Tim 17 TEP IPB University Uji Inovasi Media Tanam dari Limbah Peternakan dan Pertanian di Merauke

oleh
banner 468x60

Merauke, pelitabaru.com – Tim 17 Ekspedisi Patriot (TEP) IPB University mengembangkan inovasi pemanfaatan limbah peternakan dan pertanian menjadi media tanam di kawasan transmigrasi Salor, Kabupaten Merauke, Papua Selatan. Inovasi ini berangkat dari temuan tim selama melakukan pemetaan dan pengumpulan informasi di lapangan, khususnya terkait potensi limbah organik yang berasal dari aktivitas peternakan dan pertanian masyarakat.

Melalui pendekatan berbasis riset, limbah yang sebelumnya berpotensi menjadi persoalan lingkungan tersebut dicoba untuk diolah menjadi bahan yang memiliki nilai guna dan berpotensi mendukung kegiatan budidaya tanaman masyarakat.

banner 336x280

Permasalahan limbah menjadi salah satu persoalan yang perlu mendapatkan perhatian karena aktivitas peternakan dan pertanian menghasilkan bahan organik dalam jumlah yang cukup besar, sementara pemanfaatannya belum seluruhnya dilakukan secara optimal.

Limbah yang tidak dikelola dengan baik dapat menumpuk di lingkungan sekitar, menimbulkan bau, mengganggu kebersihan, serta berpotensi menimbulkan persoalan lingkungan apabila berlangsung dalam jangka panjang. Kondisi tersebut kemudian mendorong Tim 17 TEP IPB University untuk tidak berhenti pada tahap identifikasi masalah, tetapi mencari alternatif pemanfaatan yang dapat memberikan nilai tambah sekaligus sesuai dengan potensi bahan lokal yang tersedia di kawasan.

Persoalan ini semakin relevan jika dilihat dari kondisi pertanian di Merauke. Wilayah ini memiliki musim hujan dan kemarau yang sangat tegas, sebagian besar berupa dataran rendah, dan tingkat kesuburan tanahnya dalam profil daerah tergolong rendah hingga sedang.

Sejumlah kajian pada lahan sawah bukaan baru di Merauke juga mencatat tanah yang masam serta rendah bahan organik dan unsur hara. Dalam kondisi seperti itu, bahan organik yang berasal dari limbah lokal berpeluang menjadi bagian dari solusi, sekaligus mengurangi ketergantungan pada sarana produksi yang didatangkan dari luar kawasan dengan biaya logistik yang cenderung tinggi.

Ketua Tim 17 Ekspedisi Patriot IPB University, Dr. drh. Dwi Budiono, M.Si., mengatakan bahwa pengembangan media tanam tersebut merupakan bagian dari upaya tim untuk mencari solusi terhadap persoalan yang benar-benar ditemukan selama pelaksanaan ekspedisi. Menurutnya, pendekatan yang dilakukan tidak hanya berorientasi pada menghasilkan suatu produk, tetapi juga memastikan bahwa solusi yang dikembangkan memiliki dasar pengujian dan dapat diterapkan dalam kondisi nyata di lapangan.

“Kami tidak ingin hanya mengidentifikasi permasalahan, tetapi juga mencari solusinya. Limbah peternakan dan pertanian yang kami temukan menjadi salah satu persoalan yang perlu ditangani. Karena itu, kami sedang menyusun formulasi media tanam yang memanfaatkan bahan-bahan tersebut, yang selanjutnya akan diuji di laboratorium dan melalui uji coba lapangan untuk mengetahui karakteristik, efektivitas, dan potensi penerapannya,” ujar Dwi Budiono, Sabtu (10/10/2026).

Dari Formulasi Menuju Uji Laboratorium dan Lapangan

Dalam proses pengembangannya, Tim 17 mengidentifikasi bahan-bahan limbah yang tersedia dan berpotensi digunakan sebagai komponen media tanam. Bahan-bahan tersebut selanjutnya akan diproses dan dikombinasikan dalam beberapa formulasi untuk memperoleh komposisi yang sesuai dengan kebutuhan pertumbuhan tanaman. Setiap formulasi nantinya akan dievaluasi dan dibandingkan sebagai bagian dari tahapan menuju pengujian lebih lanjut.

Secara umum, kualitas media tanam dinilai dari beberapa sifat utama, antara lain tingkat keasaman (pH), kemampuan menahan air, porositas atau kelancaran aerasi, kandungan bahan organik dan hara, serta tingkat kematangan bahan. Aspek kematangan sangat penting untuk limbah peternakan: bahan yang belum terurai sempurna dapat melepaskan amonia, membawa patogen dan biji gulma, bahkan mengganggu akar tanaman. Karena itu, proses pengomposan atau fermentasi lazim menjadi tahapan kunci sebelum limbah dipakai sebagai media tanam.

Pengujian nantinya tidak hanya dilakukan dalam kondisi laboratorium, tetapi juga akan diarahkan pada uji lapangan untuk melihat bagaimana formulasi tersebut bekerja dalam kondisi lingkungan sebenarnya. Uji lapangan menjadi penting karena suatu formulasi yang menunjukkan hasil baik secara laboratorium belum tentu memiliki performa yang sama ketika diterapkan pada kondisi lingkungan, bahan baku, dan praktik budidaya masyarakat. Karena itu, Tim 17 merencanakan pengujian secara bertahap dengan menggabungkan hasil analisis ilmiah dan kondisi nyata di lapangan agar formulasi yang dikembangkan memiliki dasar yang kuat sebelum diarahkan pada tahap penerapan dan pengembangan lebih lanjut.

Pengembangan media tanam ini juga menjadi bagian dari upaya TEP IPB University dalam menghubungkan pengetahuan perguruan tinggi dengan persoalan yang dihadapi masyarakat. Pendekatan tersebut menempatkan masyarakat dan potensi lokal sebagai bagian penting dalam proses pencarian solusi, sehingga inovasi yang dikembangkan tidak semata-mata berasal dari laboratorium, tetapi berangkat dari kebutuhan yang ditemukan di lapangan.
Pola tersebut sekaligus memperkuat peran ekspedisi sebagai ruang kolaborasi antara akademisi, masyarakat, dan potensi sumber daya lokal untuk menghasilkan solusi yang lebih kontekstual.

Menuju Formulasi Akhir dan Pemberdayaan Masyarakat

Dwi Budiono menegaskan bahwa proses pengembangan media tanam masih berada pada tahap penyusunan dan penyempurnaan formulasi.
“Yang kami cari bukan sekadar produk, tetapi formulasi yang benar-benar sesuai dengan kebutuhan dan kondisi di lapangan. Karena itu, formulasi yang disusun nantinya perlu melalui pengujian dan evaluasi, baik di laboratorium maupun melalui uji coba lapangan. Dari hasil pengujian tersebut, kami berharap dapat menentukan formulasi yang paling sesuai untuk kemudian dikembangkan lebih lanjut dan memberikan manfaat bagi masyarakat,” katanya.

Menurutnya, hasil dari proses tersebut diharapkan tidak hanya menjadi dokumentasi kegiatan ekspedisi, tetapi dapat berkembang menjadi inovasi yang memiliki nilai tambah dan berpotensi diterapkan secara berkelanjutan di masyarakat.

Setelah formulasi akhir diperoleh dan memenuhi persyaratan yang diperlukan, Tim 17 TEP IPB University berencana mengembangkan hasil tersebut menuju tahap perlindungan kekayaan intelektual, termasuk paten. Langkah tersebut dipandang penting untuk memberikan perlindungan terhadap formulasi yang dihasilkan sekaligus membuka peluang pengembangan inovasi secara lebih luas.
Pada saat yang sama, tim juga menyiapkan arah hilirisasi pengetahuan agar teknologi dan proses pemanfaatan limbah tersebut dapat dipahami dan dimanfaatkan oleh masyarakat di sekitar lokasi kegiatan.

Transfer pengetahuan kepada masyarakat menjadi salah satu bagian penting dari rencana pengembangan inovasi tersebut. Tim 17 TEP IPB University tidak hanya menargetkan lahirnya formulasi media tanam, tetapi juga ingin membagikan pengetahuan mengenai pemanfaatan limbah, proses pengolahan, serta prinsip penggunaannya kepada masyarakat sekitar.

Dengan demikian, masyarakat diharapkan dapat memiliki kemampuan untuk memanfaatkan sumber daya yang tersedia di lingkungannya sendiri sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap bahan dari luar kawasan.

Bagi Tim 17 TEP IPB University, pemanfaatan limbah peternakan dan pertanian sebagai media tanam menunjukkan bahwa persoalan yang ditemukan di lapangan dapat menjadi titik awal untuk menghasilkan inovasi berbasis kebutuhan masyarakat. Limbah yang sebelumnya berpotensi menjadi beban lingkungan dicoba diarahkan menjadi sumber daya yang memiliki nilai tambah melalui proses riset, pengujian, dan pendampingan.

Dari persoalan lapangan, Tim 17 TEP IPB University mendorong lahirnya solusi yang tidak hanya diuji secara ilmiah, tetapi juga dipersiapkan untuk dapat diterapkan, dikembangkan, dilindungi secara intelektual, dan dibagikan kembali kepada masyarakat. (adi/*)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *