket konser, makan di restoran viral, hingga belanja daring menjadi pelarian yang memberi rasa senang sesaat.
Fenomena ini dikenal sebagai doom spending, yakni kebiasaan membelanjakan uang sebagai respons terhadap kecemasan dan pesimisme terhadap masa depan.
Impulsif
Fenomena doom spending, mulai ramai dibahas dan terdeteksi masif di Indonesia sekitar pertengahan hingga akhir tahun 2024, seiring naiknya biaya hidup dan tekanan kerja.
Saat ini semakin marak dan digemari oleh anak muda (terutama Gen Z dan milenial) di Indonesia.
Guys, doom spending adalah perilaku belanja impulsif sebagai pelarian dari rasa stres, cemas, atau pesimisme terhadap masa depan dan kondisi ekonomi yang tidak pasti.
Sering terjadi pada generasi muda, kebiasaan ini dilakukan untuk mencari kesenangan instan (seperti self-reward), meski sebenarnya merusak kesehatan finansial jangka panjang.
Doom spending adalah istilah yang menggambarkan kebiasaan menghabiskan uang secara berlebihan atau irasional untuk meredakan emosi negatif.
Beberapa fakta penting dapat dilihat mengenai fenomena ini, seperti mekanisme koping (pelarian). Banyak orang merasa stres karena ketidakpastian ekonomi (seperti mahalnya biaya properti atau inflasi) yang membuat tujuan menabung terasa mustahil dicapai.
Akibatnya, mereka menggunakan uang untuk membeli barang-barang konsumtif guna mendapatkan rasa kendali dan kebahagiaan sesaat.
Doom spending menimbulkan efek psikologis. Karena belanja memicu pelepasan hormon dopamin di otak yang memberikan rasa senang instan.
Hal ini seringkali diperparah oleh budaya media sosial yang menormalisasi belanja sebagai bentuk perawatan diri (retail therapy).
Namun dampak finansialnya terasa, karena dilakukan tanpa perencanaan dan prioritas kebutuhan.
Doom spending seringkali berujung pada membengkaknya pengeluaran, menipisnya dana darurat, hingga meningkatnya ketergantungan pada utang.
Pengamat keuangan mengatakan, dampak doom spending menang sangat mengkhawatirkan.
Kebiasaan ini dapat menghasilkan “stres baru”, terutama jika pengeluaran tidak direncanakan dengan baik.
Jika merasa terjebak dalam siklus ini, pengamat menyarankan untuk mengatasi doom spending dengan menetapkan tujuan keuangan yang jelas.
Bahkan, menunda transaksi minimal 24 jam untuk meredakan dorongan emosional, dan membatasi konsumsi berita negatif yang memicu kecemasan.
Selain itu, sangat penting untuk mencari alternatif pelepas stres yang lebih sehat seperti olahraga, menulis jurnal, healing, dan menyalurkan hobi.
Gunakanlah metode perencanaan keuangan yang ketat untuk mengendalikan pengeluaran harian dan membatasi pembelian impulsif.
Kemudian mulailah merencanakan tujuan keuangan jangka pendek secara realistis untuk membangun kembali rasa aman finansial. (bang iz)











