Jakarta, Pelita Baru
Presiden Prabowo Subianto menyampaikan salah satu pesan paling tegas mengenai posisi Asean di tengah rivalitas geopolitik global. Menurutnya, Asean tidak boleh terbawa arus persaingan kekuatan besar dunia.
“Kita tidak boleh membiarkan persaingan. Kita tidak boleh membiarkan masa lalu kita menentukan masa kini dan masa depan kita. Indonesia bertekad untuk membangun kebijakan bertetangga yang baik,” ujar Prabowo saat hadir di Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ke-48 Asean Cebu, dikutip Senin (11/5/2026).
Pernyataan Prabowo ini tak lepas dari percaturan geopolitik dunia yang saat ini tengah berkecamuk. Terutama di Laut China Selatan yang merupakan jalur perdagangan kawasan Asean menjadi urat nadi ekonomi global. Pada saat bersamaan, negara-negara besar berlomba memperluas pengaruh politik dan ekonomi di kawasan.
“Gangguan berkepanjangan di sepanjang jalur global utama sudah memberikan tekanan yang sangat tinggi pada situasi energi negara kita dan tekanan itu tampaknya tidak akan mereda dalam waktu dekat,” ujar Prabowo.
Krisis energi memang menjadi salah satu ancaman terbesar dunia saat ini. Data International Energy Agency (IEA) menunjukkan harga minyak global kembali mengalami volatilitas tinggi sepanjang 2025 hingga awal 2026 akibat konflik Timur Tengah dan ketegangan geopolitik di sejumlah wilayah strategis.
Asean termasuk kawasan yang rentan terhadap gangguan pasokan energi karena sebagian negara masih bergantung pada impor minyak dan gas. Indonesia sendiri mengalami tantangan besar dalam menjaga ketahanan energi nasional. Meski memiliki cadangan energi cukup besar, Indonesia tetap menghadapi tekanan impor minyak mentah dan bahan bakar.
Oleh karena itu, Presiden Prabowo menegaskan bahwa diversifikasi energi bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan. “Diversifikasi energi bukan lagi pilihan. Ini sangat penting, ini perlu. Kita harus bergerak lebih cepat. Kita harus melalui sumber alternatif dan kita harus mempersiapkan energi terbarukan,” katanya.
Indonesia menargetkan bauran energi terbarukan mencapai 23% dalam beberapa tahun mendatang. Pemerintah juga mulai memperluas penggunaan bioenergi, kendaraan listrik, dan pembangunan energi surya.
Prabowo bahkan mengungkapkan rencana pembangunan program energi surya 100 gigawatt yang disebut sangat ambisius. “Kita sedang mengembangkan alternatif, energi terbarukan, menggunakan bioenergi, juga meningkatkan penggunaan kendaraan listrik, dan kita sedang membangun program energi surya 100 gigawatt yang sangat ambisius yang ingin kita selesaikan dalam tiga tahun,” paparnya.
Target tersebut menjadi salah satu agenda energi terbesar yang pernah disampaikan pemerintah Indonesia. Sebagai perbandingan, kapasitas pembangkit listrik nasional Indonesia saat ini berada di kisaran 95 gigawatt. Artinya, program energi surya 100 gigawatt akan menjadi lompatan besar dalam transformasi energi nasional.
Laporan World Economic Forum 2026 bahkan menyebut bahwa dunia sedang memasuki era “polycrisis”, yaitu situasi ketika berbagai krisis ekonomi, politik, keamanan, dan lingkungan terjadi secara bersamaan dan saling memperkuat.
Bagi Asean, stabilitas menjadi syarat utama menjaga pertumbuhan ekonomi. Bank Dunia memperkirakan pertumbuhan ekonomi Asia Tenggara pada 2026 berada di kisaran 4,7% hingga 5%, relatif lebih tinggi dibanding kawasan lain.
Namun pertumbuhan tersebut sangat rentan terhadap gangguan perdagangan global dan konflik geopolitik. Karena itu, pesan Presiden Prabowo mengenai pentingnya dialog dan kerja sama tidak semata bernuansa diplomatik, tetapi juga berkaitan langsung dengan masa depan ekonomi kawasan.
Di tengah makin dalamnya perpecahan, budaya perdamaian Asean tidak hanya harus dilestarikan, tetapi juga harus kita majukan agar menjadi contoh global. Asean harus benar-benar menjadi zona perdamaian,” imbuh Prabowo.
Selain energi, isu ketahanan pangan menjadi fokus utama lain dalam KTT Asean. Prabowo memperingatkan bahwa kawasan Asia Tenggara harus bersiap menghadapi ancaman El Nino ekstrem yang dapat memicu gangguan produksi pangan.
“Kita telah diperingatkan oleh organisasi internasional tentang risiko El Niño yang sangat ekstrem yang mengintai di depan kita. Dalam hal ini, ketahanan pangan menjadi semakin mendesak,” ujarnya.
Peringatan tersebut bukan tanpa dasar. Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) dalam sejumlah laporannya menyebut perubahan iklim telah meningkatkan risiko gagal panen dan gangguan distribusi pangan global.
Asia Tenggara termasuk kawasan yang sangat rentan terhadap dampak perubahan iklim karena banyak negara masih bergantung pada sektor pertanian.
Indonesia sendiri menghadapi tantangan besar menjaga stabilitas pangan di tengah pertumbuhan populasi dan ancaman perubahan cuaca. Karena itu, Presiden Prabowo menegaskan bahwa ketahanan pangan bukan sekadar isu ekonomi, tetapi menyangkut kedaulatan negara. “Tanpa pangan, pada dasarnya tidak ada masyarakat. Tanpa pangan, tidak ada kemerdekaan. Tanpa pangan, tidak ada perdamaian,” kata Prabowo.
Pernyataan tersebut memperlihatkan cara pandang pemerintah Indonesia yang menempatkan pangan sebagai fondasi stabilitas nasional. Dalam forum Asean, Presiden Prabowo mendorong penguatan cadangan pangan regional, pengembangan teknologi pertanian, hingga diversifikasi pangan.
Sementara itu, Presiden Marcos Jr. dalam pidato pembukaannya mencoba menjawab pertanyaan itu dengan menekankan pentingnya persatuan kawasan.
“Kehadiran Anda [pemimpin negara] di sini mencerminkan tidak hanya urgensi dan pentingnya acara ini, tetapi juga komitmen bersama kita terhadap nilai-nilai abadi yang terus mengikat kawasan kita, yaitu dialog, kerja sama, dan saling menghormati,” ujar Marcos Jr.
Pidato tersebut tidak hanya bersifat seremonial. Filipina sebagai tuan rumah menghadapi situasi pelik akibat konflik global yang berdampak langsung terhadap ekonomi domestik dan kawasan.
Bahkan pemerintah Filipina memutuskan untuk mengurangi sejumlah agenda fisik dan mengalihkan sebagian pertemuan ke platform virtual demi menyesuaikan kondisi internasional.
Namun Asean memilih tetap berkumpul. Di Cebu, para pemimpin kawasan menyadari bahwa ketidakpastian global tidak bisa dihadapi secara individual. Asean harus tampil sebagai blok yang solid. (fuz/*)












