Kab Bogor, Pelita Baru
Ketua Tim Kedaruratan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bogor, Andi Sumardi menyebut, skema modifikasi cuaca dalam menanggulangi musim kemarau, saat ini belum terlalu diperlukan.
Menurutnya, skema modifikasi cuaca kemungkinan bakal dilakukan di Kabupaten Bogor bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) jika kemarau terus terjadi.
“Dengan adanya hujan jadi tidak terlalu signifikan kekeringannya, tapi ga tau kalau ke depan situasinya. Insya Allah rencana nanti bisa menggunakan skema tersebut,” ucapnya dikutip dari Bogor24update, Rabu (2/9/2026).
Seperti diketahui, musim kemarau yang mengakibatkan krisis air bersih telah melanda wilayah Kabupaten Bogor sejak awal Juni 2026 hingga saat ini.
Berdasarkan data dari BPBD Kabupaten Bogor, sebanyak 268.869 orang di Bumi Tegar Beriman terdampak kekeringan sejak 10 Juni hingga 30 Agustus 2026.
Kemudian, tercatat 32 kecamatan dan 166 desa atau kelurahan terdampak kekeringan dengan mengakibatkan krisis air bersih. Adapun, BPBD Kabupaten Bogor telah mendistribusikan 4.017.000 liter air bersih ke 590 titik kekeringan.
Sementara itu, berdasarkan Peringatan Dini Kekeringan Meteorologis Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Dasarian III Juli 2026 (21–31 Juli 2026), Kabupaten Bogor termasuk wilayah dengan status Waspada terhadap potensi kekeringan meteorologis. Informasi ini menjadi pengingat bahwa kesiapsiagaan terhadap musim kemarau perlu dilakukan sejak dini agar dampaknya dapat diminimalkan.
BMKG juga memperkirakan terjadinya penurunan curah hujan di beberapa wilayah, termasuk kawasan Puncak. Berkurangnya intensitas hujan menjadi salah satu indikator peralihan menuju musim kemarau yang mulai berlangsung di kawasan tersebut.
Selain memengaruhi kondisi cuaca, penurunan curah hujan berpotensi berdampak pada ketersediaan air tanah, khususnya di wilayah dataran tinggi. Karena itu, masyarakat yang tinggal di kawasan Puncak diimbau mulai mengantisipasi kemungkinan berkurangnya pasokan air bersih selama musim kemarau.
Mengantisipasi hal ini, Rudy Susmanto menjelaskan, Pemkab Bogor terus mengoptimalkan pendistribusian air bersih ke 40 kecamatan setiap hari. Selain itu, pemerintah daerah menyiagakan bak penampungan air (toren) serta membangun sumur bor baru di lokasi sumber air potensial.
Di tengah kondisi kekeringan ini, Rudy Susmanto juga mengimbau masyarakat untuk menghemat penggunaan air bersih dan tidak membakar sampah sembarangan guna meminimalkan risiko kebakaran lahan maupun permukiman.
“Kami melakukan perpanjangan kembali Surat Keputusan (SK) tanggap darurat kekeringan karena rilis BMKG menunjukkan tren puncak musim kemarau belum sampai pada titik puncak,” kata Rudy Susmanto di Cibinong, Senin (31/8/2026). (cky/*)












