Bupati Rudy Tak Pernah Berhenti Membangun Kabupaten Bogor

oleh
banner 468x60

Bogor, Pelita Baru

Dibawah Bupati Rudy Susmanto, Kabupaten Bogor tak pernah berhenti membangun. Usai bersolek di kawasan Ibukota, Cibinong, kini sejumlah wilayah pelosok, mulai dari kawasan Bogor Barat hingga Selatan, kembali bakal dipoles.

banner 336x280

Di Bogor Barat, Rudy Susmanto mendorong pembukaan akses jalan baru sepanjang sekitar delapan kilometer untuk memperkuat konektivitas. Menariknya, akses baru tersebut direncanakan untuk menghubungkan kawasan Akademi Olahraga Nasional, Pusat Pelatihan Tim Nasional, dan venue pelatihan dengan jaringan jalan utama.

“Rencana pemerintah pusat itu akan ingin membuat bukaan langsung ke lokasi itu. Kalau misalnya ini proyek strategis nasional, pasti akan ada pintu khusus,” kata Sekretaris Daerah Kabupaten Bogor Ajat Rochmat Jatnika, baru-baru ini.

Berdasarkan dokumen tinjauan aksesibilitas kawasan, akses menuju lokasi pengembangan tahap I, II, dan III saat ini relatif sulit, baik dari arah Jalan Raya Pabuaran, Jalan Raya Rancabungur maupun Jalan Parung Hijau dan Jalan H. Miing.

Sejumlah jalan lingkungan menuju kawasan memiliki lebar yang cenderung menyempit sehingga menyulitkan kendaraan roda empat, bus hingga truk untuk memasuki lokasi pengembangan.

Untuk mengatasi kondisi tersebut, direncanakan pembangunan jalan utama kawasan berupa boulevard sepanjang sekitar delapan kilometer yang dapat diakses dari jaringan Tol Lingkar Bogor.

Ajat menjelaskan pembangunan kawasan olahraga nasional sekaligus dapat mempercepat rencana konektivitas yang sebelumnya telah disiapkan Bupati Bogor Rudy Susmanto dalam jangka panjang.

Salah satunya pembangunan Jalan Rancabungur-Leuwiliang yang nantinya dapat terkoneksi dengan wilayah Kemang dan sejumlah jaringan jalan lainnya di Bogor Barat.

“Jadi nanti ada Jalan Rancabungur-Leuwiliang. Ini sebenarnya perencanaan jangka panjang kita. Hanya karena ini dijadikan proyek strategis nasional dan pusat pun membuat jalan di sini, kurang lebih trasenya hampir sama. Jadi kita manfaatkan itu,” ujarnya.

Menurut Ajat, konektivitas tersebut memungkinkan akses dari Leuwiliang menuju Kemang semakin terbuka. Jalur itu juga berada tidak jauh dari koridor Bojonggede-Kemang (Bomang) yang sedang dikembangkan Pemkab Bogor.

Pemerintah daerah juga menjaga trase sejumlah rencana jalan agar tidak terhambat pembangunan lain, termasuk trase perpanjangan Tol Lingkar Bogor menuju kawasan Dramaga.

Ajat mengatakan pemerintah daerah belum mendapatkan informasi mengenai jadwal pembebasan lahan untuk pembangunan jalan tol tersebut karena menjadi kewenangan pemerintah pusat.

“Pembebasan itu dari pusat semuanya. Belum ada informasi kapan pembebasannya. Tapi biasanya kalau sudah banyak proyek strategis nasional, mereka percepat sendiri,” katanya.

Selain dari arah Bogor, akses awal untuk mendukung mobilisasi pembangunan sport center juga direncanakan dari arah BSD-Serpong melalui kawasan Agrinas.

Pemkab Bogor bahkan mengusulkan agar pembukaan jalan boulevard menuju kawasan tersebut dapat dilakukan terlebih dahulu melalui program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD).

“Pak Bupati kemarin menyarankan itu. Hanya kalau di kementerian pasti mereka lapor dulu ke pimpinan. Itu belum ada jawaban ke kita,” kata Ajat.

Kawasan sport center nasional direncanakan menempati area sekitar 500 hektare, sedangkan keseluruhan kawasan pengembangan bersama fasilitas Kementerian Pertahanan mencapai sekitar 750 hektare yang berada di wilayah Rancabungur dan sebagian Rumpin.

Kementerian Pemuda dan Olahraga sebelumnya menyebut pembangunan Akademi Olahraga Nasional dan Pusat Pelatihan Tim Nasional tersebut membutuhkan anggaran sekitar Rp5 triliun.

Pembangunan fisik direncanakan berlangsung pada 2027-2028 dan ditargetkan seluruh fasilitas selesai pada awal 2029.

Kawasan tersebut akan dilengkapi sekolah khusus atlet mulai jenjang SD, SMP hingga SMA, pusat penelitian olahraga, asrama, serta fasilitas latihan untuk 21 cabang olahraga unggulan nasional.

Selain itu, Pemkab Bogor juga terus menyiapkan pengembangan sarana transportasi untuk memperkuat konektivitas antarwilayah. Selain kereta gantung di kawasan Puncak, Bogor Barat disiapkan memiliki jalur kereta api Jasinga-Tenjo atau Parung Panjang.

Menurut Ajat, pengembangan berbagai moda transportasi tersebut merupakan bagian dari arahan Bupati Bogor Rudy Susmanto untuk membangun sistem transportasi yang terintegrasi dan menjangkau berbagai wilayah.

Menurut Ajat, pembangunan transportasi tidak hanya diarahkan untuk mengurai kepadatan lalu lintas, tetapi juga membuka akses dan mendorong pertumbuhan ekonomi di wilayah yang selama ini membutuhkan penguatan konektivitas.

“Pengembangan transportasi ini merupakan bagian dari upaya membangun konektivitas antarwilayah. Jadi bukan hanya di Puncak, tetapi juga bagaimana wilayah Bogor Barat memiliki dukungan transportasi massal melalui rencana kereta Tenjo-Jasinga,” kata Ajat.

Berdasarkan dokumen rencana pengembangan infrastruktur transportasi berbasis rel Dinas Perhubungan Kabupaten Bogor, terdapat dua alternatif trase yang disiapkan untuk melayani kawasan Bogor Barat, yakni Tenjo-Jasinga dan Parung Panjang-Jasinga.

Trase Tenjo-Jasinga dirancang sepanjang 18,6 kilometer dengan tiga titik stasiun dan melintasi Kecamatan Tenjo serta Jasinga. Titik yang direncanakan berada di Tenjo, Kampung Singabraja, Pangaur, hingga Jasinga.

Sementara alternatif Parung Panjang-Jasinga memiliki trase sekitar 26,5 kilometer dengan enam titik stasiun. Jalur tersebut dirancang melintasi wilayah Parung Panjang, Rumpin, Cigudeg, Jasinga, dan Tenjo.

Pengembangan jalur kereta Bogor Barat diarahkan untuk melayani pergerakan komuter sekaligus mendukung aglomerasi wilayah. Jalur tersebut dirancang sebagai pengumpan atau feeder penumpang menuju Stasiun Tenjo maupun Parung Panjang sehingga masyarakat Bogor Barat dapat terhubung dengan jaringan KRL Commuter Line Jabodetabek.

Kawasan yang menjadi sasaran pengembangan memiliki karakter tata guna lahan beragam, mulai dari permukiman, pertanian, perkebunan, kawasan industri hingga lahan terbuka hijau. Wilayah Jasinga, Tenjo dan Parung Panjang juga tercatat memiliki pertumbuhan penduduk sekitar 0,91 persen.

Ajat mengatakan keberadaan kereta tersebut diharapkan menjadi salah satu pilihan transportasi masyarakat Bogor Barat sekaligus memperkuat konektivitas kawasan dengan jaringan transportasi yang lebih luas.

“Prinsipnya, kita ingin transportasi menjadi bagian dari pengembangan wilayah. Ketika konektivitasnya semakin baik, mobilitas masyarakat meningkat, pusat-pusat ekonomi baru tumbuh dan manfaat pembangunan bisa dirasakan lebih merata,” ujarnya.

Hasil kajian awal Badan Perencanaan Pembangunan, Penelitian dan Pengembangan Daerah (Bapperida) Kabupaten Bogor pada 2025 bahkan lebih merekomendasikan trase Parung Panjang-Jasinga untuk dibangun setelah mempertimbangkan 15 kriteria dari aspek teknis, ekonomi, sosial dan lingkungan.

Dalam kajian tersebut, trase Parung Panjang-Jasinga dirancang menggunakan konstruksi at grade atau di permukaan dengan jenis rel heavy rail. Panjang trase dalam kajian teknis sekitar 27,26 kilometer dengan enam stasiun baru dan satu stasiun eksisting di Parung Panjang.

Waktu tempuh kereta diproyeksikan sekitar 24 menit. Jalur tersebut juga direncanakan memiliki enam perlintasan sebidang dan 17 jembatan, dengan biaya operasional kereta diperkirakan Rp20.000-Rp30.000 per penumpang.

Pengembangan jalur itu juga sejalan dengan rencana pengembangan kawasan Parung Panjang sebagai pusat pelayanan kawasan dan transit oriented development (TOD). Sementara Tenjo diarahkan untuk pengembangan stasiun barang dan penguatan konektivitas jaringan antarkota dan perkotaan.

Menurut Ajat, pengembangan transportasi tersebut harus disiapkan secara terintegrasi dengan moda lainnya, termasuk angkutan umum dan rencana pengembangan transportasi berbasis listrik.

Karena itu, setiap rencana pembangunan sarana transportasi masih membutuhkan kajian komprehensif, mulai dari trase, kapasitas, keselamatan, tata ruang, kebutuhan lahan, dampak lingkungan, integrasi antarmoda hingga kelayakan investasi.

Dokumen Dishub Kabupaten Bogor membagi pelaksanaan rencana menjadi empat tahap. Tahap awal berupa pra-studi kelayakan, penentuan trase indikatif dan konsultasi publik, kemudian dilanjutkan studi kelayakan komprehensif, analisis mengenai dampak lingkungan (AMDAL), serta desain awal.

Tahap berikutnya mencakup penyusunan detail engineering design (DED), pembebasan lahan dan pencarian skema pendanaan, sebelum memasuki konstruksi fisik, pengadaan sarana kereta, uji coba terbatas hingga operasional penuh.

“Semua harus dikaji secara komprehensif. Arahan Bupati adalah bagaimana kita menyiapkan transportasi yang tidak hanya menyelesaikan persoalan hari ini, tetapi juga menjadi fondasi pengembangan Kabupaten Bogor ke depan,” kata Ajat. (duan)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *