Jakarta, Pelita Baru
Presiden Prabowo Subianto buka-bukaan soal keberaniannya mengambil keputusan dan kebijakan strategis pemerintah. Menurutnya, sikap itu tak lepas dari filosofi sikap kepemimpinannya yang selama ini, ia pegang teguh.
“Menjadi pemimpin sebetulnya tidak rumit. Ingat dua hal beliau sampaikan ke saya. Love your people, cintai rakyatmu. Gunakan akal sehat,” ujar Prabowo saat menyampaikan pandangan tersebut saat menghadiri peluncuran buku Sepuluh Karya Nyata untuk Negeri sekaligus perayaan ulang tahun ke-50 Menteri ESDM Bahlil Lahadalia di Djakarta Theater, Jakarta, akhir pekan lalu.
Dalam kesempatan ini, Prabowo juga mengungkap dua sosok yang membentuk pemahamannya mengenai kepemimpinan. Keduanya adalah Ben Mboi, mantan Gubernur NTT, dan Raden Panji Mohammad Noer atau Cak Noer, mantan Gubernur Jawa Timur.
Dari Ben Mboi, Prabowo memperoleh prinsip yang menurutnya sederhana namun fundamental. Bagi Prabowo, prinsip tersebut harus menjadi dasar dalam setiap kebijakan negara.
Pemerintahan tidak boleh kehilangan orientasi terhadap kepentingan rakyat ketika menghadapi berbagai persoalan bangsa. Maka dari itu, Prabowo menyebut hilirisasi dan swasembada pangan sebagai contoh kebijakan yang menurutnya lahir dari pertimbangan akal sehat.
“Jadi kebijakan itu akal sehat. Kebijakan hilirisasi, kebijakan swasembada pangan, semua itu akal sehat,” katanya.
Namun, filosofi kepemimpinan Prabowo tidak berhenti pada persoalan kebijakan. Ia juga mengenang pesan Cak Noer yang diterimanya beberapa bulan sebelum sang tokoh meninggal.
“Cak Noer, berapa bulan sebelum meninggal, beliau cerita sama saya. ‘Prabowo, tugas pemimpin itu sebetulnya sederhana.’ Bekerja,” tutur Prabowo.
Cak Noer kemudian menyampaikan sebuah ungkapan Jawa yang hingga kini diingat Prabowo. “Yen wong cilik iso gemuyu (kalau rakyat kecil bisa tersenyum),” ujar Prabowo.
Ungkapan tersebut menjadi gambaran mengenai tujuan akhir kerja seorang pemimpin.
Bukan sekadar mengejar angka pertumbuhan atau menghasilkan kebijakan, tetapi memastikan masyarakat yang paling lemah mampu merasakan perubahan dan kembali memiliki harapan.
“Pemimpin bekerja agar orang yang paling lemah, orang yang kecil, orang yang paling miskin bisa senyum, bisa ketawa,” kata Prabowo.
Kepala Negara menilai ketika rakyat yang berada dalam kondisi paling sulit mulai mampu tersenyum, hal tersebut menjadi tanda munculnya harapan. “Artinya, kalau orang yang sangat lemah, sangat tidak berdaya, bisa senyum dan ketawa, dia mulai punya harapan. Kita bekerja memberi harapan kepada rakyat kita yang paling tidak berdaya,” ucapnya.
Menurut Prabowo, kepemimpinan yang berpijak pada kecintaan kepada rakyat dan akal sehat pada akhirnya akan menghasilkan keputusan yang tepat.
“Manakala keputusan yang kita ambil adalah didasari oleh cinta kepada rakyat dan akal sehat, kita tidak akan meleset. Hasilnya akan cepat kelihatan,” ungkap Prabowo.
Ia pun menegaskan keberanian harus berjalan bersama kebajikan dan empati. “Keberanian harus juga ditopang oleh nilai kebaikan, nilai kebajikan, nilai-nilai empati,” katanya.
Sebelumnya, Prabowo juga menyatakan keberanian merupakan salah satu syarat penting dalam kepemimpinan. Namun, keberanian tanpa kebajikan dan empati justru dapat berubah menjadi kekuatan yang membahayakan orang-orang yang dipimpin.
Prabowo mengatakan kepemimpinan tidak dapat diperoleh secara instan maupun diberikan sebagai hadiah. Menurutnya, karakter kepemimpinan terbentuk melalui kerja keras dan berbagai pengalaman hidup.
“Kepemimpinan tidak bisa diberi sebagai hadiah. Kepemimpinan itu didapatkan melalui kerja keras, melalui sikap, melalui nilai-nilai yang ada dalam seorang,” kata Prabowo.
Ia menilai berbagai hambatan justru menjadi ruang pembentukan karakter.
“Kondisi yang memberatkan, kondisi rintangan, kondisi hambatan, justru kondisi-kondisi ini yang membesarkan seorang pemimpin,” ujarnya.
Prabowo kemudian menekankan bahwa seorang pemimpin harus memiliki keberanian untuk mengambil keputusan. Akan tetapi, keberanian tersebut harus dibatasi dan diarahkan oleh nilai-nilai moral.
“Keberanian syarat jadi pemimpin. Tapi keberanian harus juga ditopang oleh nilai kebaikan, nilai kebajikan, nilai-nilai empati,” tegasnya.
Menurutnya, keberanian yang tidak dibarengi kebijaksanaan dapat melahirkan pemimpin yang ceroboh dan berpotensi merugikan pihak yang berada di bawah kepemimpinannya.
“Berani tanpa kebajikan akan muncul sebagai pemimpin, tapi mungkin pemimpin yang tidak hati-hati, pemimpin yang tidak arif, pemimpin yang ujungnya membahayakan yang dipimpin,” ungkap Prabowo.
Sebagai sosok yang memiliki latar belakang panjang di lingkungan militer, Prabowo juga membagikan pengalamannya dalam membaca karakter seseorang. Ia mengatakan interaksi singkat terkadang sudah cukup untuk menangkap karakter dan kecenderungan seseorang.
“Kita bisa menangkap apakah itu dikatakan getaran, apa dikatakan insting, mungkin bahasa Inggrisnya vibes atau chemistry. Dan kita bisa menilai dari dua-tiga kalimat, dari pembicaraan, dari tanggapan,” tuturnya.
Prabowo juga menyoroti tantangan generasi mendatang. Menurutnya, Indonesia harus memastikan generasi penerus memiliki mental kuat untuk menghadapi persaingan antarbangsa.
“Apakah generasi-generasi penerus kita sekarang ini nanti kuat menghadapi persaingan antarbangsa yang semakin keras? Atau mudah menyerah, mudah mengeluh, mudah minta bantuan?,” paparnya.
Bagi Prabowo, pertanyaan tersebut bukan sekadar persoalan pendidikan, melainkan menyangkut masa depan kekuatan nasional.
Generasi yang tangguh diperlukan untuk menghadapi perubahan geopolitik, kompetisi teknologi, tantangan ekonomi, hingga dinamika keamanan global.Kepemimpinan, dalam pandangan Prabowo, pada akhirnya bukan sekadar persoalan keberanian berada di depan.
Kepemimpinan adalah kemampuan berdiri paling depan ketika menghadapi kesulitan, mengambil keputusan ketika situasi sulit, sekaligus memastikan keberanian tersebut tetap berpijak pada kebajikan. (fuz/*)












