Meretas Masa Depan Ketenagakerjaan: Suara Lantang dari Bontang untuk Hak Pekerja

oleh -55 Dilihat
banner 468x60

Bontang, Pelitabaru.com – Di tengah derasnya arus perubahan dunia kerja, sebuah ruang dialog hangat tercipta di Gedung Town Centre Bontang, Sabtu (28/6/2025). Suasana serius namun akrab menyelimuti talkshow bertema ketenagakerjaan yang mempertemukan beragam pihak: dari pemerintah kota, pelaku industri, hingga serikat buruh. Tujuannya satu, mewujudkan hubungan kerja yang sehat, adil, dan bermartabat.

Talkshow ini bukan sekadar panggung diskusi. Ini adalah wadah aspirasi yang memotret wajah ketenagakerjaan masa kini dan masa depan, lengkap dengan tantangan dan harapan yang menyertainya.

banner 336x280

Di barisan depan, Kepala Dinas Ketenagakerjaan Bontang, Abdu Safa Muha, tampil lugas. Ia menekankan pentingnya membangun hubungan industrial yang berpijak pada nilai-nilai Pancasila. “Hubungan kerja bukan sekadar antara atasan dan bawahan. Kita ingin hubungan yang tumbuh, adil, dan saling menguatkan,” ujarnya mantap.

Abdu menegaskan, prinsip harmonisasi, dinamika yang sehat, dan keadilan adalah fondasi dari iklim kerja yang ideal. Ia juga menyerukan pentingnya sinergi antara pemerintah, pengusaha, dan buruh untuk menciptakan ekosistem kerja yang produktif.

Dukungan datang dari Kepala Kantor BPJS Ketenagakerjaan Cabang Bontang, Arvino, yang menyoroti perlindungan sosial sebagai hak fundamental seluruh pekerja—baik formal maupun informal. “Kami terus memperluas jangkauan. Semua pekerja berhak atas perlindungan, apapun bentuk pekerjaannya,” tegasnya.

Sementara itu, suara dunia usaha disuarakan oleh CEO Borneos.co, Kahar Muzakkir. Ia membawa perspektif kekinian dari dunia startup dan digital. “Hubungan kerja tak bisa lagi satu arah. Kemitraan yang sehat justru mendorong inovasi dan produktivitas,” katanya. Borneos.co, lanjutnya, menerapkan sistem kerja yang partisipatif dan transparan demi menciptakan iklim saling percaya.

Dari sisi buruh, Ketua DPW Garda Bontang, Muhammad Ayub, memberi catatan penting. Ia mengingatkan bahwa fleksibilitas kerja di era modern tak boleh menggerus perlindungan pekerja. “Kami tidak alergi perubahan. Tapi perubahan harus adil dan tetap melindungi buruh. Serikat pekerja tetap penting untuk menyeimbangkan hak dan kewajiban,” ujarnya tegas.

Diskusi yang dipandu oleh Angga Fakih, praktisi industri dari Badak LNG, berlangsung dinamis. Di akhir acara, Angga menegaskan harapannya agar forum ini tidak berhenti sebagai diskusi semata, tetapi dilanjutkan dalam bentuk kerja sama konkret dan edukasi berkelanjutan.

Kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen Pemkot Bontang dalam membangun sistem ketenagakerjaan yang tidak hanya adaptif terhadap perkembangan zaman, tetapi juga menjunjung tinggi keadilan sosial. Dalam era penuh tantangan, Bontang mencoba memberi contoh: bahwa masa depan kerja yang manusiawi bisa dimulai dari keberanian untuk mendengarkan semua suara, tanpa kecuali. (adi/*)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *