Jakarta, pelitabaru.com – Kalau ada serigala berbulu domba, tidak perlu khawatir, korbannya hanya domba. Selesai. Karenanya domba-domba dibuatkan kandang yang baik. Beres,aman!! Tetapi kalau iblis berjubah kiai, ustadz, politisi, guru, pejabat, penguasa, aparat dan dan dan ……., selesai semua. Kiamat makin dekat.
Narasi itu berkembang, berseliweran nyaring di group WhatsApp, aplikasi komunikasi yang sering menjadi biang(lala) alias melupakan segalanya.
Ya melupakan akhirat jadi bergunjing dunia, melupakan kewajiban asyik berghibah secara daring, lupa sakit, lupa minum obat akhirnya mati. Lhaaah semprul, kapir kapir.
Betapa tidak group-group WhatsApp benar-benar pedang bermata dua. Untuk kepentingan baik memberi manfaat luar biasa. Woro-woro untuk ber-fastabiqul khoirot tak perlu lama selesai.
Orang sakti, (maaf) seperti Letkol Teddy jadi (seperti) orang culun lagi. Tak berdaya, ibarat wayang kehilangan gapet, bagai tubuh tanpa tulang. Lunglai, KO dihajar bombardemen (bom nuklir) Prof gaek, siapa lagi kalau (bukan) Amien Rais.
Kedua, lewat aplikasi serupa, berupa-rupa hoaks, provokasi disemai, dan disebarluaskan, ambyar. Aksi beratus-ratus, beribu-ribu cukup dikomando lewat pesan WhatsApp. Karenanya edukasi agar tidak mudah menjadi korban hoaks, apalagi hanyut larut, keblinger-blinger tidak karuan.
Bapak, ibu, hadirin sekalian yang berbahagia. Bagi yang belum paham konteks narasi di atas (harap) belajar dulu, atau berselanjar di dunia maya, tanya pada Mbah Goegle.
Gampang ketika Amien Rais versus Teddy, tak perlu lama-lama Mbah Goegle akan menguraijelaskan macam-macam situs tentang ontran-ontran yang lagi hot news ini.
Nah yang seperti itu, silakan nilai sendiri, positifnya, manfaat atau mudzorotnya, monggo silakan memaknai sesuai hati nurani masing-masing memerasnya, sembari jangan lupa beristifhfar.
Amit-amit, Gusti nyuwun pangapunten, nyuwun pepadhang manah, kulo sakulowong nembe nandang keblinger. Mugi Gusti paring pencerahan amargi moto kulo blawur ningali kahanan bongso kulo, Indonesia.
Kira-kira begitu, ada ada saja yang membuat getir hati nyaris tak pernah sembuh dari luka. Rakyat bertanya siapa sesungguhnya imam dari kami (rakyat).
Sebaliknya pemimpin bingun (bukan bingung), karena bingung yang menumpuk jadi bingun!!!. Ya bingun karena rakyat kok sebegitu terkotak-kotak.
Ini serius, kita (bangsa ini) semakin terpuruk oleh fragmentasi simbolik. Rawan diadu domba lantaran sengaja ada tangan-tangan setan yang membentur-benturkan.
Simak, seperi hanya karena kalah, atau tidak jadi terpilih Ketua RT ogah datang pertemuan, lalu keluar dari group WhatsApp dan jadi oposisi, jualan gosip.
Mereka mencari kambing hitam, kalah atau tak terpilih jadi Ketua RT karena ada politik uang, ada serangan fajar. dan tudingan macam-macam.
Ulah-ulah semacam itu menggejala dan jamak, yang membuat miris dan dikorbankan adalah komunitas (garda terdepan) di tingkat RT tak luput jadi komoditas adu-domba.
Kecenderungan seperti itu menjadi realitas sungsang, gara-gara sepele, kalah atau tak terpilih jadi RT komplikasinya bereskalasi ke mana-mana.
Kondisi jadi akut dan mendaki stadiumnya ketika pesta demokrasi, pemilu, pileg, pilkada, pilpres perbedaan yang sesungguhnya adalah sunatullah jadi biang adu domba.
Bertambah luka, bertambah nyinyir saat datang Iblis (serigala) berjubah manusia. Tobat, tobat, kapir kapir.
Bapak ibu, para netizen, hadirin dan pembaca yang (tidak) budiman yang (kurang) bahagia.
Memijakkan fenomena sosial yang ada di sekeliling, di sektiar dan tidak menutup kemungkin telah merasuki hati kita, apa yang harus dilakukan.
Jangan percaya pada iblis-iblis yang berjubah kiai, politisi, aparat, penguasa dan lain sebagainya, dan lain sebagainya. Saya pusing, nglantur, dan tetiba ada suara mengusik ‘’Lha rak tenan, kepenak zamanku tho?!’’.
Semprul-semprul bajirut. Saya garuk-garuk kepala meski tidak gatal. Ndasku dewe (kepalaku) yang makin isis (semriwing) karena botak jadi tanganku kepleset-pleset karena licin. Haduuh haduuh bajindul, terpaksa grenengan mengumpat diri sendiri.
Sampai di sini, lalu bangsa ini mau di bawa ke mana??. Rupiah sudah tembus di level kritis melampaui rasio normal. Tembus Rp 17.500!!!. Saya khawatir Indonesia akan mblandang ke kurusetra penuh ketidakpastian, seperti Venezuela, dan Zimbabwe. Gara-gara dihajar dollar nilai tukar semakin tidak kompetitif akhirnya kollaps.
Berupa-rupa analisis dan kalkulasi mbruwet berkecamuk di kapala. Tidak, tidak, tidak!!! Ini Indonesia brow semua pasti baik-baik saja.
Bangsa yang telah teruji, bangsa yang paling beradab, bangsa yang lebih tua dari Mesir sekalipun. Lebih unggul dari yang paling unggul sekalipun. Itu kata-kata Emha Ainun Nadjib, alias Cak Nun.
Saya merenung, istighfar dan sejenak menyeruput teh tubruk kenthel dengan sedikit gula batu. Uennaaak, legit sekali. Senyampang dari kepala mletik pikiran-pikiran cerdas, cerdik melebihi kecerdasan Prof Habibie. ‘’Don’t worry, be happy, be happy. Kok bingun -bingun mikir RT, lha tanpa RT tetap jalan dan baik-baik saja.
Ngapain mikir Desa, lha wong tanpa Lurah atau kepala desa juga baik-baik saja.’’begitu sergah guru-guru saya Doktor Prasetyo Utomo, Prof Sri Puryono, Benk Mintosih, Prof Saratri, Abang Sariat, Prof Nugroho, dan Brader Yuwanto.
Bersyukur menapaki usia kepala enam, saya dikelilingi mentor-mentor yang luar biasa. Asupan dan insight dari beliau-beliau yang sudah sampai pada eksistensi substantifnya, yakni tak butuh lagi pengakuan, karenanya yang disampaikan adalah refleksi kesemestaan, memijakkan pada keesaaan, dari prenthul hati terdalam.
Di antara kelindan yang terus berjalan saya alhamdulillah selalu dapat sharing dengan Doktor Sariat Arifia, Prof Totok Rusmanto, juga pakar transportasi Djoko Setidjowarno, kemudian jurnalis senior, Agus Awo Widiyanto. Matur tengyu semuanya, tak lupa, dokter Singgih Setiyono, juga abangku Boyamin Saiman.
Bapak ibu, semuanya, maaf kok jadi mengabsen (salah kaprah).
Astaghfirullah, duuh Gusti, kawulo nyuwun pepadhang margi, ugi nyuwun kasantosan gesang, saesthu kulo bingun, kawulo stress.
‘’Ngger ora perlu bingun, aja stress. Bongso (bangsa) mu bakal apik-apik wae. Ora usah mbok pikir jero-jero. Orang mung Desa tanpa lurah, sing bakal tetap mlaku. Ora ana Bupatine, Ora ana Gubernure kabeh tetap mlaku Apa gunane, duwe Bupati, Walikota, Gubernur, yen lagi nandhang rekoso (susah), nandang beboyo nanging ilang orang ana,’’begitu kata-kata santun Gus Wahib (Doktor Abdul Wahib, M.Ag menenangkan,
Hadirin sekalian, para ketua RT, Lurah, Kepala Desa, Camat, Bupati, Gubernur di mana saja (maaf tidak ada Presiden).
Menutup dialog, diskusi di mimbar ini saya ingin mengajak, mari kita sama sama kembali pada khitah. Stop maju tak gentar membela yang bayar. Ikuti dan jalani apa kata hati nurani mu (kita) sendiri-sendiri. Ingat hati nurani, suara terdalam hati kita. Kita selalu positif thinking, dan berkhuznudon pada Presiden, Gubernur, Bupati, Walikota, Camat, Lurah juga RT.
Ya, Allah doakan beliau dan mereka semua, para pemimpin dan penguasa, kembali ke khitah. Mereka meneguhkan amanah, melaksanakan amanat dari rakyat, vox populi vox dei. Suara rakyat adalah suara tuhan.
Terakhir saya berdoa dan mengingatkan pada Pak Prabowo, begini pesan untuk beliau, ‘’Pak Prabowo jangan sia-siakan kepercayaan rakyat, tunaikan amanah sebaik-baik seperti yang tertuang dalam buku ‘Paradoks Indonesia’.
Buku luar biasa, menginspirasi dan mencerahkan. Tunaikan itu (seperti yang tertuang di sana), Pak Presiden bakal selama, Indonesia bangkit dan kuat kembali. Saya tak rela Pak Presiden dihujat, dan dalam kesendirian. Saya berdoa, semoga dapat bersatu lagi dengan Titik Prabowo. Merdeka!! Rahayu.
Jayanto Arus Adi, adalah Wartawan Senior, Ahli Pers Dewan Pers, Alumni PPNK Lemhanas RI Angkatan 227 Tahun 2025. Sejak 2022 ikut bergabung di Taruna Merah Putih Pusat menjadi Wakil Sekretaris Jendral. Karena aktif menulis ikut berkontribusi di Satu Pena (Organisasi Penulis yang dipimpin Denny JA). Mengajar jurnalistik di beberapa kampus, juga aktif di MOJO (Mobile Jurnalis Indonesia) sebagai Ketua Umum Nasional dan pernah menjadi Wakil Ketua JMSI Pusat (Jaringan Media Siber Indonesia) Konstituen Dewan Pers. Sebagai jurnalis Ikut berhikmat di Komite Publisher Right. Saat ini tengah menempuh S3 (Program Doktoral) di Universitas Jendral Soedirman, Purwokerto. Bidang yang dipilih adalah Prodi Pertanian, Komunikasi Agribisnis dan Ketahanan Pangan. Anggota Dewan Redaksi Hariam Pelita Baru












