Prabowo: Kemiskinan Harus Dihapus dari Bumi Nusantara

oleh -641 Dilihat
banner 468x60

Bogor, Pelita Baru

Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa bangsa Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan serius, terutama persoalan kemiskinan dan kesenjangan sosial. Karena itu, ia mengajak seluruh unsur bangsa untuk bersatu dan bekerja bersama menghilangkan kemiskinan dari bumi Indonesia.

banner 336x280

Pernyataan tersebut disampaikan Presiden Prabowo saat memberikan taklimat pada Rapat Koordinasi Nasional Pemerintah Pusat dan Daerah Tahun 2026 di Sentul, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Senin (2/2/2026).

Presiden menilai bahwa meskipun Indonesia memiliki kekayaan alam yang sangat besar, masih banyak rakyat yang hidup dalam kondisi sulit. Ia mengingatkan agar pemerintah tidak menutup mata atau sekadar bermain istilah dalam menyebut kondisi kemiskinan.

“Kita kadang-kadang takut bicara apa adanya. Kita tidak mau bilang miskin, diganti dengan istilah lain. Tapi kenyataannya, masih banyak rakyat kita yang miskin,” tegasnya.

Menurut Presiden, persoalan kemiskinan tidak boleh diterima sebagai sesuatu yang wajar, mengingat potensi sumber daya alam Indonesia yang melimpah. Karena itu, ia menilai seluruh unsur pimpinan atau elit bangsa di berbagai bidang harus berani melakukan introspeksi. “Kita harus berani mengakui bahwa unsur pimpinan di semua tingkat masih kurang dalam menjaga dan mengelola kekayaan bangsa ini,” ujarnya.

Presiden Prabowo mengajak para pemimpin, baik di tingkat pusat maupun daerah, termasuk elite politik, akademisi, aparat penegak hukum, dan unsur lainnya, untuk membulatkan tekad memperbaiki tata kelola kekayaan nasional demi sebesar-besarnya kepentingan rakyat.

Dalam kesempatan tersebut, Presiden juga menegaskan pentingnya persatuan nasional dan mengakhiri sekat-sekat politik pascapemilihan umum. Menurutnya, perbedaan pilihan politik tidak boleh menjadi alasan untuk memecah persatuan atau menghambat pembangunan.  “Tidak ada urusan saudara dari partai mana. Setelah pertandingan selesai, kita bekerja bersama untuk rakyat,” katanya.

Presiden menegaskan bahwa pemerintahannya akan bekerja untuk seluruh rakyat Indonesia tanpa memandang daerah atau pilihan politik pada masa lalu. Ia mencontohkan komitmen pemerintah yang tetap membangun daerah-daerah meski dirinya tidak meraih kemenangan politik di wilayah tersebut.  “Saya tidak akan tanya gubernurnya dari partai mana. Tugas saya adalah bekerja untuk seluruh rakyat Indonesia,” tegasnya.

Ia menutup arahannya dengan menekankan bahwa kekalahan dan kemenangan politik adalah hal biasa dalam demokrasi. Namun setelah itu, seluruh elemen bangsa harus bersatu untuk mengabdi kepada rakyat dan memastikan keadilan serta kesejahteraan dapat dirasakan secara merata.

Pada kesempatan ini, Presiden Prabowo juga menegaskan bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia berdiri dan bertahan hingga hari ini berkat pengorbanan besar rakyat yang diperjuangkan melalui darah, keringat, dan air mata selama ratusan tahun.

Presiden menegaskan bahwa puncak perjuangan bangsa Indonesia tecermin dalam Proklamasi 17 Agustus 1945 dan penyerahan kedaulatan yang diraih melalui perjuangan panjang di seluruh wilayah Nusantara.  “Negara ini yang sekarang berada dalam kendali kita dibangun atas pengorbanan rakyat yang sangat besar. Karena itu, kita tidak boleh lupa bahwa keberadaan kita sebagai pemimpin adalah untuk berbakti dan mengabdi kepada rakyat,” tegasnya.

Menurut Presiden, pengabdian kepada rakyat bukan sekadar kalimat yang mudah diucapkan, tetapi harus dibuktikan melalui kerja nyata dalam penyelenggaraan pemerintahan. Ia mengingatkan bahwa sejarah penjajahan meninggalkan luka mendalam, di mana rakyat Indonesia pernah diperlakukan secara tidak manusiawi oleh kekuasaan kolonial yang bersifat imperialis dan rasialis.

Presiden Prabowo juga menyoroti pentingnya menjaga dan menghormati situs-situs sejarah sebagai bagian dari identitas bangsa. Ia menyesalkan masih adanya peninggalan sejarah yang hilang atau rusak akibat kurangnya perhatian.  “Kadang-kadang kita tidak menghormati sejarah kita sendiri. Situs-situs bersejarah dibongkar. Ini harus menjadi perhatian para kepala daerah,” ujarnya.

Lebih lanjut, Presiden menekankan bahwa Indonesia sampai pada posisi saat ini tidak terlepas dari kontribusi para pemimpin dan pemerintahan terdahulu, mulai dari presiden pertama hingga pemerintahan-pemerintahan berikutnya di tingkat pusat maupun daerah.  “Setiap presiden, setiap pemerintahan, para gubernur, bupati, dan wali kota terdahulu semuanya telah menyumbang terhadap kehadiran kita hari ini,” katanya.

Ia mengajak seluruh jajaran pemerintahan untuk memandang perbedaan sebagai kekuatan, bukan pemecah persatuan. Menurutnya, meskipun bangsa Indonesia berbeda suku, ras, agama, dan pandangan politik, seluruh rakyat tetap merupakan satu keluarga besar Indonesia.

Dalam konteks global, Presiden Prabowo mengingatkan bahwa Indonesia tidak hidup dalam ruang hampa. Berbagai konflik internasional dan ketegangan geopolitik dunia dapat berdampak langsung terhadap kondisi nasional.  “Peristiwa global, baik konflik di Eropa maupun Timur Tengah, akan berpengaruh kepada kita. Karena itu, kita harus waspada dan memahami posisi Indonesia di tengah dinamika dunia,” ujarnya.

Presiden menutup arahannya dengan menegaskan bahwa menjaga persatuan, menghormati sejarah, dan mengabdi sepenuh hati kepada rakyat merupakan kunci utama untuk memastikan Indonesia tetap kuat dan berdaulat di tengah tantangan global.

Presiden Prabowo Subianto menegaskan keyakinannya terhadap masa depan bangsa Indonesia selama para pemimpin bekerja dengan ketulusan dan semangat pengabdian kepada rakyat.
Hal tersebut disampaikannya saat memberikan taklimat pada Rapat Koordinasi Nasional Pemerintah Pusat dan Daerah Tahun 2026 di Sentul, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Senin (2/2/2026).

Presiden mengaku terharu melihat semangat ribuan peserta Rakornas yang berasal dari seluruh tingkatan pemerintahan, mulai dari pusat hingga daerah. Ia menilai, apabila semangat tersebut benar-benar bersumber dari hati yang paling dalam, maka masa depan bangsa Indonesia berada dalam kondisi aman.  “Hati saya bergetar melihat, mendengar, dan merasakan semangat Saudara-saudara sekalian. Jika semangat itu sungguh-sungguh berasal dari kalbu yang paling dalam, saya yakin masa depan bangsa kita aman dan kita akan berhasil,” ujarnya.

Presiden Prabowo menyinggung pandangan sebagian pihak di luar negeri yang kerap meragukan Indonesia sebagai sebuah bangsa. Menurutnya, Indonesia sering disebut sebagai negara yang tidak mungkin bersatu karena keberagamannya.  “Banyak yang dari luar mengatakan Indonesia adalah bangsa yang tidak mungkin. Mereka tidak bisa membayangkan bagaimana ratusan suku, berbagai ras, agama, dan bahasa bisa bersatu dalam satu negara kesatuan,” katanya.

Namun, Presiden menegaskan bahwa justru keberagaman itulah kekuatan Indonesia. Ia meminta seluruh jajaran pemerintahan memahami secara utuh peran dan tanggung jawab sebagai pelayan rakyat. Menurutnya, rakyat Indonesia pada dasarnya menginginkan kehidupan yang tenang, harmonis, serta dipimpin oleh sosok yang jujur, adil, dan bekerja untuk kepentingan bersama, bukan untuk segelintir orang atau kepentingan pribadi.

Presiden juga mengingatkan para pemimpin agar tidak bersikap lugu dan lengah dalam menghadapi dinamika global. Ia menekankan pentingnya kewaspadaan, pemahaman situasi, serta penguasaan sejarah bangsa sebagai fondasi kepemimpinan.  “Kita harus menjadi pemimpin yang waspada, mengerti situasi, dan memahami sejarah Nusantara dari Sabang sampai Merauke. Bangsa ini ratusan tahun mengalami intervensi, gangguan, bahkan penjajahan,” tegasnya.

Menurut Presiden, melupakan sejarah sama dengan membuka jalan bagi kesalahan yang sama di masa lalu. Ia menilai saat ini Indonesia memiliki kesempatan besar untuk melihat realitas dunia secara lebih jernih, termasuk sikap negara-negara besar yang kerap mengajarkan demokrasi, hak asasi manusia, dan supremasi hukum, namun tidak selalu konsisten dalam praktiknya.

Presiden Prabowo menegaskan bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia dibangun melalui pengorbanan besar rakyat di seluruh daerah, yang direbut dengan darah, keringat, dan air mata melalui perjuangan panjang.  “Negara yang sekarang ada dalam kendali kita ini dibangun atas pengorbanan rakyat yang sangat besar. Karena itu, keberadaan kita sebagai pemimpin adalah untuk berbakti dan mengabdi kepada rakyat,” ujar Kepala Negara.

Ia menutup arahannya dengan mengingatkan bahwa pengabdian kepada rakyat bukan sekadar slogan, melainkan komitmen yang harus dibuktikan melalui kerja nyata dalam penyelenggaraan pemerintahan di semua tingkatan. (fuz)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *