Menapak Rel, Menyusuri Ingatan: Walking Tour Jalur Kereta Api Warisan Dunia Sawahlunto

oleh
banner 468x60

Sawahlunto, Pelitabaru.com – Sawahlunto menyambut langkah-langkah kecil yang sarat makna. Sebanyak 70 pegiat walking tour dari berbagai daerah di Sumatra Barat berkumpul di Museum Goedang Ransum. Bukan sekadar berjalan, mereka datang untuk menapak ingatan, menyusuri rel sejarah Kota Sawahlunto, kota yang sejak 6 Juli 2019 diakui dunia sebagai Warisan Budaya Dunia oleh UNESCO.

Kegiatan Walking Tour Napak Tilas Jalur Kereta Api Warisan Dunia Sawahlunto ini diinisiasi oleh Komunitas Sumatra Train dan Ikatan Uda Uni Kota Sawahlunto, dengan dukungan Pemerintah Kota Sawahlunto. Di halaman Museum Goedang Ransum, kegiatan resmi dibuka oleh Kepala Dinas Kebudayaan Kota Sawahlunto, Guspriadi, yang mengajak peserta menjadikan perjalanan ini sebagai bagian dari upaya bersama menjaga cagar budaya dan merawat ingatan kolektif kota tambang tua.

banner 336x280

Langkah pertama dimulai dari dapur besar masa lalu—Museum Goedang Ransum—tempat ribuan pekerja tambang dahulu disuplai tenaga melalui makanan. Dari sini, peserta berjalan menyusuri jejak sejarah menuju Museum Situs Lubang Tambang Batubara Soero, lalu ke Museum Tambang Batubara Ombilin. Setiap langkah terasa seperti membuka halaman demi halaman buku sejarah yang selama ini hanya dibaca, kini dilihat dan dirasakan langsung.

Perjalanan berlanjut melewati Gedung Hotel Khas Ombilin, Gereja Santa Barbara yang menjadi saksi keberagaman, kawasan Pasar Remaja yang hidup dengan denyut ekonomi rakyat, hingga Gedung Pegadaian dan Gedung Pek Sin Kek—penanda pertemuan berbagai etnis dan budaya di Sawahlunto. Di kawasan Taman Silo, peserta sejenak beristirahat, sembari mendengarkan kisah bagaimana sistem industri tambang dan jalur kereta api membentuk wajah kota.

Kepala Bidang Kesenian, Sejarah dan Nilai Budaya Dinas Kebudayaan Syukri, S.Sn menjelaskan bahwa Museum Kereta Api Sawahlunto menjadi salah satu titik yang paling menyita perhatian. Di sinilah lokomotif legendaris Mak Itam berdiri, seolah menunggu untuk kembali menceritakan kisahnya. Langkah kemudian dilanjutkan menuju Masjid Agung Sawahlunto, sebelum akhirnya ditutup di Lobang Kalam—terowongan kereta api yang menjadi saksi bisu lalu lintas batubara menuju pelabuhan.

“Dengan kontribusi Rp30.000,-, peserta mendapatkan lebih dari sekadar fasilitas makan siang dan tiket masuk museum gratis. Mereka memperoleh pengalaman sejarah yang eksklusif, dipandu oleh pemandu kegiatan dan narasumber yang menyampaikan narasi secara hidup dan kontekstual—menghubungkan masa lalu, masa kini, dan masa depan Sawahlunto,” katanya pada Minggu (25/1/2026).

Walking tour ini bukan hanya tentang berjalan kaki, tetapi tentang memahami regulasi Pemajuan Kebudayaan, menyadari pentingnya pelestarian cagar budaya, dan meneguhkan komitmen bersama pasca penetapan Sawahlunto sebagai Warisan Budaya Dunia oleh UNESCO di Baku, Azerbaijan. Setiap langkah menjadi pengingat bahwa warisan budaya tidak cukup hanya dijaga, tetapi harus terus diceritakan, diwariskan, dan dihidupkan kembali.

Di akhir perjalanan, lelah terasa, tetapi cerita tetap tinggal. Rel-rel tua itu tak lagi sunyi. Ia kembali dilalui—oleh langkah, oleh ingatan, dan oleh semangat komunitas yang percaya bahwa sejarah akan tetap hidup selama masih ada yang mau menapakinya. (adi/dok/*)

 

 

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *