Jakarta, Pelitabaru.com – Presiden Prabowo Subianto mencopot Kepala Badan Gisi Nasional (BGN) Dadan Hindayana, juga Wakil Kepala BGN, Lodewyk Pusung dan Sony Sanjaya, pada 2 Juni 2026.
Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi mengumumkan hal tersebut di Istana Presiden. Posisi Kepala BGN yang baru saat ini telah digantikan oleh Nanik S Deyang.
Pihak Kejaksaan Agung (Kejagung) langsung gaskeun, ngegas, sat set, dan menahan petinggi BGN tersebut sebagai tersangka dugaan tindak pidana korupsi penyimpangan tata kelola Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tahun anggaran tahun 2025-2026.
Selain itu, diduga melakukan mark up (penggelembungan anggaran) secara besar-besaran untuk pengadaan barang dan jasa.
Antara lain, pengadaan motor listrik, perangkat elektronik dan logistik, serta pemalsuan mitra yayasan.
Bayangkan, ratusan triliun rupiah dari dana APBN, pemerintah guyur ke BGN untuk kepentingan proses keberlangsungan program MBG.
Dana jumbo tersebut tentunya harus dipertanggungjawabkan, karena dana APBN — notabene — adalah duit rakyat dari setoran pajak.
Ironisnya lagi, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) di hari yang sama, juga melakukan Operasi Tangkap Tangan (OTT) terhadap oknum pejabat di Kantor Imigrasi Jakarta Barat yang diduga melibatkan Wakil Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan (Wamen Imipas) Silmy Karim.
OTT itu karena diduga terjadi kasus suap atau pemerasan dalam pengurusan izin tinggal bagi Warga Negara Asing (WNA).
Praktik curang ini dilakukan agar WNA dapat dengan mudah menetap di Indonesia, termasuk untuk pengurusan Kartu Izin Tinggal Tetap (KITAP) maupun izin tinggal sementara.
Itulah oknum-oknum pejabat publik yang serakah.
Serakah adalah sifat atau sikap yang tidak pernah merasa puas dengan apa yang sudah dimiliki.
Orang yang serakah selalu berambisi untuk memiliki, menguasai atau mengambil lebih banyak harta dan keuntungan daripada yang sepantasnya atau dibutuhkannya. Bahkan, seringkali tanpa memedulikan hak atau kebutuhan orang lain.
Sinonimnya serakah adalah tamak, rakus, loba atau kemaruk.
Tambah banyak
“Astagfirullahal Azhim,” kata King di samping Sahlan, yang membaca berita korupsi tersebut.
King dan Sahlan memang lagi sibuk mengatur segala sesuatu untuk persiapan buat konten yang nantinya diposting di media sosial (medsos).
“Jangan mikir kelamaan. Ntar pusing sendiri,” Sahlan menepuk bahu King.
“Siap bro. Habis apaan, ya, konten kita kali ini,” kata King sambil memanggil timnya.
Dingin masih memayungi di sekitar villa milik keluarga Sahlan, di Lembang, Jawa Barat.
“Gue ada ide. Gimana kalo kontennya soal korupsi,” Sahlan mendekati King.
“Brilian. Keren. Setuju, apalagi kasus maling duit rakyat ini, ga ada habisnya. Malah tambah banyak yang korup,” King semangat. Wajahnya keras, geram dengan “tikus-tikus berdasi” yang rakus doyan merampok uang rakyat.
“Sekarang gue yang sutradaranya, ya. Lo ikutin apa kata gue aja. Skenarionya gue yang atur,” ujar Sahlan.
“Siap komandan,” King senyum.
“Skenarionya, lo jadi seorang ayah dan gue jadi anaknya, namanya Atar,” jelas Sahlan.
Kameramen dan kru lainnya dari KingSlan (King dan Sahlan), akun medsos milik King dan Sahlan, sudah ready untuk syuting.
“Roll camera. Action!” Sahlan memberi aba-aba untuk mulai syuting.
“Tiap hari ayah membaca dan melihat berita di media massa. Ya, di koran, di tv, juga di media online. Sedih, mau diapakan dan jadi apa negeri ini,” ujar ayah.
“Berita apa, Yah,” Atar anak tunggal, merespon keluhan ayahnya.
“Itu para koruptor, bukannya makin dikit, eh, malahan tambah banyak yang curi uang rakyat,” jawab ayah sambil melirik ke anaknya yang siap-siap berangkat kuliah.
“Oh, itu. Begitulah adanya. Nanti aku dan kawan-kawan yang benahinya, Yah. Kami di kampus juga bosen dan jijik melihat kelakuan oknum pejabat korup. Oke aku mau ke kampus dulu, nih,” jawab Atar semangat sambil cium tangan ayahnya, lalu ke halaman rumah, menaiki sepeda motor bututnya. Wushh…ngacir ke Kampus Sembilan.
Rakyat sudah muak memang melihat kinerja oknum pejabat yang cenderung korupsi saat menjalankan tugasnya.
Namun, tenanglah, karena masih ada asa agar negeri ini bebas dari para koruptor.
“Ayah hanya bisa berdoa, Nak. Semoga tekadmu bersama kawan-kawanmu nanti berhasil,” harap ayah sambil memandangi anaknya yang memacu motornya di pagi hari.
“Teruslah berjuang dan berdoa, Nak. Karena tak ada doa yang tidak dikabulkan oleh Allah SWT,” ayah mengangkat kedua tangannya.
Doa akan dikabulkan sesuai kehendak-Nya. Jangan putus asa ketika doa itu belum dijawab oleh-Nya.
Suatu saat kelak, negeri ini akan bebas dari korupsi, dibawah pemimpin yang rendah hati dan mementingkan rakyatnya.
Wahai para pemimpin, janganlah berpikir apa yang hanya dipikirkannya, tapi pemimpin harus merasakan apa yang dirasakan oleh rakyatnya…
“Ok, bungkus!” seru Sahlan yang menirukan ucapan sutradara film atau sinetron kalau syuting selesai.
Sahlan merangkul King dan kru KingSlan. (bang iz)











