Pulang ke Diri Sendiri

oleh
banner 468x60

Bogor, pelitabaru.com – Sore itu, Tazkia membuka laci meja neneknya, mencari pulpen atau mungkin sekadar sesuatu untuk dilakukan dengan tangannya.

Yang ia temukan bukan pulpen.
Di bawah lipatan kain dan surat-surat lama, ada sebuah foto. Kecil, sudutnya sudah menguning. Di dalamnya: seorang anak perempuan berusia tiga tahun. Mata besar, rambut dikuncir dua, senyum yang belum tahu apa yang akan datang menjemputnya.
Tazkia tidak langsung mengenali wajah itu sebagai wajahnya sendiri.

banner 336x280

Butuh beberapa detik. Lalu dadanya terasa berat, bukan karena sedih, bukan karena marah, tapi karena sesuatu yang lebih sunyi dari keduanya. Semacam pertemuan yang terlambat dua belas tahun.

*Bandung, Awal 2000-an*
Sebelum semua itu terjadi, ada seorang anak perempuan berusia tiga tahun yang hidupnya terasa penuh. Ayahnya ada. Ibunya ada.

Lalu ayahnya jatuh sakit dan pergi untuk selamanya. Belum sempat Tazkia mengerti arti kehilangan, ibunya pun menyusul, bukan oleh kematian, melainkan oleh tekanan keluarga yang menggerogoti dari dalam hingga ia harus dirawat di rumah sakit jiwa.
Dalam waktu singkat, Tazkia kehilangan dua tangan yang seharusnya menggandengnya tumbuh. Ia baru berusia tiga tahun.

*Enam Tahun yang Tidak Pernah Pergi*
Tazkia dititipkan kepada pamannya, satu-satunya keluarga yang mau membuka pintu.
Di rumah itu, ada seorang anak yang lebih muda tapi lebih pandai memainkan kata-kata. Ia sering mengadu hal-hal yang tidak pernah terjadi. Tidak ada yang memverifikasi. Tidak ada yang bertanya kepada Tazkia.

Maka sang paman bertindak dengan tangannya. Setiap hari, selama enam tahun penuh, dari hari pertama Tazkia memakai seragam merah-putih hingga hari terakhir ia melepasnya.

Kekerasan yang terjadi selama masa pembentukan kepribadian akan berdampak pada kehidupan masa depan anak, demikian tercatat dalam jurnal Sosio Informa Kementerian Sosial RI. Anak yang mengalaminya dapat tumbuh menjadi pribadi yang depresif dan kehilangan kemampuan mempercayai lingkungannya.
Pelajaran yang perlahan terpatri dalam diri Tazkia hanya satu: kejujuran adalah ancaman. Lebih aman diam.

Aku takut kalau ngomong jujur, pasti ada yang marah. Pasti ada yang nyakitin aku lagi,” kenangnya.

*Angka di Balik Satu Nama*
Tazkia bukan satu-satunya. SNPHAR, Survei Nasional Pengalaman Hidup Anak dan Remaja 2024 mencatat bahwa satu dari dua anak usia 13 hingga 17 tahun di Indonesia pernah mengalami setidaknya satu bentuk kekerasan sepanjang hidupnya. Sepanjang 2024, KPAI, Komisi Perlindungan Anak Indonesia, menerima 2.057 pengaduan dengan 1.097 kasus berasal dari lingkungan keluarga dan pengasuhan alternatif. (Universitas Gadjah Mada)
Komisioner KPAI menyebut kekerasan anak seperti fenomena gunung es: satu tampak, ribuan lain masih tenggelam.
Tazkia adalah salah satu dari yang lama berada di bawah permukaan, tidak terlihat, tidak terdengar, tidak ditangani.

*Mengapa Semua Ini Terjadi*

Yang akhirnya Tazkia pahami: neneknya, satu-satunya yang mencintainya tanpa syarat, adalah pangkal dari segalanya. Cinta itu membuat saudara-saudara Tazkia cemburu. Dan kecemburuan itu menjawab segalanya: mengapa ia diperlakukan seperti orang asing di rumah yang seharusnya juga miliknya.

Tazkia tidak dibenci karena ia buruk. Ia dibenci karena ia dicintai.

*Di Rumah Nenek, Semuanya Berubah*
Setelah lulus SMA, Tazkia akhirnya tinggal bersama neneknya. Di sinilah, untuk pertama kali dalam waktu yang sangat lama, ia merasa diutamakan. Dilihat. Dianggap ada.
Sang nenek tidak setengah-setengah: setiap hari ada pertanyaan yang tulus, ada kehadiran yang tidak perlu dibuktikan lebih dulu. Trauma yang dua belas tahun mengunci mulut Tazkia perlahan mulai melonggar.

“Sekarang aku udah bisa ngomong apa yang aku rasain. Aku udah nggak takut lagi buat jujur. Dulu nggak kebayang bisa begini,” katanya.

Menurut Psikolog, Irsyad Muammar Haq menyampaikan apa yang dialami Tazkia bukan sekadar luka masa kecil, melainkan bentuk trauma kompleks yang berawal dari kehilangan beruntun di usia sangat dini.
“Di usia tiga tahun, anak sedang membangun rasa aman dan percaya terhadap dunia. Ketika figur utama hilang secara tiba-tiba, pondasi itu runtuh. Dunia tidak lagi terasa aman, melainkan mengancam,” jelasnya.
Namun di titik inilah, pemulihan Tazkia justru menemukan jalannya.

Irsyad menyebut bahwa dalam banyak kasus, satu relasi yang tepat dapat menjadi titik balik. Ia menyebutnya sebagai the power of one, kekuatan dari satu orang dewasa yang hadir secara konsisten dan suportif.
Apa yang dilakukan nenek Tazkia mungkin terlihat sederhana, tetapi secara psikologis bekerja sangat dalam.

Kehadiran yang tidak menghakimi, pertanyaan-pertanyaan kecil seperti “kamu lagi ngerasain apa?”, perlahan mengajarkan Tazkia untuk mengenali kembali emosinya.
“Anak yang lama hidup dalam kekerasan biasanya berada dalam mode waspada terus-menerus. Ketika ada relasi yang aman, tubuh dan pikirannya mulai belajar bahwa tidak semua hal harus ditakuti,” kata Irsyad.
Dalam ruang yang aman itu, Tazkia bukan hanya belajar berbicara. Ia belajar percaya lagi.

*Ketika Satu Orang yang Tepat Sudah Cukup, Tapi Tidak Semua Anak Punya Nenek*
Yang dilakukan nenek Tazkia sederhana: hadir, bertanya, tidak pergi. Tapi dalam pemulihan trauma, hal-hal yang tampak sederhana itu justru yang paling mendasar.
Psikolog anak Astrid WEN menegaskan bahwa pemulihan trauma perlu dilakukan dengan pendekatan yang aman, konsisten, dan berbasis relasi. (Kompas) Persis itulah yang diberikan sang nenek, tanpa tahu namanya, tanpa pernah membaca satu pun jurnal psikologi.

Psikolog Aulia yang menangani kasus kekerasan pada anak menekankan bahwa anak yang pernah mengalami trauma sangat membutuhkan rasa aman kembali, dan peran keluarga sangat penting dalam memberikan perlindungan itu. (Radartasik)
Tazkia beruntung. Ia punya nenek. Tapi pertanyaan yang lebih besar kemudian muncul: bagaimana dengan anak-anak yang tidak punya satu pun?

Indonesia mencatat populasi anak sekitar 88,7 juta jiwa, sepertiga dari total penduduk. (Universitas Gadjah Mada) Dari puluhan juta itu, berapa yang tumbuh dalam kekerasan tanpa ada satu orang dewasa pun yang bertanya, kamu baik-baik saja?

Negara sebenarnya telah menyiapkan jawabannya. UPTD PPA, Unit Pelaksana Teknis Daerah Perlindungan Perempuan dan Anak, dibentuk pemerintah daerah untuk memberikan layanan bagi anak yang mengalami kekerasan, diskriminasi, dan masalah perlindungan khusus. (Abbott) Di atas kertas, lembaga inilah yang seharusnya menjadi tempat berlindung bagi mereka yang tidak punya nenek.

Kenyataannya tidak semulus itu. Dari sekitar 500 kabupaten dan kota yang menjadi target, hingga pertengahan 2025 baru 355 yang telah memiliki UPTD PPA. Keterbatasan anggaran dan kondisi geografis membuat banyak korban sulit menjangkau layanan yang ada. (Radartasik) Dan bagi yang secara geografis bisa menjangkaunya pun, 64,2 persen masyarakat mengaku tidak mengetahui keberadaan UPTD PPA. (Pradnyagama)
Tazkia selamat bukan karena sistem bekerja. Ia selamat karena ada satu orang yang kebetulan masih ada dan masih mau membuka pintu.

*Foto Itu, dan Pertanyaan yang Tidak Ikut Terlipat*
Tazkia meletakkan foto itu di atas meja. Tidak kembali ke laci.
Ia belum sepenuhnya sembuh. Masih ada hari-hari ketika kata-kata tersangkut di tenggorokan, masih ada pertanyaan tentang siapa dirinya jika enam tahun itu tidak pernah terjadi. Pertanyaan yang mungkin tidak akan pernah benar-benar terjawab.
“Aku masih belajar,” katanya pelan. “Tapi aku tahu: aku bukan anak kecil itu lagi. Dan aku nggak harus pura-pura dia nggak pernah ada.”

Di luar jendela kamar nenek itu, ada anak-anak lain yang belum selamat. Yang masih di dalam rumah yang salah, di tangan yang salah. Yang tidak punya nenek, tidak punya siapa pun, tidak punya ke mana harus pergi.
Gunung es itu tidak akan mencair. Ia hanya akan terus tumbuh, dalam diam, di balik pintu-pintu yang tidak pernah ada yang mengetuknya. Selama pertanyaan itu belum terjawab.

*kalau Tazkia butuh seorang nenek untuk bisa selamat, lalu siapa yang akan jadi nenek bagi mereka yang tidak punya satu pun?*

Ditulis oleh: Muhamad Deril, Muhammad Farhan Adi Nugroho, Fairuz Husna Lana. Mahasiswa Prodi Sains Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Djuanda Bogor

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *