UKP Mendengar, Waketum ICCN Raffi Ahmad Serap Aspirasi Ekosistem Kreatif Banyumas–Cilacap

oleh -68 Dilihat
banner 468x60

Banyumas, Pelitabaru.com – Utusan Khusus Presiden Bidang Pekerja Seni dan Kepemudaan yang juga Wakil Ketua Umum (Waketum) Indonesia Creative Cities Network (ICCN), Raffi Ahmad, melakukan kunjungan kerja ke Kabupaten Banyumas dalam kegiatan bertajuk “UKP Mendengar”, sebuah forum dialog langsung antara negara dan pelaku ekosistem seni serta ekonomi kreatif di daerah, Sabtu (17/1/2026).

Kegiatan ini digagas bersama Indonesia Creative Cities Network (ICCN) dan Komite Ekonomi Kreatif Provinsi Jawa Tengah sebagai upaya memperkuat konektivitas kebijakan pusat dan daerah, sekaligus memperdalam pemahaman atas tantangan nyata yang dihadapi pelaku kreatif di tingkat akar rumput.

banner 336x280

Kunjungan yang berlangsung di Sanggar Rianto Dance Studio, Banyumas, menjadi ruang pertemuan lintas komunitas, lintas subsektor, dan lintas wilayah kreatif. Forum ini dirancang sebagai ruang dialog terbuka yang menempatkan pelaku seni dan kreatif sebagai subjek utama, bukan sekadar objek kebijakan.

Raffi Ahmad hadir tidak hanya sebagai Utusan Khusus Presiden, tetapi juga sebagai Wakil Ketua Umum ICCN. Ia didampingi oleh Dimas Herdy Utomo, Ketua Bidang Pemasaran dan Pembiayaan Komite Ekonomi Kreatif Provinsi Jawa Tengah sekaligus Exco ICCN; Aldi N.K. Abidin, Deputi 1 Tata Kelola, Partisipasi, dan Urusan Hukum ICCN; serta Romi Angger Hidayat, Founder Cilacap Kreatif yang juga Wakil Direktur Strategi Jenama ICCN.

Kegiatan dibuka dengan tarian pembuka dari anggota Sanggar Rianto Dance Studio, menegaskan posisi Banyumas sebagai Kabupaten Kreatif subsektor Seni Pertunjukan yang telah ditetapkan oleh kementerian. Suasana acara berlangsung cair dan partisipatif, jauh dari kesan seremonial, dengan pendekatan dialog setara antara negara dan komunitas.

Forum ini turut menghadirkan jejaring komunitas ICCN dari wilayah sekitar, di antaranya Sanggar Kamulyan Sindureja Banyumas, perwakilan Cilacap Kreatif, serta inisiatif Peken Banyumasan—sebuah praktik creative placemaking berbasis laboratorium budaya yang tumbuh secara organik di Banyumas.

Peken Banyumasan dibersamai melalui kolaborasi antara DKV Telkom University Purwokerto yang diwakili oleh Gilang Ramadhan, dan Galih Putra Pamungkas, bersama Pemerintah Kecamatan Banyumas (Kota Lama) yang diwakili oleh Jakarta Tisam, yang secara konsisten merawat ekosistem dan keberlanjutan program ini.

Selain itu, kegiatan ini juga menampilkan beragam pelaku artisan dari Peken Banyumasan, seperti TemuWan, Dug Press x Ben Wangun (Desa Binangun), Galaksi Gesang, Tresna Studio, dan Arkakala, yang mempresentasikan produk kreatif dengan narasi lokal serta nilai artisan yang kuat dan berkarakter.

Dari wilayah selatan Jawa Tengah, Cilacap Kreatif turut menghadirkan praktik baik melalui penguatan subsektor Film, Animasi, dan Video (FAV). Salah satunya diwujudkan melalui pengembangan Tjilatjap International Film Festival (TJIFF) sebagai ruang temu produksi, distribusi, dan apresiasi film berbasis daerah.

Dalam konteks ini, Romi Angger Hidayat, selaku perwakilan ICCN bidang Deputy 5: Strategic Partnership, Branding & Creative Economy sekaligus Wakil Direktur Strategi Jenama menyampaikan bahwa kolaborasi Banyumas dan Cilacap memiliki potensi strategis, khususnya dalam pertukaran praktik baik antar komunitas dan penguatan jejaring ICCN di tingkat regional.

Ekosistem TJIFF juga dibersamai oleh Afrizal Abdi Musyafiq, akademisi dari Politeknik Negeri Cilacap, bersama Donie Hulalata selaku Operational Manager Cilacap Kreatif, serta Aldias Deva Mulyadinata, sineas muda asal Cilacap, yang aktif mendorong penguatan talenta dan produksi film lokal.

Dalam dialognya, Raffi Ahmad menegaskan bahwa kegiatan “UKP Mendengar” dirancang sebagai ruang untuk menyerap aspirasi langsung, bukan sekadar kunjungan simbolik.

“Negara perlu hadir bukan hanya lewat event, tetapi memastikan adanya ruang produksi, jalur pengembangan talenta, akses pasar, serta apresiasi yang berkelanjutan bagi pekerja seni dan pelaku kreatif,” ujarnya.

Sementara itu, Dimas Herdy Utomo menyoroti pentingnya penguatan kelembagaan ekonomi kreatif di daerah. Menurutnya, komite ekonomi kreatif harus berperan sebagai simpul kolaborasi antara pemerintah, komunitas, pelaku usaha, akademisi, dan jejaring nasional seperti ICCN.

“Tantangan utama di daerah bukan pada kurangnya kreativitas, melainkan pada sinkronisasi kebijakan, akses pembiayaan, dan kesinambungan program agar tidak bergantung pada figur atau momentum tertentu,” jelasnya.

Forum lintas komunitas ini juga menjadi ruang berbagi tantangan nyata yang dihadapi pelaku, mulai dari keterbatasan ruang berkarya, regenerasi seniman, akses pasar, hingga kebutuhan pendampingan kuratorial dan manajerial. Seluruh isu tersebut dicatat sebagai bahan tindak lanjut bagi UKP, ICCN, dan Komite Ekonomi Kreatif Provinsi Jawa Tengah.

Melalui kegiatan “UKP Mendengar”, Banyumas menjadi contoh bagaimana ruang dialog berbasis komunitas mampu mempertemukan kebijakan nasional dengan realitas lokal. Acara ini diharapkan tidak berhenti sebagai pertemuan satu hari, melainkan menjadi awal penguatan jejaring, kolaborasi lintas wilayah, serta langkah konkret menuju ekosistem ekonomi kreatif yang lebih adil, inklusif, dan berkelanjutan di Jawa Tengah dan Indonesia.

Tentang ICCN

Indonesia Creative Cities Network (ICCN) merupakan simpul jejaring lintas komunitas yang menghubungkan kabupaten dan kota kreatif di seluruh Indonesia. ICCN berkomitmen memajukan pembangunan kota kreatif melalui penerapan 10 Prinsip Kota Kreatif, guna mendorong transformasi pembangunan nasional yang inklusif, berkelanjutan, serta berbasis pada kekuatan ide, budaya, dan kolaborasi. (adi/*)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *