Jakarta, Pelita Baru
Kesepakatan tarif timbal balik atau resiprokal antara Indonesia dengan Amerika Serikat (AS) telah terwujud. Negosiasi yang lama, akhirnya berbuah manis bagi Bumi Nusantara. Di mana Indonesia dikenakan tarif impor 19 persen untuk produk yang masuk ke negara Paman Sam.
Namun, tak ada gading yang tak retak, keberhasilan ini justru diwarnai kekhawatiran. Banyak pertanyaan menggantung bagi publik, pebisnis, maupun pelaku usaha kecil terkait efek dari kesepakatan dagang ini.
Menyikapi hal ini, Presiden Prabowo Subianto memastikan, pemerintah tetap menekankan komitmen menjaga iklim usaha yang kondusif melalui kepastian regulasi, penegakan hukum, dan tata kelola pemerintahan yang baik.
“Bagi pemimpin bisnis, kepastian adalah hal paling utama. Tidak ada yang mau investasi di situasi atau atmosfer yang dipenuhi ketidakpastian, ketidakstabilan, atau bahkan kekacauan,” tegasnya dalam keterangan pers, dilansir Minggu (22/2/2026).
Menurut Prabowo, kesepakatan yang terjalin tetap pada upaya mencapai kesepakatan perdagangan yang adil dan saling menguntungkan bagi Indonesia dan Amerika Serikat. “Intinya kita kan termasuk yang mungkin paling lama ya berunding soal tarif itu, perdagangan. Tapi baguslah hasilnya,” imbuh Prabowo.
Prabowo menambahkan, Indonesia termasuk salah satu negara yang paling lama berunding terkait isu tarif dan perdagangan dengan Amerika Serikat. Bahkan, Indonesia juga disebut menjadi satu-satunya negara anggota Dewan Perdamaian atau Board of Peace (BoP) yang melakukan pertemuan bilateral dengan Presiden Trump.
Dalam kesempatan itu tersebut, Prabowo memaparkan bahwa Indonesia memiliki sumber daya alam yang melimpah sekaligus strategis. Namun, menurutnya, daya tarik investasi Indonesia tidak hanya bertumpu pada kekayaan alam, melainkan juga pada agenda percepatan industrialisasi yang tengah dijalankan pemerintah.
“Kami sangat terbuka dengan investasi. Kami butuh investasi dan kami ingin lebih banyak investasi. Kami yakin bahwa kami kompetitif dan menarik,” ujar Prabowo.
Ia menjelaskan, Indonesia memiliki cadangan mineral kritis seperti nikel, tembaga, dan bauksit yang menjadi komponen penting bagi pengembangan teknologi masa depan, termasuk kendaraan listrik dan industri berbasis energi terbarukan.
“Saya kira kami memiliki kekuatan di mineral kritis. Saya juga mendapat laporan bahwa Indonesia adalah salah satu negara dengan cadangan tanah jarang terbesar di dunia,” imbuhnya.
Selain potensi sumber daya, pemerintah juga mendorong hilirisasi sebagai strategi utama meningkatkan nilai tambah. Prabowo mencontohkan peran Badan Pengelola Investasi Danantara (BPI Danantara) yang akan memulai 18 proyek hilirisasi tahun ini.
Salah satu proyek yang disiapkan adalah pengolahan sampah menjadi energi dengan nilai investasi mencapai Rp50,4 triliun atau sekitar USD 3 miliar.
“Kami terus bergerak di hilirisasi industri, di mana Danantara menjadi motor penggerak utamanya. Kami bergerak sangat cepat di sektor-sektor tersebut,” jelas dia.
Berdasarkan berbagai potensi tersebut, Prabowo berharap perusahaan-perusahaan asal AS tidak hanya melihat Indonesia sebagai pasar atau tujuan investasi semata, melainkan juga sebagai basis produksi strategis di kawasan Asia Tenggara.
Ia menilai skala ekonomi Indonesia yang besar menjadi faktor penting dalam perhitungan investasi jangka panjang.
Sebelumnya, Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menyatakan Presiden Prabowo Subianto satu-satunya kepala negara yang melakukan bilateral dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump di tengah agenda Board of Peace di Washington DC, AS, Kamis (19/2).
“Kemarin ada lebih dari 15 kepala negara dan pemerintah, begitu ya. Jadi, kemudian satu-satunya kepala negara yang melakukan bilateral dengan Presiden Trump itu salah satunya dan satu-satunya adalah Presiden Prabowo,” kata Teddy di Hotel Four Seasons, Washington DC, Amerika Serikat, Jumat (20/2/2026).
Seskab menjelaskan dalam pertemuan bilateral itu turut ditandatangani perjanjian perdagangan antara Indonesia dan Amerika Serikat (AS). Dalam perjanjian tersebut, kata dia, disepakati tarif resiprokal (timbal balik) sebesar 19 persen untuk produk impor Indonesia. (fuz/*)












