Jakarta, Pelita Baru
Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa pemerintah akan terus melakukan efisiensi anggaran demi mempercepat penghapusan kelaparan, kemiskinan, dan kemiskinan ekstrem di Indonesia.
Presiden bahkan menyatakan bahwa apabila diperlukan, anggaran pertahanan dan kepolisian dapat dikurangi untuk memastikan kebutuhan dasar rakyat terpenuhi.
“Kita harus hilangkan kelaparan. Kita harus hilangkan kemiskinan. Kemiskinan, apalagi kemiskinan ekstrem harus kita hilangkan. Insyaallah kita akan hilangkan. Kita akan hemat anggaran kita. Kita akan bikin efisien. Bila perlu, anggaran pertahanan kita kurangi, anggaran polisi kita kurangi, untuk menghilangkan kemiskinan,” tegas Presiden dikutip Minggu (19/7/2026).
Presiden menyampaikan bahwa langkah efisiensi tersebut menjadi bagian dari upaya besar mempersiapkan masa depan Indonesia di mana Indonesia diproyeksikan sebagai salah satu negara terbesar di dunia pada 2045–2050. Menurut Presiden, cita-cita Indonesia menjadi negara maju hanya dapat terwujud apabila generasi muda saat ini benar-benar dipersiapkan dengan baik.
“Jadi anak-anak yang sekarang umur 10 tahun, yang di SD, dia nanti 25 tahun lagi dia 35 tahun, dia intinya bangsa Indonesia. Jadi kalau kita sekarang tidak urus anak-anak itu, dia bagaimana akan menjadi negara keempat terbesar di dunia?” ujar Presiden.
Dalam konteks tersebut, Presiden Prabowo menegaskan bahwa kekuatan negara tidak hanya ditentukan oleh pertahanan dan keamanan dalam arti sempit, tetapi juga oleh kesejahteraan rakyat. Menurut Presiden, rakyat yang kuat, sehat, dan sejahtera merupakan fondasi utama pertahanan nasional.
“Pertahanan terbaik adalah rakyat yang kuat dan sejahtera. Kalau ada yang macam-macam sama bangsa Indonesia, seluruh rakyat, seluruh rakyat akan membela bangsa ini. Makanya dari sekarang TNI dan Polri di tengah-tengah rakyat, di tengah-tengah petani dan nelayan,” kata Presiden.
Presiden juga menyampaikan apresiasi terhadap peran TNI dan Polri yang telah membantu masyarakat melalui berbagai program nyata, termasuk pembangunan jembatan dan penyediaan titik air. Menurut Presiden, kesulitan rakyat harus menjadi perhatian bersama seluruh unsur negara.
“Hari ini saya bangga, hari ini saya bahagia. Saya sungguh bahagia dan saya sungguh merasa terharu. TNI bangun berapa ribu jembatan, Polri juga, berapa ribu titik air. Kita atasi, kesulitan rakyat kita atasi,” ungkap Presiden.
Menutup pidatonya, Presiden menegaskan bahwa TNI dan Polri merupakan milik rakyat, sehingga keberadaannya harus selalu diarahkan untuk membantu rakyat dan mengatasi kesulitan yang dihadapi masyarakat.
“Ini Indonesia, TNI, Polri milik rakyat, kesulitan rakyat harus kita atasi. TNI, Polri harus mengatasi kesulitan rakyat,” pungkas Presiden.
Dalam kesempatan ini, Presiden Prabowo juga menegaskan komitmen pemerintah mempercepat terwujudnya swasembada pangan, energi, dan air sebagai fondasi kemandirian nasional.
Presiden juga menegaskan tidak akan memberi toleransi terhadap praktik korupsi maupun berbagai aktivitas ilegal yang merugikan negara dan masyarakat. Presiden menegaskan Indonesia tetap membuka diri untuk menjalin persahabatan dengan seluruh negara.
Namun, di saat yang sama, seluruh komponen bangsa harus bersatu dan bekerja untuk kepentingan rakyat. “Kita tidak mau memusuhi siapa saja. Kita mau bersahabat dengan semua negara. Tetapi kita juga sadar bahwa sekarang kita harus kompak dan bersatu,” ujar Presiden.
Prabowo mengingatkan seluruh aparatur negara, birokrasi, dan badan usaha milik negara agar menjalankan amanah dengan penuh tanggung jawab serta mengutamakan kepentingan rakyat.
“Kita tidak mau toleransi kepada mereka yang dipercaya oleh rakyat, yang digaji oleh rakyat, tetapi melaksanakan kebijakan dan tindakan yang merugikan rakyat. Apalagi mencuri uang rakyat, kita tidak toleransi,” tegasnya.
Presiden menyampaikan bahwa target swasembada pangan telah berhasil dicapai. Pemerintah kini melanjutkan upaya memperkuat swasembada energi dan merintis swasembada air agar seluruh masyarakat memperoleh akses terhadap air bersih sekaligus menjamin kebutuhan air untuk sektor pertanian.
Selain itu, pemerintah juga terus melakukan penertiban terhadap berbagai aktivitas ilegal, mulai dari penyelundupan, pertambangan tanpa izin, perkebunan ilegal, perikanan ilegal, hingga praktik perdagangan yang melanggar hukum.
Menurut Presiden, pekerjaan tersebut memang tidak ringan, tetapi pemerintah optimistis mampu menyelesaikannya melalui kerja keras dan kolaborasi seluruh pihak.
Pada sektor pertanian, Prabowo mengungkapkan pemerintah akan mempercepat program peremajaan tanaman tebu setelah mengetahui tidak ada peremajaan selama 12 tahun terakhir.
Presiden mengatakan pemerintah semula menargetkan peremajaan 100 ribu hektare lahan tebu setiap tahun sehingga dapat diselesaikan dalam empat tahun. Namun, target tersebut dipercepat menjadi dua tahun sesuai kesiapan yang disampaikan Menteri Pertanian. “Kita akan percepat dan semua usaha kita akan dilakukan dengan kerja keras. Sekarang hasil-hasilnya sudah mulai kita lihat,” katanya.
Presiden juga menyampaikan sejumlah capaian strategis pemerintah di bidang energi. Di tengah kondisi ekonomi global yang penuh tantangan, Indonesia berhasil memulai pembangunan salah satu blok gas terbesar di kawasan setelah sempat tertunda selama 28 tahun.
Selain itu, Indonesia menjadi negara pertama di dunia yang memproduksi bahan bakar B50 berbahan baku kelapa sawit. “Mulai bulan Juli ini kita tidak impor solar lagi dari luar negeri,” ungkap Kepala Negara.
Prabowo menegaskan pemerintah akan terus memperkuat ketahanan pangan dan energi nasional melalui percepatan berbagai program strategis, sehingga Indonesia semakin mandiri dan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat. (fuz)












