Nilai Tukar Rupiah Terhadap Dolar Terus Melempem

oleh
banner 468x60

Jakarta, Pelita Baru

Nilai tukar rupiah ditutup melemah 27 poin ke level Rp17.744 per dolar AS pada perdagangan Senin (25/5/2026) sore. Pelemahan mata uang Garuda ini diperkirakan masih berlanjut pada perdagangan besok di kisaran Rp17.740 hingga Rp17.800 per dolar AS.

banner 336x280

Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi menilai tekanan terhadap rupiah saat ini lebih banyak dipengaruhi sentimen domestik, mulai dari kekhawatiran pasar terhadap defisit anggaran hingga kebijakan pemerintah yang dinilai kurang ramah pasar.

Menurut Ibrahim, meski harga minyak dunia mulai mengalami penurunan, sentimen positif tersebut belum mampu mengangkat pergerakan Rupiah. Bahkan, ketika mata uang negara-negara tetangga menguat, rupiah justru bergerak melemah.

“Kita lihat mata uang negara tetangga semua menghijau, tapi Indonesia memerah,” ujar Ibrahim dalam analisisnya.

Ia juga menyoroti pidato Presiden Prabowo Subianto terkait kebijakan ekspor satu pintu komoditas melalui PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI). Kebijakan tersebut dinilai memunculkan kekhawatiran di kalangan pasar internasional.

“Ini juga membuat banyak kecaman terhadap pemerintah (dari) internasional yang kemungkinan besar, lembaga internasional seperti S&P Global, kemudian dan lain-lainnya kemungkinan besar akan menurunkan rating utang pemerintah Indonesia,” kata Ibrahim.

Selain itu, Ibrahim menilai sejumlah kebijakan pemerintah saat ini belum sepenuhnya mendukung kepentingan pasar sehingga memperbesar tekanan terhadap rupiah. “Ini kemungkinan akan berlanjut besok. Ada 50-60 poin kelemahan,” lanjutnya.

Dari sisi eksternal, Ibrahim mengatakan dolar AS menguat seiring adanya sentimen positif pasar terkait kemungkinan tercapainya kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran.

“Sebelumnya, Donald Trump mengatakan bahwa Washington dan Iran ini sebagian besar negosiasinya kemungkinan akan disepakati yang diperakarsai oleh Pakistan,” kata Ibrahim.

Meski demikian, ia mengingatkan masih terdapat sejumlah persoalan krusial dalam negosiasi kedua negara, termasuk terkait Uranium dan dana Iran yang dibekukan sejak era 1970-an.

Selain itu, pasar juga masih dibayangi potensi kebijakan suku bunga tinggi di AS setelah Gubernur Bank Sentral AS, Christopher Waller, membuka peluang kenaikan suku bunga jika inflasi masih tetap tinggi.
Menurut Ibrahim, pernyataan tersebut memperkuat ekspektasi bahwa suku bunga tinggi di AS masih akan bertahan hingga akhir tahun.

“Walaupun kita tahu bahwa Presiden Trump tidak menyerukan penurunan suku bunga dalam kondisi saat ini. Tetapi ini yang membuat kemungkinan besar suku bunga tinggi, ya ini masih akan terjadi sampai akhir tahun ini,” kata Ibrahim.

Di sisi lain, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat 0,72 persen ke level 6.206 sore ini, setelah sempat tertekan di perdagangan awal.

Sementara itu, Ekonom Bank Permata, Joshua Pardede, mengungkapkan Rupiah melemah terhadap Won Korea Selatan, Yen Jepang, Peso Filipina, Dolar Hong Kong hingga Yuan China. Penguatan satu-satunya hanya terjadi terhadap Rupee India sebesar 0,8 persen.

“Yang paling dalam kita melemah terhadap Ringgit Malaysia (8 persen), lalu yang kedua terhadap Singapur Dolar (6,3 persen), yang berikutnya terhadap Hong Kong (5,2 persen), baru terhadap Yuan,” kata Joshua.

Sementara Rupiah tercatat melemah 5,7 persen sepanjang tahun ini terhadap Dolar AS, jauh lebih dalam dibandingkan penguatan DXY yang hanya sekitar 0,9 persen secara year to date. “Kalau kita lihat sebenarnya DXY penguatannya tidak banyak, hanya sekitar 0,9 persen. Tapi Rupiah melemahnya hampir 5 persen lebih,” katanya.

Josua mendesak pemerintah untuk tidak terus berdalih dengan menyalahkan faktor global dari kurs yang terus melemah. “Jadi jangan terus menyalahkan global. Dan jangan marah-marah ketika wartawan menanyakan apakah ada masalah domestik,” tegasnya.

Menurutnya, tekanan terhadap mata uang domestik justru menunjukkan adanya persoalan yang juga berasal dari dalam negeri. Meski demikian, ia mengakui terdapat faktor musiman yang ikut meningkatkan permintaan Dolar AS pada kuartal II-2026.

Salah satunya berasal dari pembayaran dividen perusahaan-perusahaan terbuka yang umumnya jatuh pada Mei. “Listed companies banyak yang bayar dividen di bulan Mei. Jadi wajar ada peningkatan permintaan Dolar di kuartal kedua,” katanya.

Selain itu, permintaan valas juga meningkat seiring musim haji yang mendorong kebutuhan transaksi dalam mata uang asing. Karena itu, Joshua mendorong penguatan penggunaan Local Currency Transaction (LCT) agar ketergantungan terhadap Dolar AS dalam transaksi internasional bisa dikurangi. (dho/*)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *