Bogor, Pelita Baru
Peringatan Hari Jadi Bogor (HJB) ke 544 pada Rabu (3/6/2026) yang dipusatkan di Desa Malasari, Kecamatan Nanggung, tak hanya berlangsung semarak, tapi juga penuh makna.
Tak hanya soal nilai historis dan potensi wisata dan ekonomi yang menjadi latar belakang pemilihan desa di kaki Gunung Halimun ini, peringatan HJB juga semakin memberi arti dengan hadirnya sejumlah mantan pejabat Bupati dan Wakil Bupati Bogor sebelumnya.
Nampak hadir, mantan Bupati Bogor Ade Yasin, mantan Penjabat Bupati Bogor Asmawa Tosepu dan Bachril Bakri, mantan Wakil Bupati Bogor Albert Pribadi dan Karyawan Faturachman, serta para mantan Sekretaris Daerah Kabupaten Bogor.
Kehadiran para mantan pimpinan daerah ini tak hanya menjadi penanda bahwa sejarah dan masa depan Kabupaten Bogor harus berjalan beriringan tapi juga menjadi bukti yang menguatkan jika sosok Rudy Susmanto selalu menjunjung tinggi sikap nguwongke (filosofi untuk memanusiakan manusia. Konsep ini mengajarkan kita untuk memperlakukan orang lain dengan penuh penghargaan, menjaga martabat mereka, dan menerimanya sebagaimana adanya tanpa menghakimi-red).
Terlepas dari itu, yang pasti, pemilihan Desa Malasari juga menjadi bukti keseriusan Rudy Susmanto meneguhkan kembali misi membangun Kabupaten Bogor yang maju dan istimewa dari titik awal berdirinya pemerintahan Bogor.
Terlebih, Desa Malasari sendiri hamper sejak era Bupati Bogor Mayjen (Purn) H. Soedardjat Nataatmadja yang menjabat untuk periode 1983 hingga saat ini belum tersentuh pembangunan modern.
“Kenapa kami mengajak untuk melaksanakan Hari Jadi Bogor di sini? Tanah yang kita injak di bawahnya ada potensi yang sangat luar biasa. Mineral emas ada di sini, mineral panas bumi ada di sini. Ini adalah titik awal Bogor berdiri. Ini adalah titik awal adanya Kabupaten Bogor, Kota Bogor, dan Kota Depok. Bupati pertama berkantor di Desa Malasari, yang sekaligus merangkap sebagai Pelaksana Tugas Bupati Lebak pada saat itu, yaitu Bapak Raden Ipit Gandamana,” ujarnya.
Meski kaya akan sumber daya alam dan berada di kawasan asri Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS), Rudy menyoroti ketertinggalan infrastruktur di Desa Malasari. Ia menilai potensi besar wilayah tersebut belum sejalan dengan kualitas pelayanan dan fasilitas yang dirasakan masyarakat.
Mengingat Kabupaten Bogor kini berpenduduk sekitar 6,19 juta jiwa yang tersebar di 40 kecamatan, 416 desa, dan 19 kelurahan, Rudy menegaskan bahwa tantangan pembangunan ini merupakan pekerjaan rumah (PR) bersama yang harus diselesaikan secara kolaboratif dan berkelanjutan.
“Maka momentum Hari Jadi Bogor ke-544 tahun ini, mari kita niatkan bersama. Apa yang sudah dikerjakan oleh para pemimpin terdahulu membutuhkan perjuangan keras bersama-sama. Kita tidak akan bisa menuntaskan semuanya dalam waktu singkat,” ujar Rudy.
Rudy menambahkan, jika ingin Bogor mengalami perubahan dan kemajuan, seluruh elemen masyarakat dan pejabat pemerintahan, mulai dari Sekretaris Daerah, pimpinan OPD, camat, lurah, kepala desa, ketua RT/RW, hingga organisasi kemasyarakatan harus bergerak bersama.
“Kami tidak pungkiri masih banyak rakyat kita yang kurang mampu, masih ada stunting di Kabupaten Bogor, masih ada banjir dan longsor di mana-mana. Lantas, siapa yang akan membawa perubahan? Jangan sampai titik awal Bogor berdiri justru menjadi titik paling belakang perkembangan Kabupaten Bogor,” tegasnya.
Secara khusus, Rudy turut meminta komitmen dari pihak TNGHS dan PT Sumi Asih selaku pemilik lahan terbesar di kawasan tersebut untuk mendukung pembangunan fasilitas publik, terutama pendidikan dan kesehatan. Ia menyoroti keterbatasan waktu belajar anak-anak di wilayah tersebut akibat keterbatasan fasilitas.
Di akhir, Rudy menekankan bahwa kemajuan jangka panjang Desa Malasari tidak hanya bertumpu pada infrastruktur fisik, melainkan pada kualitas Sumber Daya Manusia (SDM). (duan)












