Bogor, pelitabaru.com – Kasepuhan Cigoong di Kampung Cigoong, Desa Puraseda, Kecamatan Leuwiliang, Kabupaten Bogor, kembali menggelar ritual adat Seren Taun, Selasa-Rabu [30/6 – 1/7/2026].
Meski di tengah efisiensi anggaran, puncak acara tetap berlangsung khidmat. Prosesi diakhiri dengan pengenalan benda pusaka berupa Goong warisan leluhur kepada warga.
Kepala Desa Puraseda, Asep Ruhiyat, mengatakan pelaksanaan Seren Taun tahun ini memang dibuat lebih sederhana. Hal itu menyesuaikan kebijakan efisiensi seremonial di tingkat desa.
“Untuk kegiatan Seren Taun kali ini memang agak berbeda. Ada efisiensi anggaran untuk seremonial. Yang biasanya pawai sejauh 2 kilometer, sekarang hanya 500 meter,” ungkap Asep kepada wartawan, Rabu [1/7/2026].
Meski dipangkas, antusiasme warga tidak berkurang. Acara ini dihadiri Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat Ayi Sahrul Hamzah, Anggota DPRD Kabupaten Bogor Usep Nukliri, sejumlah Kepala Desa se-Kecamatan Leuwiliang, unsur Pemerintahan Kecamatan, hingga tokoh masyarakat setempat.
Rangkaian Seren Taun Cigoong dimulai Selasa [30/6] dengan ritual “perebutan sawer”. Ritual diawali doa-doa yang dipimpin Kasepuhan Cigoong. Sawer yang sudah didoakan kemudian dibagikan ke warga dengan keyakinan untuk menjauhkan dari mara bahaya.
“Malamnya dilanjutkan dengan Tausiyah oleh alim ulama di sini,” kata Asep.
Puncaknya Rabu [1/7] pagi diisi pawai sepanjang 500 meter. Pawai ditutup dengan pengenalan Goong pusaka yang disimpan di Kampung Cigoong. Selain itu, panitia juga menampilkan permainan tradisional agar anak-anak mengenal dolanan tempo dulu.
“Kami menampilkan beberapa permainan tradisional. Hal itu kami lakukan agar anak-anak zaman sekarang mengenal permainan yang dulu kami lakukan sewaktu kecil,” katanya.
Asep menyebut ada kendala utama dalam pelestarian budaya di Cigoong. Pihaknya belum memiliki rumah adat atau museum khusus untuk menyimpan benda pusaka.
“Memang kami di Kampung Cigoong ini punya Goong peninggalan leluhur. Tapi kami belum maksimal dalam penyimpanan. Saat ini Goong dan gamelannya disimpan di rumah sesepuh ukuran 3×3 meter,” katanya.
Momen kehadiran Ayi Sahrul Hamzah pun dimanfaatkan Kades untuk menyampaikan aspirasi langsung.
“Tadi kami sampaikan untuk dapat memperjuangkan atau membantu mendorong penyediaan rumah adat dan pemeliharaan benda-benda pusaka tersebut. Selain itu kami juga minta bantuan di bidang infrastruktur jalan desa,” katanya. (Fex)












