Jakarta, Pelita Baru
Gugurnya tiga pegawai Dinas Pertanian Kabupaten Jayawijaya yang ditembak saat menjalankan tugas di Distrik Muliama, Papua Pegunungan pada Rabu (9/9/2026) menuai banyak reaksi masyarakat, tak terkecuali DPR RI.
Para wakil rakyat ini tak hanya bersimpati tapi juga mendesak pemerintah untuk mengusut tuntas kejadian ini. Salah satunya seperti disampaikan Anggota Komisi I DPR RI Oleh Soleh yang menilai aksi kekerasan tersebut merupakan tragedi kemanusiaan yang tidak boleh dibiarkan terus berulang.
Ia pun menyampaikan belasungkawa kepada keluarga korban dan meminta aparat keamanan bergerak cepat untuk mengusut kasus tersebut secara tuntas. “Saya sangat sedih dan prihatin atas kejadian ini. Tiga pegawai pemerintah yang sedang menjalankan tugas justru menjadi korban kekerasan. Aparat TNI dan Polri harus bergerak cepat mengusut kasus ini dan menindak tegas para pelakunya,” ujar Oleh Soleh dalam keterangan tertulis.
Menurutnya, negara tidak boleh memberikan ruang bagi kelompok bersenjata untuk terus melakukan kekerasan terhadap masyarakat maupun aparat dan pegawai pemerintah yang menjalankan tugas pelayanan publik.
Oleh Soleh mengatakan, kejadian tersebut harus menjadi momentum untuk memperkuat langkah pemerintah dalam memberantas Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) di Papua secara menyeluruh.
“Ini harus menjadi momentum untuk membersihkan KKB dari Papua, Indonesia. Sudah berulang kali mereka melakukan kekerasan dan pembunuhan. Negara tidak boleh terus berada dalam posisi reaktif setiap kali terjadi korban,” kata politikus Fraksi PKB ini.
Ia menekankan bahwa penanganan persoalan KKB tidak cukup dilakukan secara parsial atau kasus per kasus. Pemerintah bersama TNI dan Polri perlu menyusun strategi komprehensif yang memiliki sasaran, tahapan, indikator, serta evaluasi yang jelas.
“Jangan hanya kasus per kasus. Aparat harus menyusun strategi secara menyeluruh untuk memberantas KKB. Harus ada roadmap pemberantasan KKB di Papua, sehingga langkah negara tidak hanya muncul ketika ada kasus,” tegasnya.
Menurut Oleh Soleh, roadmap tersebut penting agar penanganan keamanan di Papua dapat dilakukan secara lebih terencana, terukur, dan berkelanjutan. Strategi keamanan juga harus berjalan beriringan dengan pendekatan pembangunan, pelayanan publik, serta perlindungan masyarakat sipil.
Ia mengingatkan bahwa pendekatan yang hanya bersifat responsif berpotensi membuat pola kekerasan terus berulang. Karena itu, pemerintah harus memiliki strategi jangka panjang untuk menciptakan keamanan dan memastikan masyarakat Papua dapat menjalani kehidupan secara aman dan bermartabat.
“Pemerintah harus lebih serius menyelesaikan masalah KKB di Papua. Kalau penanganannya hanya parsial, kasus serupa akan terus terulang. Negara harus hadir secara konsisten, bukan hanya ketika terjadi penembakan atau pembunuhan,” ujar Oleh Soleh.
Oleh Soleh juga meminta aparat melakukan investigasi secara profesional untuk mengungkap pelaku, jaringan, serta motif di balik penembakan tersebut. Penegakan hukum, kata dia, harus dilakukan secara tegas sekaligus tetap menjunjung tinggi hukum dan perlindungan terhadap masyarakat sipil.
Sebelumnya, Wakil Ketua Komisi I DPR RI dari Fraksi PKS, Sukamta menyampaikan duka cita mendalam atas gugurnya tiga pegawai Dinas Pertanian Kabupaten Jayawijaya yang ditembak saat menjalankan tugas di Distrik Muliama, Papua Pegunungan.
“Mereka sedang menjalankan tugas melayani masyarakat. Negara wajib melindungi setiap warga negara, terlebih mereka yang bertugas menghadirkan pembangunan dan ketahanan pangan di Papua,” kata Sukamta dalam siaran pers, Sabtu (12/9/2026).
Anggota Komisi I DPR RI Fraksi PKS tersebut meminta aparat mengusut tuntas pelaku dan jaringan di balik penembakan, sekaligus memastikan kejadian serupa tidak terulang.
“Jangan berhenti pada siapa yang menarik pelatuk. Ungkap siapa yang merencanakan, memasok senjata, dan memberikan dukungan terhadap aksi kekerasan ini,” katanya menambahkan.
Sukamta menilai meningkatnya serangan kelompok kriminal bersenjata (KKB) terhadap masyarakat sipil harus menjadi perhatian serius pemerintah.
Menurutnya, sasaran terhadap warga sipil dapat menjadi indikasi bahwa kelompok bersenjata semakin mengandalkan teror dan penciptaan ketakutan sebagai cara untuk mempertahankan pengaruhnya.
“Ketika masyarakat sipil semakin sering dijadikan sasaran, ini menunjukkan bahwa teror dan rasa takut menjadi salah satu cara yang digunakan KKB untuk menunjukkan eksistensinya. Negara tidak boleh membiarkan strategi teror seperti ini berhasil,” katanya.
Sukamta meminta pemerintah memperkuat deteksi dini, intelijen, pengamanan wilayah, dan perlindungan terhadap masyarakat sipil, khususnya mereka yang bekerja di sektor pelayanan publik seperti pertanian, pendidikan, kesehatan, dan pembangunan infrastruktur.
“Semakin banyak sasaran sipil, semakin kuat pula kebutuhan untuk meningkatkan deteksi dini dan perlindungan masyarakat. Jangan menunggu korban berikutnya baru bertindak. Ini saat yang bagus bagi Pemerintah Pusat, Pemda dan Masyarakat bersama- sama untuk peningkatan keamanan dan kesejahteraan seluruh masyarakat Papua tanpa keciuali.
Dalam pernyataan penutupnya, aggota DPR RI asal DIY ini menyatakan bahwa pembangunan dan pelayanan publik harus terus berjalan, tetapi keselamatan masyarakat harus menjadi prioritas. “Negara harus hadir, melindungi warga sipil, dan memastikan Papua tidak menjadi ruang bagi teror dan ketakutan,” ujarnya mengakhiri.
Diketahui, tiga pegawai Pemerintah Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan, ditembak saat bersama rombongan mengantarkan bantuan kepada masyarakat di Distrik Muliama, Rabu.
Komandan Kodim 1702/Jayawijaya Letkol Inf Ilham Datu Ramang mengatakan penembakan terjadi sekitar pukul 15.45 WIT.
Menurut laporan yang diterimanya, ketiga korban merupakan pegawai Dinas Pertanian Kabupaten Jayawijaya dan diduga ditembak oleh kelompok kriminal bersenjata (KKB). Ketiga korban dilaporkan meninggal dunia dan telah dievakuasi ke RSUD Wamena.
“Insiden tersebut terjadi saat korban bersama rekan-rekannya sedang mengantarkan bantuan pangan dengan menggunakan kendaraan roda empat,” kata Ilham, Rabu (8/9/2026).
Ia mengatakan rombongan tersebut seluruhnya berjumlah delapan orang dan sedang mengantarkan bantuan berupa ternak babi kepada masyarakat. Menurut laporan yang diterima Dandim, sebelum penembakan terjadi, pelaku sempat memisahkan anggota rombongan yang bukan orang asli Papua (OAP) dari rekan-rekannya yang merupakan OAP.
Sementara itu, Kasatgas Humas Operasi Damai Cartenz-2026 Kombes Pol Yusuf Sutejo membenarkan terjadinya penembakan terhadap tiga pegawai Pemerintah Kabupaten Jayawijaya di Distrik Muliama.
Namun, kepolisian masih menyebut pelaku sebagai orang tidak dikenal karena kronologi dan pelaku penembakan masih dalam penyelidikan.
Kepolisian juga menyampaikan data sementara yang berbeda mengenai kondisi korban, yakni dua orang meninggal dunia dan seorang lainnya dalam kondisi kritis.
Seluruh korban telah dievakuasi ke rumah sakit, sedangkan aparat masih melakukan pendalaman di lokasi kejadian. (dho/*)












