Kab Bogor, Pelita Baru
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bogor kini punya ikon baru. Tak hanya Tugu Pancakarsa, dibawah kepemimpinan Bupati Rudy Susmanto, Tegar Beriman kini juga punya Gapura Tri Tangtu Di Buana.
Gapura ini bukan sekedar gapura biasa. Tri Tangtu di Buana merupakan konsep yang berkaitan dengan tata pemerintahan dan kehidupan masyarakat Sunda. Konsep tersebut terdiri atas tiga unsur utama, yaitu Sang Prabu, Sang Rama, dan Sang Resi.
Dalam konsep ini, Sang Prabu dilambangkan sebagai Wisnu dan berperan sebagai pemimpin pemerintahan. Sang Rama dilambangkan sebagai Brahma dan mewakili kelompok masyarakat yang dituakan serta berfungsi sebagai perwakilan rakyat.
Adapun Sang Resi dilambangkan sebagai Iswara dan berperan sebagai kelompok cendekiawan, pendidik, dan pemuka agama yang bertugas memberikan tuntunan kepada masyarakat.
Ketiga unsur tersebut dipandang saling melengkapi dalam mewujudkan keselarasan kehidupan masyarakat dan penyelenggaraan pemerintahan. Konsep ini juga dikaitkan dengan nilai adil palamarta, bener, dan daulat yang menjadi landasan kehidupan bermasyarakat dan bernegara.
Atas dasar itu pula, Pemkab Bogor berencana membangun Gapura Tri Tangtu Di Buana di 40 Kecamatan yang ada di Bumi Tegar Beriman. “Sebagai ikon seperti di pintu gerbang pusat Pemerintahan Kabupaten Bogor karena di sana punya arti tersendiri,” kata Kepala Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman, dan Pertanahan (Disperkim) Kabupaten Bogor, Eko Mujiarto dikutip Kamis (16/7/2026).
Bahkan Eko mengatakan bahwa rencana pembangunan itu saat ini telah mulai dikerjakan di sekitaran Jalan Raya Jakarta-Bogor. “Desain gapura mini pada setiap gang itu seperti pintu masuk ke pusat Pemerintahan Kabupaten Bogor yang Alun-Alun Kabupaten Bogor,” ujar Eko.
Eko juga menjelaskan, dibangunnnya gapura Tri Tangtu Di Buana versi mini itu agar unsur kebudayaan di Kabupaten Bogor bisa terlihat dan terasa. Nantinya, kata Eko, pembangunan gapura mini tersebut tidak hanya dibangun di kawasan pusat pemerintahan, melainkan menyebar ke 40 kecamatan wilayah Kabupaten Bogor.
“Pak Bupati berharap setiap gang dengan adanya gapura mini bisa terus berkembang di 40 kecamatan,” paparnya.
Adapun, lanjut dia, pembangunan gapura mini dilakukan secara bertahap dengan menggunakan Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD).
“Tidak pakai CSR, tapi kalau ada beberapa perusahaan yang membantu mengeluarkan anggaran CSR ya tidak masalah, silahkan saja. Pembangunan ini kan pelaksanaannya menyesuaikan kemampuan di masing-masing wilayah,” tutupnya.
Diketahui, Tri Tangtu adalah cara berpikir masyarakat tradisional Sunda. Tri tangtu berasal dari bahasa Sunda, di mana kata tri atau tilu yang artinya tiga dan tangtu yang artinya pasti atau tentu.
Masyarakat tradisional Sunda memaknai tri tangtu sebagai falsafah hidup yang berpedoman pada tiga hal yang pasti yakni; Batara Tunggal yang terdiri dari Batara Keresa, Batara Kawasa dan Batara Bima Karana.
Cara berpikir dalam pola pembagian tiga adalah umum untuk masyarakat Indonesia,karena orang Indonesia hidup dalam pertanian ladang. Dalam pandangan hidup orang Sunda, ditegaskan bahwa orang Sunda tidak mengandalkan keyakinan hidupnya itu pada kekuatan diri sendiri saja, melainkan pada kuasa yang lebih besar, pengguasa tertinggi, sumber dan tujuan dari segalanya, yang disebut dengan berbagai nama, antara lain Gusti Nu Murbeng Alam. (cok/*)












