Lewat PKM-VGK, Lima Mahasiswa IPB Gagas SiMata untuk Skrining Awal Risiko NAPZA Berbasis AI

oleh
banner 468x60

Bogor, pelitabaru.com

Lima mahasiswa IPB University dari berbagai disiplin ilmu berkolaborasi merancang sebuah sistem inovasi skrining awal penyalahgunaan NAPZA bernama SiMata.

banner 336x280

Gagasan futuristik ini diajukan melalui Program Kreativitas Mahasiswa bidang Video Gagasan Konstruktif (PKM-VGK) 2026 dengan mengintegrasikan analisis respons pupil mata dan teknologi kecerdasan buatan (AI) sebagai solusi preventif non-medis di lingkungan pendidikan.

Inovasi ini diusulkan oleh tim lintas jurusan yang terdiri dari Dwina Sarah Diva (Teknologi Rekayasa Perangkat Lunak), Fahriatu Saidah (Aktuaria), Citra Putri Marlin (Meteorologi Terapan), Jihan Delly Naysilla (Komunikasi Digital dan Media), serta Najwa Alya Kamaludin (Komunikasi Digital dan Media) di bawah bimbingan Dr. Medhanita Dewi Renanti, S.Kom., M.Kom.

Gagasan SiMata berakar dari tingginya angka kerentanan generasi muda terhadap ancaman narkotika.

Berdasarkan data resmi Badan Narkotika Nasional (BNN), prevalensi penyalahgunaan narkoba di Indonesia pada 2023 mencapai 1,73 persen atau setara dengan 3,33 juta jiwa penduduk usia 15–64 tahun.

Dari total tersebut, sekitar 903.600 pengguna berasal dari kelompok usia muda, dengan lebih dari 50 persen kasus tindak pidana narkotika melibatkan rentang usia 17 hingga 35 tahun.

Persoalan ini kerap beririsan dengan dinamika sosial remaja di lapangan. Perubahan perilaku seperti emosi tidak stabil, penurunan kendali diri, hingga perselisihan antarpelajar sering kali hanya dianggap sebagai kenakalan remaja biasa.

Akibatnya, indikasi paparan zat terlarang terlambat disadari dan penanganannya menjadi tidak optimal.

Di sisi lain, metode pemeriksaan konvensional seperti tes urine dan darah memiliki keterbatasan karena bersifat invasif, memerlukan prosedur medis, dan berbiaya tinggi, sehingga sulit diterapkan secara berkala di sekolah maupun kampus.

Untuk menjawab tantangan tersebut, SiMata dirancang memanfaatkan respons fisiologis pupil mata terhadap stimulus cahaya yang dikendalikan oleh sistem saraf pusat.

Paparan zat psikoaktif diketahui dapat memengaruhi diameter pupil secara spesifik, seperti terjadinya pelebaran (dilatasi) akibat zat stimulan maupun penyempitan ekstrem (konstriksi) akibat zat depresan atau opioid.

Sifat refleks pupil yang tidak sadar menjadikannya biomarker objektif yang sulit dimanipulasi.

Secara teknis, perangkat SiMata dirancang menyerupai alat refraksi mata berstruktur tertutup yang dilengkapi penyangga dahi dan dagu. Kamera internal menangkap pergerakan pupil saat layar menampilkan stimulus cahaya.

Citra tersebut kemudian diproses melalui segmentasi visual dan dianalisis menggunakan algoritma Convolutional Neural Network (CNN) untuk mengekstraksi pola dinamis pupil secara langsung.

Hasil pemrosesan sistem diklasifikasikan ke dalam tiga kategori: aman bagi kondisi tanpa indikasi, perlu pemeriksaan lanjutan untuk pemantauan ulang, serta perlu perhatian yang diarahkan ke rujukan tenaga medis atau instansi berwenang.

Seluruh data individu yang telah dianonimkan dapat diintegrasikan ke basis data nasional untuk mendukung kebijakan berbasis data.

SiMata diposisikan murni sebagai instrumen skrining awal guna mengenali indikasi risiko, bukan sebagai diagnosis akhir ataupun pengganti tes konvensional dan pemeriksaan medis formal.

Sebagai karya PKM-VGK, gagasan ini divisualisasikan dalam bentuk video naratif berbasis fakta untuk mengedukasi masyarakat luas.

Dalam produksinya, tim bermitra dengan SMK Pembangunan yang melibatkan siswa dan guru sebagai pemeran dalam skenario video.

Tim juga telah melaksanakan audiensi bersama BNN Kabupaten Bogor untuk memperkuat konteks yang diangkat.

Dalam audiensi tersebut, tim dari BNN Kabupaten Bogor, Imam dan Eko memberikan perspektif mengenai kondisi di lapangan, termasuk keterkaitan zat tertentu dengan penurunan rasa sakit pada aksi kekerasan, serta memahami pembedaan penanganan hukum secara projustitia maupun rehabilitasi (nonprojustitia).

Konsep implementasi SiMata mengusung roadmap bertahap 2025–2030 berbasis kerangka kolaborasi lintas sektor antara BNN sebagai pembuat kebijakan, Kementerian Kesehatan untuk verifikasi medis, kementerian pendidikan sebagai fasilitator, serta pihak sekolah atau kampus sebagai pelaksana.

Melalui karya ini, tim mahasiswa IPB University berupaya mengawal gagasan SiMata menuju ajang Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) guna mewujudkan lingkungan pendidikan yang lebih aman dan terlindungi dari ancaman NAPZA. (fuz/*)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *