Jakarta, Pelita Baru
Transparency International Indonesia (TII) menyebut Indeks Persepsi Korupsi (IPK) atau Corruption Perception Index (CPI) Indonesia tahun 2025 berada di skor 34. Angka ini turun 3 poin dibanding tahun lalu yang berada di angka 37. Mirisnya lagi, Indonesia menempati peringkat 109 dari 180 negara yang dilibatkan. Padahal, di tahun 2024, Indonesia berada di peringkat 99.
Menyikapi hal ini, Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Setyo Budyanto mengatakan, data itu harus menjadi perhatian seluruh pegawai lembaga antirasuah untuk tetap menjalankan komitmen dalam memberantas praktik lancung tersebut.
“Dari IPK yang turun dari 37 ke 34 berarti di 2026 tanggung jawab kita makin besar. Karena orang selalu samsaknya itu, sasaran tembaknya itu saat bicara tentang IPK hanya KPK. Yang lain-lain enggak mau tahu,” kata Setyo dalam seremoni pelantikan tiga deputi baru di gedung Merah Putih KPK, Kuningan Persada, Jakarta Selatan, Rabu (18/2/2026).
Lebih lanjut, Setyo mengatakan selama ini masyarakat memang lebih menaruh perhatian terhadap penindakan daripada pencegahan. Tapi, kondisi ini tak boleh membuat KPK hanya melakukan penegakan hukum saja.
“Karena kita punya pencegahan, ya, punya Dikmas (atau Pendidikan Masyarakat), punya penindakan, dan punya korsup (koordinasi dan supervisi), didukung dengan kedeputian informasi dan data, gitu. Nah, dengan kondisi seperti itu ya maka itulah yang harus kita kejar untuk bisa melakukan banyak upaya (memberantas korupsi, red),” tegasnya.
Selain itu, Setyo juga menekankan para deputi yang baru dilantik tak boleh pasif dalam bergerak. “Pimpinan dan seluruh pegawai menuntut bahwa ada perubahan-perubahan yang signifikan untuk semuanya, ya,” ungkap dia.
“Jadi harus bisa menggerakkan secara dinamis organisasi ini sebaik-baiknya ya dengan tetap memperhatikan masalah kode etik, kode perilaku kemudian core value, ya, ASN yang berAKHLAK, ya, itu tolong dijaga segala sesuatunya,” sambung eks Direktur Penyidikan KPK tersebut.
Sementara itu, terkait pelantikan tiga deputi, Setyo memastikan sosok terpilih sudah lolos seleksi oleh tim yang dibentuk di internal. Adapun tiga orang yang dilantik itu adalah Deputi Bidang Penindakan dan Eksekusi KPK Asep Guntur Rahayu; Deputi Bidang Pencegahan dan Monitoring KPK Aminudin; dan Deputi Bidang Koordinasi dan Supervisi KPK Ely Kusumastuti.
“Meskipun satu sisi ada yang tidak terpilih, yang tidak terpilih saya sampaikan jangan berkecil hati, tinggal masalah waktu saja,” kata Setyo.
Setyo bilang jabatan deputi ini sangat strategis. Ketiganya yang baru dilantik diminta bekerja dan bergerak maksimal. “Gerakan dari kedeputian ini menentukan langkah ekosistem yang ada di Komisi Pemberantasan Korupsi, ya,” tegasnya.
“Jadi kalau misalkan deputinya pasif maka para direkturnya pun juga akan seperti itu,” sambung dia.
Setyo juga meminta para deputi yang baru dilantik terus mengikuti perkembangan zaman. “Tidak bisa kemudian kita hanya berdiam di tempat, harus bisa adaptif. Kalau sudah bisa adaptif, menyesuaikan ya. Bukan kemudian kita berharap orang lain menyesuaikan, tidak. Kita harus bisa saling menyesuaikan. Bagaimana lingkungan, bagaimana tempat kinerjanya, bagaimana pegawainya, dan lain-lain semuanya harus bisa saling menyesuaikan,” ungkap eks Direktur Penyidikan KPK tersebut.
Terakhir, Setyo mengingatkan para deputi baru ini tak mengedepankan ego dari unit kerjanya. Semua harus saling bersinergi dalam melaksanakan tugasnya.
“Kami pimpinan berharap bahwa dengan kepercayaan yang sudah diberikan betul-betul bisa mewarnai ya, Komisi Pemberantasan Korupsi secara keseluruhan. Saya sampaikan, saya tekankan juga harus bisa berkolaborasi dengan semua pihak. Saya tidak mau ada cuma sektoral saja.”
Diberitakan sebelumnya, Transparency International Indonesia (TII) menyebut Indeks Persepsi Korupsi (IPK) atau Corruption Perception Index (CPI) Indonesia tahun 2025 berada di skor 34. Angka ini turun 3 poin dibanding tahun lalu yang berada di angka 37.
Indonesia menempati peringkat 109 dari 180 negara yang dilibatkan. Di tahun 2024, Indonesia berada di peringkat 99.
Beberapa negara yang mendapat skor sama dengan Indonesia yaitu Aljazair, Nepal, Malawi, Sierra Leone, Laos, serta Bosnia, dan Herzegovina.
Sementara di level ASEAN, Indonesia berada di bawah Singapura dengan IPK 84 atau stagnan. Sedangkan Malaysia mengalami peningkatan 2 poin menjadi 52, Timor Leste 44 atau stagnan, dan Vietnam 41 yang berarti naik 1 poin.
Indonesia membalap Thailand yang pada tahun 2025 mengalami penurunan skor 1 poin dengan IPK 33. Sementara di bawah terdapat Filipina yang memperoleh angka 32 atau turun 1 poin, Kamboja 20 turun 1 poin, dan Myanmar 16 atau stagnan. (dho/*)












