Jakarta, Pelita Baru
Presiden Prabowo Subianto berencana menutup ratusan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) secara besar-besaran. Langkah ini dilakukan, lantaran selain membebani keuangan negara, menurut kepala negara, keberadaan ratusan perusahaan plat merah juga terlalu banyak masalah.
“Bayangkan, lebih dari 750 kita tutup. 750 Dirut, 750 Direksi kali 4 atau kali 5, 750 Komisaris kali 10. Overhead-nya kayak apa, gajinya kayak apa saudara-saudara. BUMN-BUMN ini ya kita sudah tahulah, sudah lama jadi orang Indonesia saudara sudah mengerti. Ini sedang kita bersihkan, sedang kita tertibkan,” kata Prabowo di hadapan para akademisi, ilmuwan, dan pelaku industri yang hadir dalam forum Sarasehan Kebangsaan Konvensi Sains, Teknologi, dan Industri (KSTI) Indonesia 2026 di JCC Senayan, Jakarta, Minggu (29/6/2026).
Prabowo mengungkapkan, dari lebih dari 1.000 BUMN yang ada, pemerintah sejauh ini telah menutup lebih dari 200 perusahaan. Ke depan, jumlah itu akan terus dipangkas hingga hanya tersisa sekitar 250 entitas yang dinilai benar-benar produktif dan memiliki nilai strategis bagi pembangunan nasional.
“Dari 1000 lebih BUMN, sekarang kita sudah tutup lebih dari 200. Lebih dari 200. Nantinya kita akan bikin tinggal 300 lah, ya. Gimana Pak Erick? Pak Erick Thohir, ujungnya kita bisa berapa BUMN? Ujungnya nanti 250,” ungkap Prabowo.
Dengan restrukturisasi tersebut, pemerintah berharap BUMN tidak lagi menjadi beban fiskal, melainkan menjadi instrumen yang mampu mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.
“Saudara-saudara sekalian, kita mau sekarang rasional, efisien, dan ini kita buktikan, dan ini kita lakukan. Saya minta dalam tahun ini harus selesai, ya. Jadi dalam dua tahun kita akan bikin BUMN-BUMN lebih efisien, lebih transparan, lebih bekerja untuk rakyat,” pungkasnya
Dalam kesempatan ini, Prabowo juga mengungkapkan keinginannya untuk mempererat komunikasi dengan kalangan perguruan tinggi melalui pertemuan rutin bersama para rektor dan guru besar.
Di hadapan sekitar 2.600 guru besar, rektor, peneliti, dan akademisi dari seluruh Indonesia, Presiden menegaskan bahwa pertemuannya dengan para pimpinan perguruan tinggi selama ini masih belum cukup.
Untuk itu, ia mengusulkan agar pertemuan dengan para rektor dapat digelar lebih rutin, bahkan bila perlu setiap bulan.
“Karena itu, menurut saya, dan saya kalau empat kali ketemu para rektor itu bagi saya belum apa-apa. Kalau perlu tiap bulan kita ketemu. Benar, saya butuh jumpa dengan orang-orang pintar,” kata Prabowo.
Presiden mengaku memahami kesibukan para rektor dan profesor di Jakarta yang kerap diminta hadir dalam berbagai agenda dan diskusi. Sementara bagi akademisi dari Bandung, ia menilai jarak bukan lagi kendala berkat kehadiran kereta cepat Whoosh.
“Yang di Bandung pun tidak ada alasan karena sekarang ada ‘Whoosh’. Dipanggil ya 45 menit bisa di Jakarta kan?” ujarnya, yang disambut tawa peserta sarasehan.
Lebih lanjut, Prabowo menegaskan bahwa Indonesia merupakan sebuah kapal besar yang hanya bisa bergerak maju apabila seluruh elemen bangsa bersedia bekerja sama dan saling bertukar gagasan.
Karena itu, menurutnya, perbedaan pandangan di lingkungan akademik tidak boleh dipandang sebagai persoalan, melainkan sebagai bagian dari proses melahirkan pemikiran terbaik bagi bangsa.
“Universitas adalah tempat di mana gagasan-gagasan diadu, adu gagasan, adu pandangan, adu filosofi, adu inovasi. Di situ disebut bahwa kampus punya academic freedom, academic freedom, kebebasan akademis, bukan kebebasan yang lain-lain,” tegasnya.
Prabowo memastikan seluruh usulan dan pertanyaan yang disampaikan peserta KSTI 2026 akan menjadi perhatian pemerintah.
“Saya janji satu-satu akan saya perhatikan. Saudara-saudara, jangankan usul dari profesor, usul dari anak di desa yang sampai langsung ke saya lewat TikTok atau apa, saya segera tindak lanjuti,” pungkasnya. (fuz*)











