Guest Lecture Perdana Magister Terapan Komunikasi Digital dan Media IPB Unievrsity, Dorong Komunikasi Ciptakan Nilai Berkelanjutan

oleh
banner 468x60

Bogor, pelitabaru.com — Program Studi Magister Terapan Komunikasi Digital dan Media Sekolah Vokasi IPB University menyelenggarakan Guest Lecture #1 bertajuk “Beyond Communication: How Strategic Communication Creates Sustainable Value for Organizations”, Sabtu, 15 Agustus 2026. Kegiatan yang diikuti secara aktif oleh 170 peserta ini menghadirkan praktisi public relations Laurentius Iwan, Head PR Marcomm Event Asuransi Astra sekaligus Kabid Pengembangan Kampanye Kehumasan Perhumas Indonesia.

Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya Program Studi Magister Terapan Komunikasi Digital dan Media untuk memperkuat keterhubungan pembelajaran akademik dengan praktik profesional. Guest lecture bertujuan memperluas perspektif mahasiswa mengenai komunikasi strategis, khususnya bagaimana komunikasi tidak hanya berfungsi menyampaikan pesan, tetapi juga dapat digunakan untuk menyelesaikan persoalan, membangun kepercayaan, mengelola hubungan dengan pemangku kepentingan, serta menciptakan nilai berkelanjutan bagi organisasi.

banner 336x280

Ketua Program Studi Magister Terapan Komunikasi Digital dan Media Sekolah Vokasi IPB University, Dr. Willy Bachtiar, dalam sambutannya mengajak mahasiswa memperluas cara pandang terhadap kompetensi komunikasi. Menurutnya, kemampuan berkomunikasi saja tidak lagi cukup. Mahasiswa perlu memahami bagaimana komunikasi dapat digunakan untuk menjawab berbagai persoalan yang berkembang di organisasi, masyarakat, dunia korporasi, maupun industri.

“Keinginan untuk menjadi lebih pintar berkomunikasi saya kira itu terlalu kecil. Berpikirlah lebih jauh untuk bagaimana kita mampu menggunakan komunikasi untuk menyelesaikan berbagai persoalan di organisasi, di masyarakat, maupun juga secara umum di dunia korporasi ataupun industri,” ujar Dr. Willy.

Menurut Dr. Willy, perkembangan dunia profesional juga membutuhkan kompetensi yang semakin dinamis. Berbagai profesi seperti public relations practitioner, digital communication specialist, dan brand strategist membutuhkan individu yang tidak hanya mampu berkomunikasi, tetapi juga membaca persoalan dan menciptakan value dari persoalan yang belum terselesaikan. Karena itu, pendidikan komunikasi perlu memberikan pemahaman lebih luas mengenai perilaku manusia dan perubahan masyarakat akibat perkembangan teknologi.

“Pendidikan komunikasi tidak boleh hanya mengajarkan mahasiswa tentang bagaimana how to communicate, tetapi juga bagaimana how people behave, how technology transform society, dan lain sebagainya. Orang orang yang bisa menciptakan value dari persoalan yang belum terselesaikan hari ini ternyata mendapatkan nilai tambah yang luar biasa,” katanya.

Dr. Willy juga menyoroti perkembangan artificial intelligence yang semakin mampu membantu berbagai pekerjaan komunikasi, termasuk produksi konten. Kondisi tersebut, menurutnya, justru perlu mendorong mahasiswa untuk berpikir kritis mengenai kompetensi manusia yang harus terus dikembangkan di tengah semakin canggihnya teknologi.

“Kalau mesin semakin pintar berkomunikasi, apa yang akan menjadi keunggulan kita sebagai manusia? Nah, ini yang tentu saja membutuhkan pemikiran kritis dari kita semua,” tutur Willy.

Sementara itu, Ketua Program Studi Sarjana Terapan Komunikasi Digital dan Media Sekolah Vokasi IPB University, Dr. Hudi Santoso, mengapresiasi kolaborasi yang telah terbangun antara Program Sarjana Terapan dan Magister Terapan Komunikasi Digital dan Media. Menurutnya, kolaborasi tersebut perlu terus diperluas melalui kegiatan akademik, riset, pengabdian kepada masyarakat, serta kerja sama dengan dunia industri.

“Kami berharap kolaborasi ini tidak berhenti pada kegiatan hari ini, tetapi terus dikembangkan melalui berbagai kegiatan akademik, riset, pengabdian kepada masyarakat, hingga kolaborasi dengan dunia industri,” ujar Dr. Hudi.

Menurut Hudi, guest lecture memiliki posisi penting dalam proses pembelajaran karena pendidikan komunikasi digital dan media tidak cukup hanya berhenti pada teori di ruang kelas. Mahasiswa perlu memahami bagaimana teori dan konsep komunikasi berhadapan dengan persoalan organisasi, perubahan perilaku publik, perkembangan teknologi, dinamika media, serta tuntutan industri yang terus bergerak.

“Kami berharap ke depan akan semakin banyak forum forum ilmiah yang mempertemukan akademisi, mahasiswa, praktisi, industri, serta organisasi profesi. Ruang ruang seperti ini perlu terus kita bangun untuk memperkaya pengetahuan dan pemahaman mahasiswa sekaligus semakin mendekatkan proses pembelajaran dengan kebutuhan dunia profesional,” ucap Dr. Hudi.

Memasuki sesi utama, Laurentius Iwan mengajak peserta melihat perubahan lanskap informasi di era digital. Ia menjelaskan bahwa tantangan masyarakat saat ini telah bergeser. Jika sebelumnya seseorang harus berusaha mencari informasi, kini informasi hadir dalam jumlah yang sangat besar melalui berbagai platform. Tantangan utama justru terletak pada kemampuan menentukan informasi mana yang layak dipercaya, dipahami, dan memiliki makna.

“Tantangannya hari ini sebetulnya bukan bagaimana kita mencari informasi. Sekarang informasi itu berlimpah. Pertanyaannya adalah bagaimana kita memilih dari platform platform tersebut atau sumber informasi yang hadir di hadapan kita, mana yang layak untuk kita percaya, mana yang layak untuk kita pahami, dan mana yang sebetulnya memberi makna untuk kita sebagai konsumen informasi,” kata Iwan.

Besarnya arus informasi tersebut tergambar dalam materi yang dipaparkan Iwan. Dalam 60 detik, sekitar 16.000 video diunggah ke TikTok, 138,9 juta reels diputar di Facebook dan Instagram, serta 5,9 juta pencarian dilakukan melalui Google. Kondisi ini menunjukkan bahwa persoalan komunikasi hari ini bukan lagi kelangkaan informasi, melainkan kemampuan untuk memilih, memahami, dan memberi makna terhadap informasi yang berlimpah.

Iwan juga mengajak peserta mempertanyakan siapa yang membentuk cara seseorang berpikir di ruang digital. Selain orang tua, teman, dan dosen, algoritma kini ikut menentukan informasi yang muncul di hadapan pengguna. Namun, ia mengingatkan bahwa pengguna juga memiliki peran karena aktivitas mencari, memilih, menonton, dan mengonsumsi konten turut memengaruhi informasi yang kemudian ditampilkan oleh platform.

“Apakah betul kita dipengaruhi oleh algoritma? Bukankah kita juga yang membuat dia muncul di hadapan kita?” ujar Iwan.

Dalam konteks organisasi, Iwan menjelaskan bahwa komunikasi menjadi strategis ketika organisasi tidak sekadar berbicara, tetapi mampu menentukan dengan sadar siapa yang perlu dipahami, persoalan apa yang penting, mengapa organisasi perlu bertindak, perubahan apa yang ingin dicapai, serta nilai apa yang ingin diciptakan. Materinya merangkum proses komunikasi strategis melalui lima elemen utama, yakni who, what, why, change, dan value.

“Semakin kompleks publik dan isu, semakin penting organisasi memilih dengan sadar. Karena komunikasi strategis bukan menambah volume pesan, tetapi menciptakan makna, kepercayaan, dan nilai,” demikian pesan yang ditekankan Iwan dalam materinya.

Iwan kemudian mengingatkan bahwa keberhasilan komunikasi tidak semestinya berhenti pada popularitas sebuah konten. Materinya mengangkat prinsip “Viral is an output. Value is an impact.” Dengan perspektif tersebut, komunikasi tidak hanya diukur dari reach, mentions, atau attendance, tetapi juga dari apa yang dipahami publik, perubahan sikap dan perilaku, hingga dampaknya terhadap reputasi, loyalitas, bisnis, dan nilai sosial.

“Komunikasi strategis tidak berhenti pada aktivitas, namun baru bernilai ketika audiens menangkap makna, berubah sikap atau perilakunya, sehingga organisasi dan publik sama sama merasakan manfaatnya,” demikian salah satu penekanan dalam materi yang disampaikan Iwan.

Pada bagian akhir, Iwan mendorong mahasiswa untuk bergerak dari sekadar menjadi konsumen informasi menuju kontributor. Mahasiswa diajak mengubah kebiasaan scrolling menjadi investigating, reacting menjadi reflecting, creating content menjadi creating consequence, making claims menjadi providing evidence, serta bergerak dari sekadar beradaptasi terhadap perubahan menjadi ikut membentuk perubahan.

“Do not just watch change. Make change worth trusting,” menjadi pesan penutup dalam materi Iwan kepada para peserta.

Pelaksanaan Guest Lecture #1 sekaligus menjadi bagian dari perjalanan awal Program Studi Magister Terapan Komunikasi Digital dan Media Sekolah Vokasi IPB University. Program studi ini mulai dibuka pada semester ini dengan 28 mahasiswa baru yang tercatat sebagai angkatan pertama.

Ke depan, Program Studi Magister Terapan Komunikasi Digital dan Media akan terus mengembangkan kegiatan guest lecture dengan menghadirkan praktisi dari berbagai bidang yang relevan dengan komunikasi digital dan media. Forum ilmiah semacam ini diharapkan menjadi ruang perjumpaan antara perspektif akademik dan pengalaman profesional sekaligus semakin mendekatkan mahasiswa dengan perkembangan dan kebutuhan nyata dunia industri.(adi/*)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *