Merauke, Pelitabaru.com – Keterbatasan pakan dan banyaknya lalat pengisap darah menjadi tantangan kesehatan ternak yang dihadapi peternak di Distrik Semangga, Kabupaten Merauke, Papua Selatan. Menanggapi kondisi tersebut, Tim 17 Ekspedisi Patriot IPB University menghadirkan ahli medik veteriner dalam kegiatan edukasi kesehatan ternak untuk membantu peternak mengenali gejala penyakit serta memahami langkah pencegahannya.
Kegiatan bertajuk Manajemen Sistem Peternakan Skala Industri dan Pengembangan Pertanian Terintegrasi Berkelanjutan ini dilaksanakan di Balai Kampung Marga Mulya, Distrik Semangga, Kabupaten Merauke pada Rabu (21/10/2026).
Kegiatan tersebut diikuti 45 peternak, perwakilan Dinas Ketahanan Pangan, Peternakan dan Kesehatan Hewan, mantri kesehatan hewan, serta unsur pemerintah kampung dan perguruan tinggi.
Dalam sesi kesehatan ternak, drh. Moh Adis Mawaddah P. Saramba, Ahli Pertama Medik Veteriner, menjelaskan pentingnya mengenali kondisi sapi melalui pengamatan sehari-hari. “Perubahan nafsu makan, perilaku, kondisi mata dan bulu, hingga bentuk kotoran dapat menjadi petunjuk awal adanya gangguan kesehatan pada ternak,” ujar Moh Adis.
Sejumlah penyakit turut dibahas, mulai dari cacingan, diare, kembung, dan pink eye hingga penyakit mulut dan kuku (PMK) serta gangguan reproduksi. Peternak juga mendapatkan penjelasan mengenai upaya pencegahan melalui penyediaan pakan dan air bersih, kebersihan kandang, pengendalian vektor penyakit, vaksinasi sesuai kebutuhan wilayah, serta pemberian obat cacing berdasarkan arahan petugas kesehatan hewan.
Diskusi berlangsung dengan membahas persoalan yang dihadapi peternak. Salah satunya adalah pertanyaan mengenai sapi yang mengalami kelumpuhan atau kesulitan berjalan. Kasus tersebut menjadi pengingat bahwa perubahan kondisi fisik ternak perlu diperhatikan sejak awal dan ditindaklanjuti dengan pemeriksaan oleh petugas kesehatan hewan agar penyebabnya dapat diketahui dan penanganan yang tepat diberikan.
Ketua Tim 17 Ekspedisi Patriot IPB University, Dr. drh. Dwi Budiono, M.Si., turut menyoroti pentingnya pengendalian serangga yang mengganggu ternak. Dalam kegiatan ini, tim memperagakan pembuatan flytraktan, yaitu atraktan untuk menarik lalat, sebagai salah satu alternatif pengendalian lalat di sekitar ternak. Peternak juga membawa pulang perangkat flytraktan untuk dicoba di lingkungan pemeliharaan masing-masing.
Selain kesehatan ternak, Adis menilai peternakan rakyat di Distrik Semangga memiliki potensi untuk terus dikembangkan. Menurutnya, upaya tersebut perlu didukung oleh pengelolaan pakan, kebersihan kandang, dan pemeliharaan mutu genetik sapi.
“Untuk kesehatan ternak, perlu diperhatikan pakan yang berkualitas, air bersih, dan sanitasi atau kebersihan kandang,” ujar Adis.
Ia juga mendorong peternak untuk mulai mempertimbangkan pengembangan usaha penggemukan sapi serta penanaman hijauan pakan berkualitas, seperti rumput Pakchong dan lamtoro, yang berpotensi mendukung pemeliharaan ternak di tengah kondisi cuaca kering.
Melalui kegiatan ini, Tim 17 Ekspedisi Patriot IPB University berharap peternak semakin mampu mengenali perubahan kondisi ternak, menerapkan langkah pencegahan penyakit, dan berkonsultasi dengan petugas ketika menemukan gejala yang mengkhawatirkan.
Penguatan pengetahuan kesehatan ternak menjadi salah satu langkah untuk mendukung produktivitas dan keberlanjutan usaha peternakan rakyat di kawasan transmigrasi. (adi/*)












