Bogor, Pelita Baru
Tak mau kecolongan, Bupati Bogor, Rudy Susmanto rupanya sudah berancang-acang mengantisipasi musim kemarau panjang yang diprediksi akan melanda Indonesia dalam waktu dekat ini.
Tak hanya sejumlah program yang dicanangkan, langkah-langkah awal menghadapi potensi kekeringan pun rupanya sudah dilakukan, khususnya untuk sektor pertanian dan perikanan yang menjadi fokus utama orang nomor satu di Bumi Tegar Beriman itu.
“Tahapan-tahapan sudah segera kami persiapkan, bahkan sudah mulai berjalan. Salah satunya normalisasi saluran irigasi yang mengairi kurang lebih 800 hektare sawah di Kecamatan Tanjungsari, wilayah timur Kabupaten Bogor,” ujar Rudy, Minggu (21/6/2026).
Selain itu, Pemkab Bogor juga menyiapkan sejumlah titik sumber air sebagai langkah mitigasi untuk mengantisipasi terjadinya kekeringan di berbagai wilayah.
Menariknya, dalam pelaksanaannya, Pemkab Bogor menggandeng unsur TNI, Polri, serta kelompok masyarakat agar penanganan dapat dilakukan secara terpadu dan efektif.
Tak hanya wilayah timur, lanjut Rudy, pihaknya juga melakukan normalisasi sejumlah saluran irigasi yang berfungsi mengairi kolam-kolam budidaya perikanan di kawasan minapolitan yang dinilai penting, mengingat debit air biasanya mengalami penurunan signifikan saat musim kemarau.
”Kami akan melakukan normalisasi beberapa saluran irigasi untuk mengairi kolam-kolam di wilayah minapolitan. Karena pada saat kondisi kemarau, air sudah surut,” jelas Rudy.
Ia menegaskan, Pemerintah Kabupaten Bogor berkomitmen menjaga keberlangsungan sektor pertanian dan perikanan sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan pangan daerah.
Oleh karena itu, berbagai langkah pencegahan dan penanganan kekeringan akan terus dilakukan secara berkelanjutan. ”Kami ingin memastikan bahwa seluruh sektor perikanan dan pertanian yang ada di Kabupaten Bogor tetap dapat berjalan dalam kondisi apa pun,” pungkasnya.
Sementara itu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memutakhirkan prediksi iklim 2026 dengan menyebut fenomena El Nino diperkirakan segera aktif dan berpotensi bertahan hingga awal 2027. Kondisi tersebut diprediksi menyebabkan musim kemarau tahun ini berlangsung lebih kering dibandingkan kondisi normal di sebagian besar wilayah Indonesia.
Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, menjelaskan bahwa hasil pemantauan hingga akhir Mei 2026 menunjukkan anomali suhu muka laut di Samudera Pasifik telah mencapai positif 1,0 derajat Celsius, sementara indeks Indian Ocean Dipole (IOD) tercatat sebesar minus 0,56.
“Fenomena El Nino menyebabkan penyimpangan iklim di berbagai wilayah dunia, tidak hanya di Indonesia. Namun, untuk Indonesia, El Nino umumnya berdampak pada penurunan curah hujan sehingga kondisi menjadi lebih kering, terutama pada periode Juni hingga Januari,” katanya.
Seiring perkembangan El Nino, BMKG memperkirakan semakin banyak wilayah Indonesia akan memasuki musim kemarau dalam beberapa bulan ke depan. Pada Juni 2026, sebanyak 198 zona musim (31,6 persen luas daratan Indonesia) diprediksi mulai mengalami musim kemarau.
Wilayah tersebut meliputi sebagian besar Sumatra, Kalimantan Barat, sebagian besar Banten, DKI Jakarta bagian selatan, Jawa Tengah, sebagian Jawa Timur, sebagian besar Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, sebagian Sulawesi, Maluku, Papua Barat, dan Papua bagian timur.
Sementara itu, pada Juli 2026, sebanyak 66 zona musim atau 7,26 persen wilayah Indonesia diperkirakan memasuki musim kemarau, antara lain di Jambi bagian barat, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan bagian timur, sebagian besar Sulawesi, Maluku Utara, dan sebagian Maluku.
BMKG juga mencatat bahwa awal musim kemarau 2026 cenderung datang lebih awal dibandingkan rata-rata klimatologis periode 1991–2020. Sebanyak 308 zona musim atau 39,7 persen luas wilayah Indonesia diprediksi mengalami awal kemarau yang lebih maju dari biasanya.
Adapun 165 zona musim (17,03 persen) diperkirakan berlangsung normal, sedangkan 113 zona musim (9,52 persen) diprediksi mengalami kemunduran awal musim kemarau.
Wilayah yang diperkirakan mengalami kemarau lebih awal antara lain Aceh, sebagian Sumatra Utara, Riau, Kepulauan Riau, sebagian besar Jambi, Sumatra Selatan, Bangka Belitung, Lampung bagian utara, sebagian besar Banten, DKI Jakarta, sebagian Jawa Barat, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, sebagian Kalimantan, Sulawesi, Maluku, serta sejumlah wilayah di Papua.
Sedangkan, wilayah yang diperkirakan mengalami kemarau lebih kering meliputi sebagian Sumatra, seluruh Pulau Jawa, sebagian besar Kalimantan, Bali, Nusa Tenggara Barat, sebagian Nusa Tenggara Timur, sebagian besar Sulawesi, Maluku Utara, Maluku, serta sebagian Pulau Papua.
BMKG mengimbau pemerintah daerah, sektor pertanian, pengelola sumber daya air, serta masyarakat untuk meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi kekeringan, gangguan ketersediaan air bersih, hingga meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan selama periode kemarau 2026. (duan/*)












