Petani Merauke Ungkapkan Kendala Bisnis Padi: Air, Benih, Solar hingga Jalan Usaha Tani

oleh
banner 468x60

Merauke, Pelitabaru.com – Bagi petani di Kabupaten Merauke, menghasilkan beras bukan hanya soal menanam dan memanen padi. Setelah padi tumbuh di sawah, masih ada banyak persoalan yang menentukan apakah hasil panen dapat memberikan keuntungan yang layak bagi petani.

Berbagai persoalan tersebut mengemuka dalam Focus Group Discussion (FGD) Analisis Rantai Nilai dalam Penguatan Ekosistem Bisnis Beras Lokal Merauke yang diselenggarakan Tim 5 Ekspedisi Patriot IPB University di Aula Kodam XXIV/Mandala Trikora, Sabtu (29/8/2026).

banner 336x280

FGD digelar merupakan rangkaian dari pelaksanaan Program Ekspedisi Patriot 2026 hasil kerja sama Kementerian Transmigrasi dengan IPB University tersebut menghadirkan petani, ketua kelompok tani, penyuluh, pengelola rice milling unit (RMU), pemerintah distrik dan kampung, TNI-Polri, serta pelaku usaha lainnya.

Satu per satu persoalan disampaikan langsung oleh petani. Margono, Ketua Brigade Pangan SP4 Distrik Tanah Miring, menyampaikan bahwa kebutuhan air masih menjadi persoalan penting. Ia berharap terdapat penambahan pintu air dan pompa agar pengaturan air ke lahan dapat dilakukan dengan lebih baik. Ia juga menyoroti kebutuhan benih unggul dan combine harvester untuk membantu proses panen.

Hal serupa disampaikan Musa, petani SP4. Selain berharap benih yang digunakan dapat ditanam lebih dari tiga musim tanam, ia juga mengungkapkan bahwa mendapatkan solar subsidi masih menjadi tantangan.

Sementara itu, Mex, Sekretaris Kampung SP2 Distrik Tanah Miring, menyampaikan bahwa peralatan pertanian sebenarnya sudah cukup membantu petani. Namun, kebutuhan solar masih belum mencukupi. Persoalan lain yang tidak kalah penting adalah kondisi jalan usaha tani.

“Kalau jalan usaha tani belum baik, petani kesulitan membawa hasil produksi keluar dari lahan,” ujarnya, dan menjadi salah satu persoalan yang mengemuka dalam diskusi.

Kondisi tersebut semakin terasa ketika musim hujan. Jalan yang belum diperkeras atau dibeton dapat menjadi sulit dilalui sehingga hasil panen yang seharusnya segera dibawa ke tempat penggilingan justru menghadapi kendala di perjalanan.

Supriyanto, Kepala Kampung SP2, juga menyampaikan harapan agar pembangunan jalan usaha tani dapat terus didorong. Namun, saat ini pembangunan tersebut masih menghadapi keterbatasan anggaran.

Persoalan tidak berhenti di sawah. Pada saat panen, ketersediaan combine harvester juga menjadi perhatian. Margono menyampaikan bahwa Brigade Pangan di SP4 membutuhkan tambahan combine harvester. Ketika alat tidak tersedia, petani harus menunggu giliran jasa combine yang sedang digunakan di lokasi lain.

Bagi Tim 5 Ekspedisi Patriot IPB University yang dipimpin Dr. Doni Sahat Tua Manalu, S.E., M.Si., berbagai persoalan tersebut menunjukkan bahwa bisnis padi merupakan satu rangkaian yang saling berkaitan. Masalah di satu titik dapat berdampak pada titik lainnya.

Karena itu, Tim 5 tidak hanya melihat persoalan dari sisi produksi. Ketersediaan air, benih, solar, alat pertanian, jalan usaha tani, hingga proses pascapanen perlu dilihat sebagai bagian dari satu rantai bisnis.

Lailah Azizah Syukur, anggota Tim 5 Ekspedisi Patriot IPB University, mengatakan bahwa berbagai usulan masyarakat akan menjadi bagian dari rekomendasi tim.

“Masukan mengenai jalan usaha tani dan pintu air akan kami masukkan ke dalam laporan rekomendasi. Kami ingin memastikan kebutuhan yang disampaikan masyarakat tidak berhenti sebagai diskusi, tetapi dapat diterjemahkan menjadi usulan yang lebih konkret,” ujar Lailah.

Sementara itu, Yanuarius Yoseph Resubun, Kabid Transmigrasi Kabupaten Merauke, meminta agar ruas-ruas jalan usaha tani yang menjadi kebutuhan masyarakat didata sehingga dapat diusulkan melalui pemerintah.

Selanjutnya, Wilda yang merupakan salah satu anggota Tim TEP 5 IPB University menyampaikan bahwa di tengah berbagai tantangan tersebut, para peserta FGD sepakat bahwa penguatan bisnis padi harus dilakukan secara bersama-sama.

“Bukan hanya petani yang harus bekerja lebih keras, tetapi juga diperlukan dukungan pemerintah, pelaku usaha, penyuluh, lembaga keuangan, serta pihak lain yang berada dalam rantai bisnis padi, Hal ini akan menjadi Dasar bagi kami untuk melakukan pengembangan lebih lanjut,” kata Wilda.

Bagi petani, harapannya sederhana: air tersedia ketika dibutuhkan, benih unggul mudah diperoleh, solar mencukupi, alat panen tersedia, hasil panen mudah dibawa keluar dari sawah, dan pada akhirnya terdapat pasar yang memberikan harga yang layak.

Dari berbagai masukan tersebut, Tim 5 Ekspedisi Patriot IPB University akan menyusun rekomendasi dan rencana tindak lanjut dalam tiga bulan ke depan. Harapannya, berbagai hambatan yang selama ini berada di sepanjang rantai bisnis padi dapat dikurangi secara bertahap sehingga usaha tani di Merauke menjadi semakin menguntungkan bagi petani. (adi/*)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *