Minta Update Soal Logam Tanah Jarang, Prabowo Intip Potensi Besar

oleh
banner 468x60

Bogor, Pelita Baru

Presiden Prabowo Subianto optimis, peluang Indonesia untuk mengambil posisi lebih besar dalam industri mineral kritis dunia, terutama melalui penguatan riset, teknologi pengolahan, dan kerja sama internasional, sangat besar.

banner 336x280

Karena itu, kepala negara secara khusus meminta update atau laporan terbaru mengenai perkembangan kerja sama dan pengelolaan logam tanah jarang (rare earth) di tengah meningkatnya persaingan global memperebutkan mineral kritis untuk industri teknologi.

Permintaan itu terungkap dalam ertemuan dengan Menteri Pendidikan Tinggi dan Sains Teknologi di Padepokan Garuda Yaksa, Hambalang, Bogor, Rabu (17/6/2026).

“Beliau ingin mendapatkan update dari Menteri Pendidikan Tinggi dan Sains Teknologi terkait persiapan pengawakan sumber daya manusia kita,” kata Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi kepada wartawan usai pertemuan.

Selain aspek pengelolaan sumber daya, lanjut Prasetyo, Presiden juga menaruh perhatian pada kesiapan SDM dan pengembangan teknologi agar nilai tambah mineral strategis dapat dinikmati di dalam negeri.

Pembahasan tersebut berlangsung bersamaan dengan agenda pemantauan berbagai program prioritas pemerintah yang dilakukan Presiden bersama jajaran menteri terkait.

Menurut Prasetyo, sebagian program pendidikan dan pelatihan sudah berjalan dan kini memasuki tahap evaluasi perkembangan.

Pembahasan ini menunjukkan perhatian pemerintah terhadap kesiapan SDM nasional di tengah meningkatnya kebutuhan teknologi dan pengelolaan mineral strategis yang menjadi rebutan banyak negara.

Selain menerima laporan terkait SDM dan teknologi, Presiden juga menjalankan agenda rutin dengan sejumlah menteri untuk memantau pelaksanaan program pemerintah.

Diketahui, logam tanah jarang merupakan komponen penting dalam produksi kendaraan listrik, baterai, semikonduktor, turbin angin, sistem pertahanan, hingga berbagai perangkat elektronik modern.

Dalam beberapa tahun terakhir, mineral ini menjadi salah satu komoditas strategis yang diperebutkan banyak negara karena perannya yang krusial dalam rantai pasok teknologi global.

Logam tanah jarang merupakan kelompok mineral strategis yang menjadi bahan penting bagi industri teknologi tinggi, kendaraan listrik, baterai, hingga perangkat elektronik modern.

Diketahui, Indonesia memiliki “harta karun” terpendam di dasar bumi yang super langka bernama logam tanah jarang (LTJ) atau rare earth element, namun belum dikembangkan.

Padahal, saat ini dunia tengah berlomba-lomba mencari “harta karun” super langka ini karena manfaatnya yang begitu besar di era modern ini.

Banyaknya negara yang mengincar logam tanah jarang disebabkan karena di tengah kemajuan teknologi saat ini, logam tanah jarang sangat dibutuhkan. Mineral tersebut merupakan bahan baku peralatan teknologi.

Mulai dari baterai, telepon seluler, industri elektronika hingga pembangkit listrik berbasis energi baru terbarukan seperti Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS). Bahkan, bisa digunakan untuk bahan baku kendaraan listrik hingga industri pertahanan atau peralatan militer.

Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara Kementerian ESDM Ridwan Djamaluddin mengatakan saat ini dunia memang sedang gencar membicarakan logam tanah jarang. Di Indonesia sendiri telah ditemukan 28 titik lokasi logam tanah jarang. Data tersebut bersumber dari survei yang telah dilakukan oleh ahli geologi.

“Kita menyadari dari dasar survei yang dilakukan geologi, setidaknya ada 28 lokasi mineral tanah jarang yang potensi eksplorasinya,” tuturnya dalam webinar bertajuk ‘Minerba Series bertajuk Mineral for Energy’, beberapa waktu lalu.

Terkait logam tanah jarang ini, kata Ridwan, negara di dunia yang telah mampu mengeksplorasi secara masif adalah China. Ada pun kemampuan produksinya sebesar 84 persen dari kapasitas di dunia.

“China sebagai negara besar serta aktif melakukan kegiatan ini baik yang bersumber dari bahan-bahan yang ada di negara mereka sendiri, maupun aktif mengumpulkan dari berbagai sumber di negara-negara lain,” tuturnya.

Tak hanya China, kata Ridwan, Australia pun sudah melakukan hal yang sama dengan 11 persen produksi dari kapasitas global. Lalu, Rusia sebesar 2 persen produksi dan India yang menempati presentasi produksinya yakni 1 persen.

“Dan sisanya negara-negara lain sedikit. Artinya kita juga bagian dari negara-negara lain yang jumlahnya sedikit. Namun, sedikit-sedikitnya kita punya bahan baku yang cukup untuk kita kelola sebagai sumber energi masa depan dan juga sumber bagi penggerak ekonomi,” ujarnya. (fuz/*)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *