Bogor, pelitabaru.com -Bank sampah Nanas genjot anggotanya untuk meningkatkan aktifitas rutin dan aktif menjadi nasabah tabungan bank sampah. Bahkan, saat saldo nasabah mencapai hingga Jutaan Rupiah per orang dalam kurun waktu satu tahun.
Bank Sampah yang terletak di Perumahan Gunungputri Permai, Jalan Nanas X RT 07/12, Desa Karanggan Kecamatan Gunungputri berdiri sejak 15 Januari 2018, hingga saat ini aktif mengelola sampah warga.
Ketua Bank Sampah Nanas, Basuki Rahmat, mengatakan jumlah anggotanya telah mencapai 276 nasabah, dan jumlah tersebut terus bertambah sebagai wujud kepedulian terhadap lingkungan yang bersih dan sehat.
“Dua minggu sekali kita rutin menimbang sampah anorganik yang volume sampah rata rata perbulan 1200 – 1600 kilogram. Sedangkan sampah daur ulang dijadikan bahan pembuatan topi, vas bunga, tempat tissue dan tas, bahannya dari bungkus kopi dan kertas,” ungkapnya, Jumat (26/6/2026).
Ia juga mengatakan semua jenis sampah dikelola dan dimanfaatkan sesuai prinsip ramah lingkungan, meskipun masih terdapat kendala yaitu pemasaran dan marketnya cukup sulit. Solusinya rutin mengikuti ajang pameran maupun event.
Tak sampai disitu, Bank Sampah Nanas juga menerapkan Buku Tabungan Bank Sampah yang dinilai cukup efektif. “Rata-rata Saldo Nasabah Bank Sampah dalam satu tahun bervariasi antara Rp500 Ribu hingga Rp2 Juta. “Ini untuk memotivasi warga untuk swakelola sampah,” jelasnya.
Sementara, Kepala Bidang Pengendalian Pencemaran dan Kemitraan DLH Kabupaten Bogor, Muji Lestari, ST, M.T., membenarkan masih kurangnya kepedulian warga dalam mengelola sampah, sehingga diperlukan inovasi untuk memotivasi warga dalam swakelola sampah mulai dari sampah yang diproduksi rumah tangga.
“Inovasi yang dilakukan seperti Buku Tabungan Bank Sampah dalam rangka memotivasi masyarakat untuk mengelola dan mengurangi sampah dibuang ke lingkungan / TPA dengan memilah.
Tujuannya supaya masyarakat sadar dan pengurangan sampah yang masuk ke TPA/ lingkungan,” jelasnya.
Ia menyampaikan realisasi dari berbagai inovasi mampu meningkatkan jumlah bank sampah dan bertambahnya jumlah masyarakat yang memilah, sehingga terjadi peningkatan pengurangan sampah dari rumah tangga.
“Mengenai buku tabungan bank sampah, nantinya jika sudah penuh dapat meminta kembali ke pengurus bank sampah setempat. Buku ini diberikan kepada bank sampah sebagai stimulus. Pengelola bank sampah diperbolehkan memperbanyak dengan cara fotocopy untuk kebutuhan selanjutnya,” tutupnya. (Sab)












