Jakarta, Pelitabaru.com – Bencana yang terjadi di sejumlah wilayah Sumatra berpotensi menekan kinerja ekonomi daerah dan nasional pada 2025. Hal itu diungkap Kepala Ekonom PT Bank Central Asia Tbk (BCA) David Sumual dalam acara BCA di Jakarta, Senin (15/12/202).
Menurutnya, berdasarkan perhitungan sementara yang dilakukan pihaknya, dampak bencana tersebut diperkirakan memangkas produk domestik bruto (PDB) hingga sekitar 0,3%, terutama akibat penurunan konsumsi dan produksi.
“Untuk hitungan aja, jadi kita melihat dampaknya sekitar 0,3% dari PDB lah kurang lebih. Penurunan PDB yang bisa terjadi akibat konsumsi yang menurun, produksi yang menurun dan sebagainya,” kata David.
Secara rinci, belanja masyarakat di Sumatra Barat tercatat menyumbang 25,53% atau sekitar Rp3,8 triliun, Sumatra Utara 22,31% atau Rp11,8 triliun, dan Aceh 23,92% atau Rp2,8 triliun dari total konsumsi wilayah terdampak.
Sementara itu, kontribusi daerah terhadap PDB nasional pada kuartal III-2025 antara lain Aceh sebesar 1,16%, Sumatra Utara 4,85%, dan Sumatra Barat 1,49%, dengan porsi konsumsi rumah tangga masing-masing mencapai 54,13% di Aceh, 49,63% di Sumatra Utara, dan 47,94% di Sumatra Barat.
Dengan asumsi belanja masyarakat masih tertekan hingga Desember 2025 dan pola belanja Aceh menjadi acuan, BCA memperkirakan efek konsumsi pascabencana dapat menurunkan PDB nominal nasional kuartal IV-2025 sebesar sekitar 0,31% atau setara Rp18,58 triliun.
Di sisi lain, David memperkirakan dampak bencana terhadap pertumbuhan ekonomi Sumatra berada di kisaran 0,2–0,3%. Namun, efek tersebut dinilai relatif lebih kecil terhadap kinerja ekonomi nasional karena adanya kontribusi dari daerah lain yang masih menunjukkan peningkatan aktivitas ekonomi.
Sehingga, dengan mempertimbangkan kondisi tersebut, ia menilai target pertumbuhan ekonomi Indonesia masih dapat bertahan di kisaran 5,0-5,1%.
“Jadi saya pikir masih bisalah 5 sampai 5,1% [pertumbuhan ekonomi 2025], tapi nggak mungkin 6%,” jelasnya.
Sementara itu, Mendagri Tito Karnavian meminta daerah untuk memberikan solidaritas dan dukungannya untuk pemulihan pascabencana Aceh dan Sumatra. Tito mengingatkan bantuan dari pemda bisa memanfaatkan sisa anggaran yang biasanya muncul di akhir tahun.’
“Silakan mau membantu solidaritas. Akhir tahun, ada yang memiliki anggaran yang sisa lebih,” ujar Tito, Senin (15/12/2025).
Tito mengaku telah memonitor bahwa total semua anggaran solidaritas dari pemda mencapai Rp46 miliar. “Diberikan langsung. Tapi ada juga yang mengirim tenaga medis, obat-obatan, makanan, pakaian, langsung ke kabupaten, kota yang dianggap paling terdampak,” kata Tito.
Tito mengatakan pemerintah pusat telah mengerahkan semua kekuatan, dan juga daerah sudah bergerak sendiri.
“Kami hari ke-3 sudah ke lokasi di Aceh. Menggerakkan Satpol PP, Damkar, BPBD, bekerja sama dengan kekuatan yang ada dari pusat juga turun. TNI, Polri, Basarnas, BNPB, dan lain-lain. Kemudian, untuk anggaran totalnya Rp268 miliar,” kata Tito menegaskan.
Selain itu, pada kesempatan ini, Tito juga meminta kementerian dan lembaga negara terkait dokumen masyarakat memberikan layanan bebas biaya atau gratis pada korban banjir bandang dan tanah longsor di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat. Dia menilai, dalam proses rehabilitasi, masyarakat yang menjadi korban akan membutuhkan kembali dokumen-dokumen pribadi dan berharganya.
Dia mengklaim, seluruh layanan dokumen yang berada di bawah Kementerian Dalam Negeri bebas biaya. Beberapa di antaranya adalah pengurusan cetak ulang Kartu Tanda Penduduk (KTP), Kartu Keluarga (KK), dan Akta Kelahiran.
“[Korban terdampak bencana] ada banyak dokumen yang hilang. Kami mohon kementerian dan lembaga terkait, bisa juga menggratiskan kepada mereka,” kata Tito di Istana Negara.
Menurut dia sejumlah dokumen lain yang juga penting dan berharga bagi para korban adalah sertifikat tanah yang dikeluarkan Kementerian Agraria dan Tata Ruang; ijazah pendidikan dari Kementerian Pendidikan; buku pernikahan dari Kementerian Agama, hingga STNK dan BPKB kendaraan dari Kepolisian.
Selain itu, para korban juga membutuhkan dokumen keuangan atau perbankan yang mungkin turut hanyut terbawa banjir atau tertimbun tanah longsor. Beberapa di antaranya seperti buku tabungan, hingga kartu ATM. (zie/*)












