Jakarta, Pelita Baru
Presiden Prabowo Subianto menyerukan masyarakat Indonesia untuk memperkuat jati diri bangsa. Seruan ini diungkapnya melalui unggahan di akun media sosial pribadinya saat ngabuburit di Museum Nasional Indonesia, Jakarta, dilihat Selasa (2/3/2026).
“Peradaban besar lahir dari pengetahuan dan penghargaan terhadap masa lalu bangsa kita,” kata Prabowo.
Lebih lanjut, Prabowo mengatakan, mempelajari peninggalan sejarah bukan sekadar melihat artefak, tetapi juga memahami perjalanan panjang bangsa dan nilai-nilai yang membentuk Indonesia hingga saat ini.
Prabowo sendiri memang dikenal memiliki jiwa nasionalisme yang tinggi. Hal itu bisa dilihat tak hanya dari statmen-statmennya disejumlah kesempatan, baik saat atau sebelum menjabat sebagai Presiden, tapi juga dari komitmen-komitmennya dalam membangun bangsa Indonesia.
Karena itu, wajar jika kemudian, dalam perjalanan sejarah Indonesia modern, nama Prabowo Subianto dikenal sebagai sosok yang lekat dengan semangat perjuangan dan nasionalisme. Sebagai tokoh militer dan pemimpin politik, kiprahnya menggambarkan dinamika demokrasi Indonesia yang terus berkembang menuju arah kematangan dan kedewasaan politik.
Perjalanan panjang Prabowo menjadi refleksi bagaimana nilai perjuangan dan cinta tanah air dapat bertransformasi dalam kerangka demokrasi yang menjunjung persatuan dan kedaulatan rakyat.
Semangat nasionalisme yang diusung Prabowo tidak hanya berbicara tentang cinta tanah air, tetapi juga tentang tanggung jawab untuk menjaga keutuhan dan persatuan bangsa. Dalam konteks demokrasi, nasionalisme berperan sebagai landasan moral agar perbedaan pandangan politik tidak menggerus rasa persaudaraan di antara anak bangsa.
“Kemerdekaan sejati adalah kemerdekaan ekonomi. Kita punya semua bentuk (lembaga) kenegaraan. DPR, MPR, DPD, gubernur, menteri, kita punya semua, tapi rakyat kita masih ada yang lapar. Kita belum merdeka. Rakyat kita masih sangat miskin, kita belum merdeka,” kata Prabowo beberapa waktu lalu.
Prabowo juga mengatakan, negara yang merdeka adalah negara yang bisa memberi makan rakyatnya, bisa menjamin, dan memberi kehidupan yang layak bagi seluruh rakyatnya.
Sementara itu, dalam ‘ngabuburit’ di Museum Nasional Indonesia, Prabowo didampingi Menteri Kebudayaan Fadli Zon, pejabat Kementerian Kebudayaan, serta Kepala Museum dan Cagar Budaya.
Di museum, Presiden meninjau ruang pamer tetap bertema Sejarah Awal Indonesia. Salah satu yang disorot adalah koleksi Java Man hasil repatriasi yang kini masuk narasi sejarah manusia purba di Indonesia.
Presiden juga melihat koleksi arca di Taman Arca, serta mengunjungi pameran foto “Negeri Elok” yang menampilkan perjalanan sejarah dan kekayaan budaya Indonesia.
Fadli Zon mengatakan Presiden puas dengan penataan baru Museum Nasional, termasuk pameran sejarah awal peradaban dan pameran “Negeri Elok”. Presiden, menurut Fadli, berharap museum-museum di daerah ikut ditata kembali, bukan sekadar dibiarkan jadi etalase lama yang sepi pengunjung.
Pada kesempatan itu, Presiden juga bertemu peserta Manajemen Talenta Nasional (MTN) Seni Budaya bidang seni rupa, sekitar 15 orang dari berbagai daerah. Mereka akan diseleksi untuk mengikuti program residensi seni rupa dalam festival seni rupa internasional.
Fadli menegaskan pemerintah mendorong pembenahan museum dan situs sejarah secara lebih modern.
“Kita harus memodernisasi pengelolaan museum dan situs sejarah di Indonesia. Sepanjang 2025, kementerian telah melakukan revitalisasi terhadap 152 cagar budaya dan museum di seluruh wilayah Indonesia untuk memperkuat pelindungan warisan budaya nasional,” kata Fadli. (fuz/*)












