Bogor, Pelita Baru
Peringatan Hari Jadi Bogor (HJB) ke 544 di Kampung Cintalahab, Desa Malasari, Kecamatan Nanggung pada Selasa dan Rabu (2-3/6/2026), bukan saja menorehkan sejarah baru tapi juga menuai apresiasi banyak pihak.
Mantan Bupati Bogor, Ade Munawaroh Yasin misalnya. Ia terang-terangan memuji kinerja Bupati Rudy Susmanto, yang diyakininya bisa membawa perubahan yang istimewa terhadap Kabupaten Bogor kedepan.
“Perubahannya saya pikir banyak sih yang dirasakan oleh masyarakat,” kata Ade kepada wartawan usai upacara HJB, kemarin.
Pada kesempatan ini, Ade Yasin juga menilai Kabupaten Bogor tetap menjadi pusat perhatian, baik di tingkat nasional maupun Provinsi Jawa Barat.
“Bogor selalu menjadi pusat perhatian ya, baik nasional maupun di teman-teman provinsi juga selalu berbicara Bogor yang memang istimewa karena penduduknya yang lebih luas, PAD nya lumayan besar, wilayah terluas di Jawa Barat,” kata Ade Yasin kepada wartawan usai upacara.
Ia meyakini dengan segala kelebihan itu, Kabupaten Bogor ke depan bisa lebih baik. Kuncinya ada pada peran pemimpin daerah.
“Dan di sini peran seorang pemimpin bekerja keras untuk memajukan Kabupaten Bogor menjadi lebih baik dan membuat masyarakatnya lebih sejahtera,” katanya.
Tak hanya Ade Yasin, apresiasi juga disematkan Aliansi BEM Se-Bogor yang menilai kebijakan pelaksanaan HJB yang dipusatkan di Desa Malasari, mencerminkan kepemimpinan yang humanis sekaligus menjadi bentuk penghormatan terhadap akar sejarah Kabupaten Bogor.
Koordinator Aliansi BEM Se-Bogor, Indra Mahfuzhi, mengatakan bahwa pelaksanaan puncak peringatan HJB di Malasari bukan sekadar agenda seremonial tahunan, melainkan simbol upaya menghidupkan kembali nilai-nilai sejarah yang menjadi fondasi pembangunan daerah.
“Keputusan menggelar puncak peringatan HJB di Desa Malasari memiliki makna yang sangat mendalam. Ini bukan hanya soal lokasi acara, tetapi sebuah upaya mengajak masyarakat kembali memahami sejarah perjuangan daerah dan menghormati warisan para pendahulu,” ujar Indra.
Sementara itu, Bupati Bogor, Rudy Susmanto menegaskan, HJB ke-544 harus jadi momentum refleksi dan kerja kolektif. Usia lebih dari lima abad itu, katanya, dibangun di atas fondasi cinta, pengabdian, dan kerja keras seluruh elemen masyarakat demi bumi “Tegar Beriman”.
Pesan itu disampaikan Rudy saat peringatan HJB ke-544 di Desa Malasari, Kecamatan Nanggung, Selasa 2/6/2026. Politisi Partai Gerindra itu menolak HJB dimaknai sebatas seremoni bertambahnya angka usia daerah.
“HJB menjadi momentum untuk memperkuat semangat kebersamaan, gotong royong, dan kepedulian dalam membangun daerah yang kita cintai bersama,” ungkap Rudy Susmanto.
Bagi Rudy, 544 tahun adalah perjalanan panjang, bukan waktu singkat. Makanya, ia mengajak seluruh masyarakat Kabupaten Bogor menyatukan langkah dan mempererat tali persaudaraan. Tujuannya satu, melangkah maju bersama.
Poin penting yang ditekankan Rudy, pembangunan harus menyentuh langsung warga. Tidak cukup di atas kertas atau seremoni.
Ia menekankan pentingnya menghadirkan program-program pembangunan yang dampaknya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat luas. Dari desa perbatasan seperti Malasari.
HJB ke-544 di Malasari sendiri jadi simbol “pulang ke akar”. Lokasi Sidang Paripurna Istimewa DPRD pertama kali digelar di desa ini karena di sinilah Pendopo darurat Bupati pertama Raden Ipik Gandamana berdiri tahun 1947.
Pesan Rudy seolah menyambung benang sejarah itu, semangat pengabdian pendahulu harus diteruskan lewat kerja nyata untuk rakyat hari ini. (duan/fex)












