Jakarta, pelitabaru.com – Dalam hidup, kita tak terlepas dari kritik. Ada kalanya kita menerima kritik, ada pula kita yang mengkritik orang lain.
Di tengah situasi dan kondisi perekonomian yang terjadi saat ini, seperti rupiah terus bertahan ke level rendah di kisaran 18.000-an per dolar AS, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia anjok, pebisnis mengerem ekspansinya (agar dapat bertahan untuk kelangsungan usaha), ancaman pemutusan hubungan kerja (PHK) massal di depan mata, belitan kasus korupsi yang sepertinya tak habis-habis.
Ditambah lagi dampak perang di timur tengah masih memanas, semuanya membuat biaya hidup menjadi tinggi dan mengakibatkan kehidupan masyarakat sulit.
Tak heran ruang kritikan dari rakyat membuncah, luber, keluar dengan sendirinya.
Masyarakat ingin bersuara agar didengar oleh penguasa yang seharusnya menerima semua uneg-uneg kritikan dengan lapang dada. Ikhlas. Dan secepatnya merespon “keluhan” masyarakat.
Bahkan, musisi senior Bimbim Slank, mengatakan jangan membungkam kritikan.
Ia menegaskan Slank tidak pernah berhenti bersuara kritis, melainkan gaya dan topik kritiknya terus beradaptasi mengikuti dinamika serta permasalahan di setiap zaman. Slank selalu lantang menyuarakan keseimbangan dan kritik sosial.
Bimbim menyebut Slank sebagai grup yang dinamis. Setiap karya yang dibuat selalu menjadi buah dari kegelisahan yang terjadi di lingkungan masyarakat.
Anggota DPR RI Imas Aan Ubudiyah juga mengatakan kritik adalah bagian penting dari kontrol publik demi terwujudnya pembangunan yang lebih baik.
“Kritik itu obat, bukan malah dianggap sebagai masalah,” tegas Imas.
King dan Sahlan setuju dengan pernyataan Bimbim Slank juga Imas Aan Ubudiyah.
“Iyalah. Jangan bungkam setiap kritikan. Apalagi kritikan itu mengajak yang dikritik agar cepat instrospeksi, dan memperbaiki kekeliruannya. Misalnya, tidak pas dalam mengeluarkan suatu kebijakan publik yang menyangkut harkat hidup orang banyak. Segera diperbaiki,” timpal Sahlan.
“Keren banget itu kata-kata, bro. Belajar di mana? Dalam banget maknanya. Udah boleh, nih, jadi politisi muda,” canda King.
Dan, merekan pun tertawa, di bawah bayang sinar rembulan yang temaram.
Matikan Ruang Demokrasi
King dan Sahlan teringat ucapan seorang tokoh politisi senior yang jujur dan bersahaja, ketika menjalankan amanahnya di parleman.
Membungkam kritikan hanya akan mematikan ruang demokrasi dan menghalangi perbaikan.
Suara kritis – terutama dari masyarakat dan mahasiswa – seharusnya dilihat sebagai alarm pengingat serta obat penyembuh untuk memperbaiki kebijakan yang timpang, bukan dianggap sebagai musuh atau ancaman bagi pemegang kekuasaan.
Ada beberapa alasan fundamental mengapa kritik harus dijaga dan dirawat di ruang publik.
Pendorong Perbaikan. Kritik yang berbasis data membantu pemerintah atau institusi untuk melihat masalah nyata yang dirasakan masyarakat, seperti isu ekonomi atau infrastruktur.
Hak Konstitusional. Kebebasan berpendapat dilindungi oleh Undang-Undang Dasar dan merupakan pilar utama dari sistem demokrasi.
Menghindari Otoriterisme. Respons yang represif terhadap kritik justru dapat menurunkan kualitas demokrasi dan menumbuhkan budaya takut di kalangan masyarakat.
Ruang Dialog yang Sehat. Masalah yang dikritik seharusnya diselesaikan melalui ruang musyawarah dan keterbukaan, bukan dengan intimidasi.
“Jadi jangan alergi dengan kritikan, ya, Pak. Kritikan itukan tanda sayang. Si pengkritik peduli dengan yang dikritik. Bener apa bener, nih, Pak? Iyalah benerrrrr…,” King dan Sahlan kompak besuara sambil menengadah ke langit malam. (bang iz)









