Ajalo Bird Race Internasional Championship dan Pojok Lensa Angkat Malut Sebagai Surga Burung Destinasi Ekowisata Kelas Dunia

oleh
banner 468x60

Maluku, pelitabaru.com – Maluku Utara mulai mengukuhkan posisinya sebagai salah satu destinasi ekowisata kelas dunia melalui penyelenggaraan Ajalo International Bird Race 2026, ajang pengamatan dan fotografi burung internasional yang untuk pertama kalinya digelar di provinsi tersebut.

Kompetisi yang berlangsung di Resort Tayawi, SPTN Wilayah I Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata, Kota Tidore Kepulauan, pada 27–29 Juli 2026 itu tidak hanya menjadi perlombaan bagi para pengamat burung dan fotografer alam, tetapi juga strategi memperkenalkan kekayaan biodiversitas Indonesia kepada dunia.

banner 336x280

Puluhan peserta dari berbagai kalangan, mulai dari mahasiswa, fotografer profesional, komunitas pengamat burung, pelaku swasta hingga peserta mancanegara, mengikuti kegiatan yang diprakarsai Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata tersebut.

Sekretaris Daerah Provinsi Maluku Utara, Samsuddin Abdul Kadir, mengatakan penyelenggaraan kompetisi internasional itu menjadi momentum penting untuk memperkuat promosi kawasan konservasi sekaligus memperkenalkan potensi keanekaragaman hayati Maluku Utara.

Menurutnya, Ajalo International Bird Race bukan sekadar ajang kompetisi, melainkan gerakan konservasi yang menghubungkan pelestarian alam dengan pengembangan pariwisata berkelanjutan.

“Melalui kegiatan ini kita ingin menunjukkan bahwa kekayaan hayati Maluku Utara layak dikenal dunia sekaligus menjadi kekuatan baru bagi pengembangan ekowisata Indonesia,” ujarnya.

Kepala Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata, Budhi Chandra, menjelaskan kompetisi tersebut mempertemukan pegiat konservasi, pengamat burung, dan fotografer alam dalam satu kegiatan yang menggabungkan observasi satwa liar dengan dokumentasi visual.

Ajang itu membuka dua kategori lomba, yakni Birding yang dapat diikuti tim maupun individu, serta Bird Photography yang diperuntukkan bagi peserta perorangan.

Selain kompetisi, penyelenggara juga menggelar aksi konservasi melalui pelepasliaran dua spesies burung endemik Maluku Utara, yakni Kakatua Putih (Cacatua alba) dan Nuri Ternate (Lorius garrulus).

Pelepasliaran dilakukan bersama Sekretaris Daerah Maluku Utara dan tenaga ahli dari Kementerian Kehutanan sebagai simbol komitmen menjaga kelestarian satwa liar.

Budhi menegaskan, kegiatan bird race di Indonesia terus berkembang bukan hanya sebagai perlombaan, tetapi juga menjadi gerakan yang memperkuat komunitas pengamat burung sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga keanekaragaman hayati.

Pemerintah Provinsi Maluku Utara menilai pengembangan ekowisata berbasis konservasi dapat menjadi alternatif penggerak ekonomi daerah tanpa mengorbankan kelestarian lingkungan.

Samsuddin menegaskan, kekayaan alam Maluku Utara harus dikelola secara berkelanjutan agar mampu memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar sekaligus menjaga keberlangsungan ekosistem.

“Ekowisata berbasis konservasi adalah masa depan pariwisata Indonesia. Dengan menjaga kelestarian alam, Maluku Utara tidak hanya melindungi ekosistemnya, tetapi juga membuka peluang ekonomi berkelanjutan dan memperkuat posisinya sebagai destinasi unggulan di tingkat internasional,” katanya.

Ajalo International Bird Race 2026 juga menjadi rangkaian menuju peringatan Hari Konservasi Alam Nasional sekaligus mempertegas komitmen pemerintah daerah dalam menjaga kawasan konservasi yang selama ini dikenal sebagai habitat berbagai spesies burung endemik Indonesia. (her/*)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *