Januari-Maret 2026, Investasi Capai Rp497 Triliun

oleh
Rosan Roeslani
banner 468x60

Jakarta, Pelita Baru

Di tengah ketidakpastian global, sektor investasi Indonesia justru mengalami kenaikan. Terbukti, sejak Januari hingga Maret 2026, realisasi investasi yang masuk mencapai Rp497 triliun atau naik 6,9 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.

banner 336x280

Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Rosan Roeslani mengatakan, hal tersebut merupakan capaian positif di tengah dinamika global. Rosan menyebut masih menunggu hingga tanggal 15 April untuk perhitungan pasti realisasi investasi.

“Realisasi investasi sebesar Rp497 triliun pada Kuartal I 2026 itu menciptakan sekitar 627 ribu lapangan kerja baru,” katanya dilansir Selasa (14/4/2026).

Rosan menambahkan, program hilirisasi yang digenjot pemerintah menjadi salah satu penyumbang utama tingginya realisasi investasi. Investasi ke bidang industri logam dasar pada Januari-Maret 2026 mencapai Rp67 triliun, terbesar di antara bidang lainnya.

Diikuti oleh transportasi, gudang, dan logistik sebesar Rp54 triliun. Kemudian pertambangan Rp51 triliun, jasa lainnya (pusat data dan lain-lain) Rp43 triliun, perumahan dan kawasan Rp36 triliun.

Kota Jakarta menjadi tujuan investasi terbesar dengan realisasi mencapai Rp74 triliun, kemudian Jawa Barat Rp72 triliun, Jawa Timur Rp38 triliun, Sulawesi Tengah Rp34 triliun, Banten Rp33 triliun.

Singapura, China, Jepang, Korea Selatan, Amerika Serikat (AS) masih menjadi negara-negara terbesar untuk penanaman modal asing di Indonesia di Januari-Maret 2026.

Sebelumnya, Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) memperkirakan realisasi investasi pada kuartal I 2026 mencapai sekitar Rp497 triliun.

Meski demikian, pertumbuhan investasi tersebut diproyeksikan hanya sekitar 7 persen secara tahunan, atau melambat jika dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang mampu tumbuh hingga 15,6 persen.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menjelaskan bahwa perlambatan ini tidak lepas dari kondisi global yang masih diliputi ketidakpastian akibat konflik geopolitik.

Menurutnya, situasi perang di berbagai kawasan membuat pelaku usaha dan investor global cenderung bersikap lebih hati-hati dalam mengambil keputusan investasi.

Ia menambahkan kondisi tersebut dinilai belum mencerminkan situasi ekonomi yang normal, sehingga banyak pihak masih meninjau ulang rencana ekspansi bisnis mereka.

“Tentu dalam situasi perang kan bukan situasi yang normal. Semua masih melakukan evaluasi,” ujar Airlangga.

Meskipun situasi global masih penuh tantangan, prospek investasi di Indonesia tetap mendapatkan respons yang cukup baik dari investor asing.

Menurut dia, hal ini terlihat dari respons positif yang diberikan para pelaku usaha dalam berbagai pertemuan internasional yang dilakukan pemerintah.

Airlangga menyebutkan, dalam kunjungan kerja ke Inggris, Korea Selatan, dan Jepang, para investor tetap menunjukkan ketertarikan untuk berinvestasi di Indonesia.

“Bagi pemerintah, dalam kunjungan ke Inggris, Korea, dan Jepang, respons dari investornya positif. Jadi kita lihat (perkembangannya),” katanya.

Sementara itu, Bank Indonesia (BI) mencatat aliran modal asing masuk bersih ke pasar keuangan domestik mencapai sebesar Rp1,93 triliun pada periode transaksi 24-26 Maret 2025.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso merinci, jumlah tersebut terdiri dari modal asing masuk bersih di pasar saham sebesar Rp2,63 triliun.

Selanjutnya, terdapat modal asing keluar bersih di pasar Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) masing-masing sebesar Rp0,51 triliun dan Rp0,19 triliun. Dengan demikian, modal asing masuk bersih menjadi sebesar Rp1,93 triliun.

Selama tahun 2025, berdasarkan data setelmen hingga 26 Maret 2025, modal asing keluar bersih di pasar saham tercatat sebesar Rp32,02 triliun.

Sedangkan modal asing masuk bersih di pasar SBN dan SRBI masing-masing sebesar Rp16,08 triliun dan Rp10,98 triliun.

Premi risiko investasi (credit default swaps/CDS) Indonesia 5 tahun tercatat naik dari 90,41 basis point (bps) per 21 Maret 2025 menjadi 90,84 bps per 26 Maret 2025.

Nilai tukar rupiah dibuka sedikit melemah di level Rp16.590 per dolar Amerika Serikat (AS) pada Kamis (27/3/2026), dibandingkan posisi pada penutupan perdagangan Rabu (26/3/2026) di level Rp16.575 per dolar AS.

Adapun indeks dolar AS (DXY) tercatat menguat ke level 104,55 pada akhir perdagangan Rabu (26/3/2026). DXY merupakan indeks yang menunjukkan pergerakan dolar AS terhadap enam mata uang negara utama antara lain euro, yen Jepang, pound Inggris, dolar Kanada, krona Swedia, dan franc Swiss.

Imbal hasil atau yield SBN 10 tahun turun ke level 7,09 persen pada Kamis (27/3/2026) pagi, dari sebelumnya 7,13 persen pada akhir perdagangan Rabu (26/3/2026).

Sementara imbal hasil US Treasury Note 10 tahun naik ke level 4,352 persen pada akhir perdagangan Rabu (26/3/2026). (dho/*)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *