Menteri KLH Batal Hadir, Pidato Bupati Rudy Obati Penggiat Penanam Pohon

oleh -70 Dilihat
banner 468x60

Bogor, Pelita Baru

Giat penanaman pohon yang digalang Himpunan Petani dan Peternak Milenial Indonesia (HPPMI) bersama Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) dan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bogor di kawasan hulu Sungai Ciliwung, Cisarua, Rabu (5/2/2026), sejatinya begitu antusias dinantikan para pegiat lingkungan di Bumi Tegar Beriman.

banner 336x280

Namun sayang, antusiasme para pecinta alam itu harus dibayar mahal. Mereka kecewa karena Menteri Lingkungan Hidup (LH), Hanif Faisol Nurofiq, yang sejatinya dijadwalkan hadir, urung berkunjung.

Padahal, kehadirannya begitu dinantikan, bukan soal keberaniannya menyetop izin perusahaan di Puncak yang sempat menuai polemik, tapi program penanam pohon ini merupakan agenda Presiden Prabowo Subianto dalam upaya pemulihan kembali lahan-lahan kritis yang kerap menyebabkan bencana.

Beruntung, Bupati Bogor, Rudy Susmanto muncul menjadi obat kekecewaan para peggiat penanam pohon yang hadir dari berbagai elemen yang ada di Bumi Tegar Beriman. Bupati Rudy bahkan menyuarakan kampanye segar yang begitu disambut meriah para aktivis lingkungan ini dengan rencana penyediaan hutan-hutan kota di 40 kecamatan yang ada di Kabupaten Bogor.

“Kalau 1 hektar per kecamatan, berarti ada 40 hektare. Ditambah beberapa aset milik pemerintah daerah yang sudah kami inventarisir pada tahap awal, total rencana penanaman kita mencapai sekitar 220 hektar di Kabupaten Bogor,” ujar Rudy yang langsung disambut tepuk tangan semangat para peggiat lingkungan.

Menurutnya, program ini tidak hanya bertujuan memperindah wilayah, tetapi juga memperkuat fungsi ekologis, terutama sebagai daerah resapan air dan penyangga lingkungan. Hal ini dinilai penting mengingat Kabupaten Bogor memiliki peran strategis sebagai wilayah hulu bagi sejumlah daerah di sekitarnya, termasuk kawasan aliran Sungai Ciliwung.

“Pemerintah daerah telah menyiapkan tim khusus yang akan melanjutkan penanaman dalam beberapa hari ke depan, sekaligus melakukan pemeliharaan selama satu tahun di seluruh lokasi hutan kota yang telah ditanami,” jelas Rudy.

Rudy menambahkan, jenis dan jumlah bibit yang ditanam akan disesuaikan dengan karakteristik tanah dan kondisi cuaca di masing-masing wilayah. Di beberapa kecamatan, luas area tanam bahkan bisa mencapai belasan hektare, tergantung pada ketersediaan lahan.

“Bogor harus kembali hijau. Menanam pohon itu bukan di baliho, tapi di tanah. Ini adalah investasi lingkungan dan warisan untuk anak cucu kita ke depan,” tegasnya.

Sekedar informasi, target satu hektar hutan kota per Kecamatan yang digagas Bupati Rudy ini direncanakan akan dijalangkan dengan target minimal satu hektar hutan kota di setiap kecamatan melalui kolaborasi pemerintah, TNI, sekolah, desa, dan sektor swasta.

Penanaman dilakukan di lahan pemerintah, fasilitas publik, sekolah, hingga kawasan strategis seperti sekitar Stadion Pakansari. Langkah ini diarahkan untuk memperkuat daya dukung lingkungan, mengurangi risiko banjir, serta memperbaiki kualitas kawasan menjelang Ramadan.

Bupati Rudy juga mengatakan bahwa bencana yang terjadi di berbagai daerah akibat prilaku manusia. Karena itu, ia menegaskan, penanaman pohon yang dilakukan di Cisarua ini bukan karena Presiden Prabowo Subianto dalam Rakornas di Sentul, beberapa waktu lalu.

Namun, Pemkab Bogor sudah merencanakan kegiatan ini cukup lama. “Salah saru outputnya menciptakan hutan kota,” imbuh dia.

Selain program lingkungan, Pemkab Bogor mempercepat sinergi pusat–provinsi–kabupaten untuk perbaikan infrastruktur jalan. Sejumlah ruas prioritas masuk agenda pemeliharaan dan betonisasi melalui skema APBD 2026, di antaranya Bojonggede–Kemang, Jalan Mayor Oking, Dramaga, dan Parung.

“Tahapan-tahapan sudah bisa dimulai, dan pemerintah kabupaten akan menindaklanjuti setiap program secepat mungkin sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan,” ujar Bupati Rudy.

Bupati juga menegaskan seluruh proyek pembangunan daerah wajib mengutamakan aspek lingkungan dan penggunaan material ramah lingkungan sebagai standar utama kebijakan daerah.

“Pembangunan apa pun di Kabupaten Bogor harus memperhatikan aspek lingkungan dan menggunakan material yang ramah lingkungan. Ini sejalan dengan arahan Presiden RI untuk menjaga kelestarian lingkungan dan membangun kesadaran masyarakat secara berkelanjutan,” tandas Bupati Rudy.

Sementara itu, Ketua panitia penyelenggara M. Burhani mengatakan bahwa penanaman pohon ini diadakan atas inisiasi dari (HPPMI) dengan semua unsur, baik pemerintah dan masyarakat.

“Kita canangkan penanaman 800 ribu pohon, dan ini akan dilaksanakan secara bertahap,” Burhani dalam sambutannya.

Menurut Burhani, penanaman ini tidak hanya dilakukan di Kabupaten Bogor saja, tetapi di seluruh daerah di Indonesia, dari Sabang sampai Merauke.

Disisi lain, Staf Ahli Menteri LH Nur Adi Wardoyo yang membacakan sambutan Menteri LH Hanif Faisol Nurofiq mengatakan, penanaman ini sangat penting karena memiliki peran penting  memulihkan tutupan lahan wilayah hulu, DAS Ciliwung.

“Penanaman pohon mampu menurunkan risiko banjir dan longsor di DAS Ciliwung,” kata dia.

Ia juga menyampaikan, KLH telah melakukan kajian khusus DAS Ciliwung untuk mengidentifikasi faktor penyebab kondisi hidrologis, serta alternatif pengendalian banjir dan pengendalian ekosistem.

Dari hasil kajian itu, menunjukkan bahwa  pada kondisi existing terdapat sekitar 10,49 juta meter kubik volume air yang tidak Bendung Katulampa, Bogor.

Volume air tersebut, kata dia, sebenarnya dapat berkurang hingga sekitar 53 persen apabila seluruh lahan terbuka dan pertanian dikonversi menjadi hutan.

“Apabila seluruh tutupan lahan di DAS Ciliwung, hulu dikembalikan menjadi hutan, debit air dari Puncak di Bendung Katulampa dapat turun hingga 65 persen, dan di Bendung Sukamahi serta Ciawi sekitar 62 persen,” ungkapnya.

Namun, hal ini masih dibutuhkan tambahan tampungan air sebanyak 9,44 juta meter kubik. Tampungan ini bisa dilakukan melalui pembangunan embung atau bendungsn untuk menurunkan debit air dsri puncak di Katula.a hingga sekitar 90 persen.

“Kombinasi antara peningkatan tutupan vegetasi dan pembangunan tampungan air tambahan akan menjadi efektif dalam mengenangi risiko banjir di wilayah hilir termasuk Jakarta,” ungkap dia. (duan)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *