Merauke, Pelitabaru.com — Bisnis padi tidak hanya bergantung pada petani yang menanam dan memanen, tetapi juga pada banyak lembaga yang mendukung perjalanan gabah hingga menjadi beras dan sampai kepada konsumen. Ketika setiap lembaga berjalan sendiri-sendiri, peluang untuk membangun usaha yang lebih kuat dan menguntungkan menjadi sulit diwujudkan. Karena itu, keterhubungan antarlembaga menjadi salah satu hal penting dalam pengembangan bisnis padi di Kawasan Transmigrasi Salor.
Persoalan tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam pelatihan “Penguatan Kelembagaan Kemitraan Petani dan Offtaker untuk Membangun Kepastian Pasar Beras di Kawasan Transmigrasi Salor” yang diselenggarakan Tim 5 Ekspedisi Patriot IPB University 2026 di Balai Kampung Yasa Mulya/SP2, Distrik Tanah Miring, Kabupaten Merauke, pada Rabu (14/10/2026).
Ketua Tim 5 Ekspedisi Patriot IPB University 2026, Dr. Doni Sahat Tua Manalu, S.E., M.Si., yang juga merupakan dosen Program Studi Manajemen Agribisnis Sekolah Vokasi IPB University dan Ketua Bidang Pengabdian kepada Masyarakat Sekolah Vokasi IPB University, menyampaikan materi mengenai penguatan kelembagaan ekonomi desa berbasis One Village One CEO (OVOC).
Dalam pemaparannya, Doni menjelaskan bahwa ekosistem agribisnis padi di Salor melibatkan banyak pihak. Pada subsistem hulu terdapat gabungan kelompok tani (Gapoktan), kelompok tani (Poktan), BUMK, dan toko pertanian.
Kegiatan budidaya dijalankan petani, sedangkan pekerjaan pascapanen melibatkan Brigade Pangan maupun penyedia jasa combine harvester. Selanjutnya, gabah diolah oleh Rice Milling Unit (RMU), sebelum beras memasuki jalur distribusi dan pemasaran melalui Bulog, pedagang pengecer, hingga konsumen rumah tangga, usaha hotel, restoran, dan kafe (HORECA), serta warung makan.
Banyaknya lembaga tersebut merupakan potensi, tetapi juga membutuhkan koordinasi agar hubungan kerja sama dapat memberikan manfaat bagi setiap pihak.
Doni mengibaratkan kekuatan kelembagaan seperti sapu lidi. Satu lidi mudah dipatahkan, sedangkan banyak lidi yang disatukan menjadi lebih kuat. Analogi ini menggambarkan pentingnya membangun hubungan antarlembaga agar pelaku usaha padi tidak bekerja secara terpisah.
“Ketika lembaga-lembaga dalam bisnis padi saling terhubung, mereka memiliki peluang lebih besar untuk berkembang bersama. Karena itu, dibutuhkan aktor profesional yang mampu menghubungkan berbagai kepentingan tersebut,” kata Doni.
Melalui pendekatan OVOC, penguatan kelembagaan diarahkan pada upaya menghubungkan petani, kelompok tani, lembaga ekonomi desa, pelaku pengolahan, dan calon pembeli atau offtaker. Keterhubungan tersebut diharapkan membantu membangun pola kemitraan yang lebih terarah, termasuk dalam pembicaraan mengenai mutu, volume, harga, dan penyerapan beras.
Koordinator Lapangan Tim 5, Doki Efendi, menekankan bahwa pelatihan perlu diikuti tindak lanjut yang nyata. “Kegiatan ini diharapkan mampu mendorong petani memetakan lembaga mana saja yang belum optimal, sehingga mereka dapat memberikan masukan agar lembaga tersebut semakin berperan. Tindak lanjut setelah acara ini sangat penting bagi kebaikan bisnis padi di Kawasan Transmigrasi Salor,” ungkapnya.
Pelatihan ini diikuti Gapoktan, Poktan, petani padi, dan Brigade Pangan di Distrik Tanah Miring. Kepala Kampung Yasa Mulya/SP2, Supriyanto, Kapolsek Tanah Miring, Wilustono, serta perwakilan Balai Penyuluhan Pertanian Distrik Tanah Miring turut hadir.
Penguatan bisnis padi di Salor pada akhirnya bukan hanya persoalan produksi. Kemampuan berbagai lembaga untuk membangun hubungan yang saling menguntungkan menjadi bagian penting dalam menciptakan usaha pertanian yang lebih terorganisasi dan membuka peluang kepastian pasar bagi beras lokal. (adi/*)












