OPINI

oleh
banner 468x60

Kebakaran Jenggot

King dan Sahlan saling pandang ketika melihat berita di televisi dan membaca berita di portal berita (online).

banner 336x280

“Itu, sih, namanya lagi pada “kebakaran jenggot”, bro…!” teriak mereka.

Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga acuannya (BI Rate) sebesar 25 basis poin menjadi 5,50% melalui Rapat Dewan Gubernur (RDG), pada Selasa (9/6/2026). Padahal belum sebulan (19 Mei 2026), bank sentral menaikkan BI Rate menjadi 5,25%.

Hal itu menggambarkan sikap pembuat kebijakan atau bank sentral (BI) yang sangat agresif dalam mengendalikan inflasi.

Kebijakan BI itu dalam rangka memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah, yang menghadapi dampak perang di Timur Tengah dan menjaga inflasi tetap terkendali seusai target pemerintah.

Kenaikan BI Rate itu berdampak langsung pada melambatnya peredaran uang di masyarakat.

Kebijakan ini memicu kenaikan suku bunga kredit, potensi bunga deposito yang lebih menarik, serta mendorong penguatan mata uang rupiah.

Kenaikan BI Rate berdampak bagi masyarakat dan nasabah bank, karena cicilan kredit lebih mahal.

Seperti bunga untuk Kredit Pemilikan Rumah (KPR) dengan skema floating rate (mengambang), Kredit Kendaraan Bermotor (KKB), dan kartu kredit, akan ikut naik.

Bank pun menjadi lebih selektif dalam menyetujui pinjaman baru guna menekan risiko kredit macet.

Lain halnya bagi penyimpan dana, bunga deposito dan tabungan berjangka akan meningkat, memberikan imbal hasil yang lebih menguntungkan.

Dengan mahalnya biaya pinjaman dan menariknya suku bunga tabungan, masyarakat cenderung menahan konsumsi sehingga laju inflasi dapat ditekan.

Di sisi lain, penurunan pengeluaran konsumen akibat beban cicilan yang membengkak dapat menekan laju perputaran uang di sektor riil.

Suku bunga tinggi memang menarik minat investor asing untuk menanamkan modal di instrumen keuangan Indonesia, yang pada akhirnya memperkuat nilai tukar rupiah.

Bagi dunia usaha dan investasi, ekspansi bisnis melambat. Biaya modal dan pinjaman bank yang tinggi membuat perusahaan lebih berhati-hati, menunda rencana ekspansi atau mengurangi investasi baru.

Namun, suku bunga tinggi sering menjadi sentimen negatif bagi pasar saham, karena biaya operasional perusahaan meningkat dan daya beli masyarakat menurun.

Mantan Menteri Keuangan Chatib Basri di era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, diminta pengalamannya ketika mampu melewati masa krisis saat itu.

Chatib Basri yang juga anggota Dewan Ekonomi Nasional, diminta pendapat dan solusinya atas situasi dan kondisi (sikon) saat ini, dimana rupiah di pasar uang melemah dan IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan) di pasar modal, anjlok.

Intinya, kata Chatib Basri, ruang gerak Menteri Keuangan sangat terbatas dan hanya menyisakan tiga opsi utama saat rupiah anjlok, yakni: menaikkan pajak, memotong anggaran belanja negara atau menambah utang.

Sebelumnya, mantan Gubernur BI, Burhanuddin Abdullah, juga diminta masukan dan bertukar pengalaman terkait pengelolaan ekonomi dan mitigasi krisis.

Mendiskusikan tantangan ekonomi masa lalu – seperti krisis energi dan gejolak nilai tukar pada periode 2005 hingga 2008 – untuk dijadikan pelajaran dalam menghadapi situasi ekonomi saat ini.

Tak kalah menarik, adalah para menteri dan pejabat terkait yang serempak menyatakan bahwa fundamental ekonomi Indonesia kuat. Perbankan juga disebutkan dalam sikon yang aman-aman saja.

Intinya, rakyat diminta tenang dan jangan panik karena semuanya masih terkendali.

Meski rupiah sudah menunjukkan penguatan yang tipis, namun tetap betah berada di level 18.000 -an, dan IHSG mulai merangkak naik. Ini tak lain, dampak dari kebijakan BI yang menaikkan suku bunga acuannya.

Sementara itu, sengkarut di kasus korupsi Makan Bergizi Gratis (MBG), makin seru setelah mantan Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sony Sanjaya selaku salah satu tersangka, mengungkap daftar nama-nama yang terlibat dalam kasus korupsi MBG.

Sejumlah nama-nama yang disebut Sony, beramai-ramai membantah dugaan keterlibatan mereka dalam dugaan kasus korupsi tata kelola program MBG.

Sangat Panik

“Kebakaran jenggot” adalah keadaan sangat panik, bingung tidak keruan atau sangat cemas, kalut, dan ketakutan karena mendapat masalah yang mendesak dan terjadi.

Peribahasa ini biasanya digunakan untuk menggambarkan seseorang yang bereaksi berlebihan atau tergesa-gesa akibat suatu kejadian.

Istilah ini juga sering digunakan untuk menggambarkan reaksi panik seseorang, terutama saat mereka merasa tertekan, terancam, atau takut akan akibat dari suatu perbuatan.

Metafora ini awalnya menggambarkan visualisasi seseorang yang jenggotnya terbakar.

Jenggot yang berada di area wajah, tentu akan membuat pemiliknya sangat panik, berlari ke sana kemari, dan bertingkah kacau untuk memadamkannya. (bang iz)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *