Jakarta, Pelita Baru
Presiden Prabowo Subianto menyampaikan tiga pesan penting untuk dunia. Tiga pesan itu tak hanya menjadi gambaran jelas Indonesia dalam menunjukan visinya untuk memperkuat tata kelola global yang inklusif sekaligus menyatukan suara negara-negara berkembang dalam memperjuangkan kepentingan dan masa depannya tapi juga kian memperkuat posisi Nusantara di mata dunia.
“Kehadiran Presiden Prabowo dalam forum (Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) BRICS 2026 di New Delhi-red) tersebut, perlu dipahami sebagai bagian dari pelaksanaan tugas konstitusional sekaligus upaya memperkuat kepentingan masyarakat di dalam negeri,” kata Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) Muhammad Qodari, Selasa (15/9/2026).
Menurut Qodari, dalam sesi tertutup forum tersebut, Prabowo menegaskan posisi mandiri Indonesia. Ia menyatakan bahwa bangsa ini tidak ingin didikte oleh kekuatan mana pun di dunia.
Kemampuan berdiri di atas kaki sendiri harus dibangun dari dalam negeri melalui pemenuhan pangan dan ketahanan energi. Selain itu, sektor pendidikan serta kesempatan kemakmuran bersama juga menjadi fondasi utamanya.
Qodari menjelaskan bahwa diplomasi ini sejalan dengan prinsip politik luar negeri bebas aktif. Indonesia berkomitmen untuk tumbuh bersama tanpa memihak atau bergantung pada satu poros tertentu.
Langkah menjajaki kerja sama dengan BRICS dinilai sangat strategis di tengah maraknya proteksionisme ekonomi global. Diversifikasi mitra menjadi kunci karena BRICS menguasai hampir separuh populasi dunia.
Keanggotaan negara-negara besar di dalamnya memberi Indonesia akses langsung ke jejaring ekonomi yang sangat luas. Qodari memastikan agenda luar negeri ini tidak mengabaikan perhatian Presiden terhadap urusan dalam negeri.
Pemerintah berjanji akan terus mengawal realisasi dari setiap kesepakatan yang dihasilkan dalam forum tersebut. Hal ini dilakukan agar dampak positifnya bisa segera dirasakan secara nyata oleh masyarakat.
“Karena pada akhirnya, ukuran keberhasilan diplomasi bukanlah seberapa banyak pertemuan yang terlaksana, melainkan seberapa besar manfaatnya dapat dirasakan oleh masyarakat,” kata Qodari.
Sebelumnya, Presiden Prabowo membawa tiga pesan utama Indonesia dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) BRICS 2026 di New Delhi, Republik India, pada Sabtu (12/9/2026).
Kemandirian dan ketahanan nasional, persatuan negara-negara Global South, serta penguatan kerja sama BRICS dan tata kelola global yang lebih adil menjadi pokok pandangan Indonesia yang disampaikan Kepala Negara dalam forum tersebut.
Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya dalam keterangan tertulisnya menyampaikan bahwa ketiga pesan tersebut ditekankan Presiden Prabowo saat menghadiri sesi terbatas bertajuk “Inclusive Global Governance and Strengthening Multilateralism”. Indonesia hadir dengan visi untuk memperkuat tata kelola global yang inklusif sekaligus menyatukan suara negara-negara berkembang dalam memperjuangkan kepentingan dan masa depannya.
Pesan pertama Presiden Prabowo menitikberatkan pada pentingnya kemandirian dan ketahanan nasional. Bagi Presiden, kemampuan suatu negara untuk berdiri kuat di tengah dinamika global harus dimulai dari kemampuannya memenuhi kebutuhan mendasar masyarakatnya.
“Kekuatan sebuah negara bermula dari kemampuannya memenuhi kebutuhan dasar rakyatnya—pangan, energi, dan pendidikan. Dengan fondasi yang kuat, Indonesia tidak akan bergantung atau mudah didikte oleh kekuatan tertentu,” ujar Seskab Teddy.
Fondasi tersebut menjadi penting bagi Indonesia untuk menentukan arah pembangunan dan kepentingan nasionalnya secara mandiri. Ketahanan pangan, energi, dan pendidikan tidak hanya berkaitan dengan kebutuhan domestik, tetapi juga menjadi modal bagi Indonesia untuk berdiri sejajar dan memainkan peran yang semakin aktif di tingkat global.
Pesan kedua yang dibawa Presiden Prabowo adalah pentingnya memperkuat persatuan negara-negara Global South. Kepala Negara mengangkat pepatah Indonesia sebagai pengingat bahwa kebersamaan merupakan kekuatan dalam menghadapi berbagai tantangan dunia.
“Mengutip pepatah ‘Bersatu kita teguh, terpecah kita runtuh’, Presiden mengingatkan kembali pentingnya spirit Konferensi Asia-Afrika. Negara-negara Global South kini berdiri setara untuk memperjuangkan kepentingan dan masa depannya sendiri,” ungkap Seskab Teddy.
Semangat Konferensi Asia-Afrika tersebut kembali mendapatkan relevansinya ketika negara-negara berkembang kini memiliki posisi yang semakin penting dalam perekonomian maupun geopolitik dunia. Persatuan menjadi modal untuk memastikan aspirasi dan kepentingan Global South mendapatkan tempat yang setara dalam menentukan arah tatanan global.
Pesan ketiga Presiden Prabowo menyoroti besarnya kekuatan BRICS yang mewakili separuh populasi dunia. Menurut Presiden, potensi tersebut harus diterjemahkan menjadi kolaborasi konkret yang mampu memberikan manfaat langsung, khususnya dalam membuka kesempatan pembangunan yang semakin luas bagi negara-negara berkembang.
“BRICS mewakili separuh populasi dunia. Kekuatan ini harus diubah menjadi kerja sama yang nyata: memperkuat ketahanan pangan dan energi, menghubungkan pasar, modal, teknologi, sumber daya, dan pengetahuan, serta membuka peluang pembangunan yang lebih besar bagi negara-negara berkembang,” tutur Seskab Teddy.
Sejalan dengan itu, Presiden Prabowo turut mendorong terciptanya tata kelola global yang lebih adil dan inklusif. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) harus tetap berada di pusat sistem multilateral dunia, tetapi pada saat yang sama perlu terus diperkuat agar mampu menjawab perubahan dan tantangan global.
“PBB harus tetap menjadi pusat sistem multilateral, namun perlu diperkuat agar lebih representatif, responsif, dan mampu menghadirkan hasil konkret bagi masyarakat dunia,” lanjut Seskab Teddy.
“Melalui keanggotaan di BRICS, Indonesia terus bergerak aktif mewujudkan tatanan dunia yang lebih adil, setara, dan damai bagi seluruh bangsa,” pungkas Seskab Teddy. (fuz/*)












