Galian Batu Diduga Sumbang Sedimen Sungai Cibeet, Petani Alami Krisis Air

oleh
banner 468x60

Bogor, pelitabaru.com – Tak kurang dari 790 hektare sawah yang membentang di Desa Sirnarasa, Desa Sirnasari, Desa Tanjungsari, Desa Pasirtanjung, dan Desa Tanjungrasa, mengalami krisis air akibat pasokan air irigasi dari Sungai Cibeet terus berkurang.

“Sawah di 5 Desa itu adalah sawah kelas A. Dahulu setiap 1 hektar menghasilkan 5 ton padi jenis IR untuk satu kali panen, dan setiap tahun panen hingga dua sampai tiga kali. Tapi itu dahulu, nah sekarang sudah lebih dari 4 tahun hanya hanya mampu panen satu kali dalam satu tahun, bahkan tidak sedikit yang gagal panen,” ungkap Abdul Gofur petani Desa Tanjungsari, Senin (6/7/2026)

banner 336x280

Ia mengatakan semua itu akibat dari Saluran Irigasi Cikumpeni tidak berfungsi dan kekurangan pasokan air dari Sungai Cibeet. Petani hanya mengandalkan curah hujan serta aliran dari Sungai Pareang yang debit airnya tidak stabil. Kondisi ini semakin diperparah saat musim kemarau.

“Sedimen di Sungai Cibeet menghambat pasokan air ke Saluran Irigasi Cikumpeni. Ada galian batu itu galian c kalau tidak salah itu lahan Perhutani yang diduga menyumbang sedimen di Sungai Cibeet. Itu imbasnya air sungai yang masuk ke saluran irigasi berkurang,” keluhnya.

Manager Perlindungan WKR dan Pemulihan Ekosistem Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Nasional, Ferry Widodo, WALHI Nasional memandang perlunya dilakukannya investigasi serta assesment lapangan secara terbuka dengan melibatkan masyarakat terdampak.

Menurutnya, persoalan yang dialami ribuan petani di Kecamatan Tanjungsari Bogor tidak boleh dipersempit hanya sebagai kerusakan infrastruktur irigasi. Krisis air yang berlangsung selama bertahun-tahun menunjukkan adanya persoalan tata kelola sumber daya air dan lingkungan hidup yang harus ditangani secara menyeluruh.

Pemerintah Kabupaten Bogor bersama instansi terkait perlu segera memastikan penyebab utama terganggunya fungsi Irigasi Cikumpeni, termasuk melakukan evaluasi terhadap sedimentasi sungai, kondisi daerah aliran sungai, kerusakan infrastruktur irigasi, serta menindak apabila terdapat aktivitas yang menyebabkan penurunan fungsi lingkungan.

“Pemulihan tidak cukup hanya berupa pengerukan saluran, tetapi harus mencakup pemulihan fungsi ekosistem hulu hingga hilir agar hak petani atas air dan penghidupan dapat dipenuhi secara berkelanjutan. Informasi adanya galian c di sekitar Sungai Cibeet juga perlu menjadi perhatian,” tegasnya. (Sab)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *