Bencana Menerjang Sejumlah Wilayah di Pulau Jawa, Prabowo: Petakan Titik Rawan!

oleh
banner 468x60

Jakarta, Pelita Baru

Presiden Prabowo Subianto memerintahkan seluruh kementerian untuk menyiapkan langkah antisipasi bencana. Instruksi ini tak lepas dari bencana alam yang menerjang sejumlah wilayah di Pulau Jawa.

banner 336x280

Bahkan, pada Senin (19/2/2026) ini saja, empat daerah di Jawa Tengah dilanda banjir. Sebelumnya, sejumlah kota dan kabupaten di Jawa Barat dan Jawa Timur juga terkena serupa.

“Bapak Presiden langsung memerintahkan kepada kita untuk seluruh jajaran untuk sekali lagi pertama-tama tentunya penanganan secepat-cepatnya yang berkenaan dengan menimbulkan korban dari setiap kejadian,” ujar Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi kepada wartawan, Senin (19/1/2026).

Secara khusus, kata Prasetyo, Presiden juga meminta Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian memetakan titik-titik rawan banjir di tengah tingginya curah hujan yang melanda Indonesia.

“Bapak Presiden kembali menekankan bahwa meminta kepada Pak Mendagri untuk kita secepatnya melakukan identifikasi terhadap titik-titik wilayah, zona-zona yang memang karena kondisi curah hujan itu akan berpotensi terjadinya banjir atau terjadinya rob atau terjadinya genangan-genangan,” ujarnya.

Selain itu, Prabowo memerintahkan jajaran pemerintah segera menangani bencana hidrometeorologi di berbagai daerah yang terdampak. “Nah ini juga menjadi pekerjaan rumah kita bersama, menjadi tugas kami pemerintah untuk bagaimana secepatnya juga memikirkan, mengantisipasi, memitigasi supaya hal-hal seperti ini di kemudian hari dapat dikurangi efeknya,” kata Prasetyo.

Sementara itu, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) merangkum laporan kejadian bencana yang terjadi pada periode 18 Januari 2026 pukul 07.00 WIB hingga 19 Januari 2026 pukul 07.00 WIB.

Dalam periode tersebut, bencana hidrometeorologi masih mendominasi sejumlah wilayah di Indonesia, seiring dengan puncak musim hujan. Di Provinsi Bali, angin kencang melanda Kabupaten Jembrana pada Minggu (18/1/2026) sekitar pukul 17.15 Wita, saat hujan dengan intensitas sedang mengguyur wilayah tersebut.

Desa Penyaringan, Kecamatan Mendoyo, menjadi wilayah terdampak. Sebanyak 14 unit rumah mengalami kerusakan, terutama pada bagian atap. Warga setempat telah melakukan perbaikan secara mandiri dan tidak ada laporan korban jiwa.

Sementara itu, sejumlah wilayah di Pulau Jawa juga dilanda bencana hidrometeorologi. Di Kota Pekalongan, Provinsi Jawa Tengah, banjir terjadi pada Sabtu (17/1/2026) akibat hujan dengan intensitas sangat tinggi yang menyebabkan meluapnya Sungai Bremi.

Banjir merendam empat kecamatan, yakni Pekalongan Timur, Pekalongan Barat, Pekalongan Selatan, dan Pekalongan Utara, dengan tinggi muka air berkisar antara 20 hingga 100 sentimeter.

Hingga Minggu malam (18/1/2026), genangan air masih terpantau di beberapa titik dengan ketinggian sekitar 10 hingga 100 sentimeter. BNPB mencatat sebanyak 8.692 kepala keluarga (KK) terdampak banjir tersebut.

Tidak ada laporan korban jiwa. Personel BPBD setempat telah melakukan berbagai upaya penanganan darurat, antara lain evakuasi warga ke tempat aman serta kaji cepat di lapangan.

Di Provinsi Jawa Barat, banjir masih menggenangi sejumlah wilayah hingga Minggu (18/1/2026). Tinggi muka air tercatat antara 20 hingga 110 sentimeter. Banjir terjadi sejak Sabtu (17/1/2026) akibat hujan lebat yang disertai dengan tidak optimalnya fungsi drainase. Sebanyak 34 desa dan 3 kelurahan di 16 kecamatan terdampak banjir tersebut.

BPBD Kabupaten Bekasi mencatat lebih dari 22.000 KK terdampak, dengan jumlah terbaru mencapai 22.724 KK hingga Minggu malam. Selain itu, terdapat 1.336 KK atau 5.344 jiwa yang mengungsi dan tersebar di 11 titik pengungsian. BPBD setempat masih terus memutakhirkan data dampak di lapangan.

Masih di Jawa Barat, banjir juga melanda Kabupaten Indramayu. Banjir terjadi pada Sabtu (17/1/2026) sekitar pukul 23.40 WIB dan pada Minggu (18/1/2026) kondisi genangan dilaporkan berangsur surut. Satu desa di Kecamatan Jatibarang terdampak, yakni Desa Jatibarang Baru. Dampak banjir meliputi 60 unit rumah terendam serta sekitar 1,5 hektare lahan sawah terdampak.

Sedangkan, cuaca ekstrem berupa angin kencang juga terjadi di Kota Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur, pada Sabtu (17/1/2026) pukul 00.57 Wita. Peristiwa ini menyebabkan kerusakan rumah warga di dua kecamatan, yakni Kecamatan Alak dan Kecamatan Kota Raja.

Rinciannya, lima unit rumah mengalami rusak berat, tiga unit rusak sedang, dan lima unit rusak ringan. Selain itu, empat unit rumah lainnya masih dalam proses penilaian tingkat kerusakan oleh personel BPBD. Tidak ada laporan korban jiwa dalam kejadian ini.

Menyikapi kondisi tersebut, BNPB mengimbau pemerintah daerah dan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana hidrometeorologi, terutama di tengah puncak musim hujan.

BNPB menekankan pentingnya langkah mitigasi dan pencegahan sejak dini, antara lain dengan memahami jalur evakuasi, menyiapkan perlengkapan dan peralatan pendukung, memastikan kesiapan tempat pengungsian, serta menyediakan tas siaga bencana di setiap keluarga.

Selain itu, BNPB bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) serta Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menggelar operasi modifikasi cuaca (OMC) untuk menekan intensitas hujan ekstrem. Langkah ini dilakukan sebagai upaya mitigasi banjir yang melanda wilayah Muria Raya dan jalur Pantai Utara (Pantura) Jawa Tengah dalam beberapa hari terakhir.

Operasi modifikasi cuaca menyasar sejumlah wilayah terdampak banjir, di antaranya Jepara, Kudus, Pati, dan Demak yang masuk kawasan Muria Raya. Selain itu, OMC juga dilakukan di wilayah Pantura lainnya seperti Kendal, Batang, Pekalongan, hingga Pemalang guna mengurangi potensi hujan dengan intensitas tinggi.

Analis Kebencanaan Ahli Madya BNPB, Prastato Hendarsanto, menjelaskan bahwa dalam operasi ini pihaknya mengerahkan dua armada pesawat. Masing-masing pesawat membawa sekitar satu ton atau 1.000 kilogram bahan semai berupa Natrium Klorida (NaCl) yang digunakan untuk mengendalikan pembentukan awan hujan, dengan fokus utama di wilayah Muria Raya dan Pekalongan Raya.

Operasi modifikasi cuaca dilakukan secara intensif selama 24 jam, mulai pagi hingga malam hari, menyesuaikan dengan prakiraan cuaca dari BMKG. Berdasarkan prediksi BMKG, potensi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat masih berpeluang terjadi hingga 21 atau 22 Januari di wilayah utara Pantura dan kawasan Muria Raya. Pemerintah berharap langkah ini dapat mengurangi risiko banjir susulan dan mempercepat pemulihan wilayah terdampak. (fuz/*)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *