Dari Sampah Jadi “SARALI”, Sentuhan Dosen IPB Sulap Bisnis Emak-Emak Kebalen Naik Kelas

oleh
banner 468x60

Bekasi, Pelitabaru.com – Siapa bilang bisnis rumahan, bank sampah, atau kelompok tani tak bisa tampil profesional dan modern? Di Kebalen, Kabupaten Bekasi, ibu-ibu anggota Bank Sampah Mutiara dan Kelompok Wanita Tani (KWT) Mutiara 19 membuktikan sebaliknya.

Berkat Program Dosen Pulang Kampung (Dospulkam) IPB University, kini produk kerajinan daur ulang dan sayuran mereka tak hanya berkualitas, tapi juga punya ‘nama’ dan siap bersaing di era digital.

banner 336x280

Melalui pelatihan bertajuk RUPIKO (Rumah Pintar Berkoperasi), tim Dospulkam IPB yang dikoordinasi oleh Dr. Ir. Yeti Lis Purnamadewi, M.Sc, membawa dua alat utama bagi pelaku usaha mikro, yaitu Branding dan Digitalisasi.

Branding, bukan sekadar logo

Di era global, branding bukan lagi sekadar identitas, melainkan nilai jual dan daya tarik utama. Inilah yang ditekankan dalam pelatihan yang digelar pada Sabtu, (4/10/2025), bertempat di Sekretariat Bank Sampah Mutiara Kebalen.

“Branding itu memberikan nilai tambah. Produk kerajinan dari tutup botol atau koran bekas, ketika diberi brand yang kuat, harganya bisa meningkat karena memiliki cerita dan identitas,” jelas Fitria Dewi Raswatie, SP, M.Si, dosen Fakultas Ekonomi dan Manajemen IPB yang bertindak sebagai trainer.

Hasilnya? Langsung terlihat! Anggota Bank Sampah jebolan Sekolah Sampah Mandiri (SESAMA) kini tak lagi menjual kerajinan biasa. Mereka telah mempraktikkan ilmu tersebut pada produk unggulan mereka, seperti tas daur ulang, kotak tisu dari koran, hingga keranjang cantik dari tutup botol.

Sementara itu, KWT Mutiara 19 mengambil langkah lebih maju. Mereka resmi meluncurkan brand untuk produk sayuran mereka: “SARALI”, singkatan dari Sayuran Ramah Lingkungan. Nama ini bukan hanya sekadar label, melainkan janji kualitas dan komitmen terhadap lingkungan. Memproduksi sayuran serba organik.

Digitalisasi: Kunci Transparansi dan Promosi

Selain branding, pelatihan ini juga fokus pada digitalisasi. Dianggap sebagai kebutuhan vital, digitalisasi bertujuan untuk memastikan transparansi pelaporan keuangan dan membuka gerbang promosi yang lebih luas. Dengan digitalisasi, produk-produk Kebalen ini kini memiliki peluang untuk dikenal hingga ke luar Bekasi.

Dr. Ir. Dahri Tanjung, M.Si, dosen Manajemen Agribisnis Sekolah Vokasi IPB, menyatakan optimismenya melihat semangat para peserta.

“Adaptasi dan ketahanan usaha yang dimiliki oleh anggota Bank Sampah dan KWT Mutiara 19 ini sangat membanggakan. Mereka tidak hanya menerima ilmu, tetapi langsung mempraktikkannya. Ini menunjukkan keseriusan untuk mengubah kegiatan usaha ini menjadi lebih profesional dan berkelanjutan,” ujar Dr. Dahri.

Program Dosen Pulang Kampung IPB ini membuktikan bahwa sentuhan ilmu pengetahuan dan teknologi yang tepat sasaran mampu menyulap potensi lokal dari tumpukan sampah hingga hasil panen menjadi sumber ekonomi yang profesional dan membanggakan. Kelompok ini menunjukkan keseriusan dan kekompakan. (adi/*)

 

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *