Bogor, Pelitabaru.com – Tim PRIME STeP IPB 2026 melalui program ECO-CREATE Bogor: Pengelolaan Lingkungan Inklusif Berbasis Circular Economy untuk Pengembangan Komunitas di Kelurahan Mulyaharja, melaksanakan kegiatan Pelatihan Urban Farming melalui Budikdamber (Budidaya Ikan dalam Ember) di Posyandu Kelurahan Mulyaharja, Kota Bogor, pada Kamis (27/8/2026).
Kegiatan ini merupakan salah satu rangkaian program PRIME STeP 2026 dalam memberikan edukasi dan pemberdayaan masyarakat melalui penerapan urban farming yang praktis, hemat lahan, dan ramah lingkungan. Melalui pelatihan ini, masyarakat diperkenalkan dengan Budikdamber sebagai salah satu alternatif budidaya pangan yang memungkinkan pemeliharaan ikan dan penanaman sayuran dilakukan secara bersamaan dengan sarana sederhana.
Pelatihan diikuti oleh masyarakat serta perwakilan komunitas yang ada di Kelurahan Mulyaharja. Kegiatan turut dihadiri oleh Lurah Mulyaharja Muslim Yuliantono, S.Sos., M.Si., Ketua Tim PRIME STeP IPB 2026 Dr. Doni Sahat Tua Manalu, S.E., M.Si., Anggota Tim PRIME STeP IPB 2026 Dr. Roza Yusfiandayani, S.Pi., Andini Tribuana Tunggadewi, S.E., M.Si., Wiranda Intan Suri, S.T., M.T., Kharisma Fitri Hapsari, S.E., M.Si., serta mahasiswa IPB University.
Kegiatan diawali dengan pembukaan oleh Lurah Mulyaharja Muslim Yuliantono, S.Sos., M.Si. Dalam sambutannya, Muslim menyampaikan apresiasi terhadap pelaksanaan kegiatan yang memberikan pengetahuan dan keterampilan praktis kepada masyarakat.
“Kami sangat mengapresiasi kegiatan ini karena memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk mengenal cara baru dalam menghasilkan pangan dari lingkungan sekitar. Kami berharap pengetahuan yang diperoleh dapat diterapkan dan dikembangkan oleh warga secara mandiri,” ujar Muslim.
Sementara itu, Ketua Tim PRIME STeP IPB 2026 Dr. Doni Sahat Tua Manalu, S.E., M.Si., mengatakan bahwa pelatihan Budikdamber merupakan bagian dari rangkaian ECO-CREATE yang tidak hanya berorientasi pada pengenalan teknologi sederhana, tetapi juga pada pemberdayaan masyarakat dan keberlanjutan program.
“Melalui kegiatan ini, kami ingin membangun pengalaman bersama antara tim, pemerintah kelurahan, kelompok masyarakat, dan warga. Jadi, masyarakat tidak hanya menjadi peserta, tetapi juga diharapkan dapat menjadi pelaku yang nantinya mampu mengembangkan praktik urban farming ini secara mandiri,” ujar Dr. Doni.

Dalam penyampaian materi, Dr. Roza Yusfiandayani, S.Pi., memperkenalkan metode Budikdamber sebagai sistem budidaya ikan yang dipadukan dengan penanaman sayuran. Sistem tersebut dapat diterapkan dengan peralatan sederhana dan relatif mudah.
“Dalam Budikdamber, yang perlu diperhatikan bukan hanya bagaimana ikan dipelihara, tetapi juga bagaimana sistemnya dijaga agar ikan dan tanaman dapat tumbuh dengan baik. Karena itu, peserta perlu memahami tahapan persiapan, pemeliharaan, pemberian pakan, dan pengelolaan air,” ujar Dr. Roza.
Dalam praktiknya, Budikdamber menggunakan ember sebagai wadah pemeliharaan ikan. Benih ikan lele kemudian dipelihara di dalam ember, sementara tanaman kangkung ditanam menggunakan net pot yang ditempatkan pada bagian atas ember.
Menurut Dr. Roza, pemilihan ikan dan tanaman dalam Budikdamber juga perlu disesuaikan dengan kondisi sistem yang digunakan. Perawatan secara rutin menjadi salah satu faktor penting agar ikan dan tanaman dapat berkembang dengan baik hingga masa panen.
“Peserta perlu memahami bahwa keberhasilan Budikdamber sangat bergantung pada perawatan. Pemberian pakan, kondisi air, kepadatan ikan, dan pertumbuhan tanaman perlu diperhatikan secara berkala,” katanya.
Peserta kemudian diperkenalkan dengan alat dan bahan yang dibutuhkan dalam pembuatan Budikdamber, antara lain ember, benih ikan lele, bibit sayuran kangkung, net pot, media tanam seperti rockwool, serta pakan ikan.
Pelatihan dilanjutkan dengan penjelasan mengenai tahapan pembuatan Budikdamber, mulai dari menyiapkan ember dan air, memasukkan benih ikan lele, menyiapkan bibit sayuran, hingga menempatkan net pot berisi tanaman pada bagian atas ember. Peserta juga diberikan pemahaman mengenai perawatan ikan, pemberian pakan, serta pemantauan kualitas air selama proses budidaya.
Selain itu, peserta mendapatkan penjelasan mengenai karakteristik ikan lele yang bersifat kanibal dan aktif pada malam hari. Karena itu, pemberian pakan dan pemantauan kondisi ikan perlu dilakukan secara tepat. Peserta juga diingatkan untuk memperhatikan kepadatan ikan, kualitas air, serta kondisi ikan selama masa pemeliharaan.
Melalui kegiatan ini, Tim PRIME STeP IPB 2026 berharap Budikdamber dapat menjadi salah satu alternatif urban farming yang mudah diterapkan masyarakat Mulyaharja. Sistem tersebut tidak hanya memberikan pengalaman baru dalam budidaya ikan dan sayuran, tetapi juga membuka peluang bagi masyarakat untuk menghasilkan pangan secara mandiri dari lingkungan tempat tinggalnya.
Penerapan Budikdamber juga sejalan dengan semangat ECO-CREATE dalam mendorong pengelolaan lingkungan berbasis ekonomi sirkular dan pemberdayaan masyarakat. Dengan memanfaatkan peralatan sederhana serta sumber daya yang tersedia, masyarakat didorong untuk menciptakan kegiatan produktif yang memberikan manfaat ekologis sekaligus ekonomi.
Antusiasme warga terlihat sepanjang kegiatan, baik saat mengikuti penyampaian materi maupun ketika terlibat langsung dalam sesi praktik. Diskusi berlangsung hangat dan interaktif dengan berbagai pertanyaan yang disampaikan peserta terkait penerapan Budikdamber di lingkungan rumah.
Kegiatan Pelatihan Urban Farming melalui Budikdamber kemudian ditutup dengan dokumentasi bersama yang melibatkan masyarakat, pihak Kelurahan Mulyaharja, Tim PRIME STeP IPB 2026, dan mahasiswa IPB University Jefri Harianto, S.Tr.T.L.; Muhammad Tsaqiful Rasyid, S.Tr.Bns.; Fauzaan Fadhlurrohman Madyananda, S.Tr.Bns.; Faishal Amri; Rosa Rina; dan Melsella Agustin.
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya bersama untuk memperkuat penerapan urban farming, pemanfaatan lahan terbatas, serta ketahanan pangan masyarakat di Kelurahan Mulyaharja. (adi/*)












